TRIBUNNEWS.COM - Tantangan global, seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, transformasi digital, hingga pergeseran kebutuhan dunia kerja menuntut hadirnya pemimpin yang mampu mengelola kompleksitas masa depan.
Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi tidak lagi hanya berperan sebagai pusat pendidikan dan riset, tetapi juga sebagai institusi yang membentuk karakter, kepemimpinan, serta solusi yang berdampak bagi masyarakat.
Isu itu menjadi fokus dalam Global Sustainable Development Congress (GSDC) 2026, forum internasional tahunan kelima yang mempertemukan pemimpin pendidikan tinggi, dunia riset, pemerintah, industri, dan berbagai pemangku kepentingan global untuk mempercepat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Diselenggarakan di ICE BSD, Tangerang, pada Senin (22/6/2026) hingga Kamis (25/6/2026), forum ini menjadi ruang dialog mengenai masa depan pendidikan dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam forum internasional tersebut, Presiden Universitas Pelita Harapan (UPH) Dr Stephanie Riady BA MEd tampil sebagai salah satu pembicara dalam sesi bertajuk “What Should Educational Leadership for Sustainability Look Like?”.
Kehadiran Dr Stephanie mencerminkan relevansi perspektif pendidikan yang diusung UPH dalam diskusi global mengenai kepemimpinan pendidikan untuk keberlanjutan.
Baca juga: 18 Tim Terbaik Bersaing di Campus League Basketball The Nationals 2026 di UPH
Pada sesi itu, Dr Stephanie menekankan bahwa kepemimpinan pendidikan perlu dipahami sebagai proses kolaboratif yang melibatkan pendidik, mahasiswa, dan masyarakat.
“Educational leadership harus dimulai dari kemampuan membangun kolaborasi yang memberdayakan pendidik, mahasiswa, dan masyarakat. Di tengah era disrupsi, pendidikan perlu bersikap adaptif untuk mempersiapkan talenta masa depan dan membangun sistem yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern,” ujar Dr Stephanie dalam siaran pers yang diterima Tribunnews.com, Rabu (24/6/2026).
Dalam paparannya, Dr Stephanie juga menyoroti pentingnya servant leadership sebagai pendekatan dalam pendidikan masa depan. Menurutnya, kepemimpinan harus dipahami sebagai upaya untuk mengembangkan orang lain sekaligus memberikan dampak bagi masyarakat.
“Di UPH, kami percaya pada konsep servant leadership yang menekankan tanggung jawab untuk membawa dampak bagi masyarakat. Kepemimpinan bukan hanya tentang memimpin orang lain, tetapi juga tentang mengembangkan mereka melalui pendidikan yang membentuk karakter, membantu menemukan tujuan hidup, dan mendorong lahirnya agen perubahan bagi komunitas,” kata Stephanie.
Ia menjelaskan bahwa komitmen tersebut diwujudkan UPH melalui berbagai program pembelajaran berbasis pengalaman. Salah satunya adalah program Service Learning Community (SLC) yang setiap tahun melibatkan lebih dari 900 mahasiswa dalam proyek kesehatan, pendidikan, dan keberlanjutan lingkungan.
Program tersebut juga menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi dan memberikan dampak nyata.
Baca juga: Tim Basket UPH Bersinar di Campus League Regional Jakarta 2026 dan Melaju ke The Nationals
“Pendidikan membentuk manusia, penelitian menghasilkan solusi, dan pengabdian kepada masyarakat memastikan manfaat nyata. Ketiganya saling terhubung dalam satu siklus yang utuh,” tutur Dr Stephanie.
Selain menyoroti pentingnya kepemimpinan yang melayani, Dr Stephanie juga menekankan bahwa pengembangan talenta masa depan perlu didukung oleh kepemimpinan yang inklusif. Menurutnya, pendidikan harus membuka ruang bagi beragam gaya kepemimpinan untuk berkembang.
“Satu hal yang saya pelajari adalah bahwa potensi tidak selalu terlihat secara langsung. Ada orang yang memimpin dengan rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi yang kuat, tetapi ada juga yang menunjukkan kepemimpinan melalui kebijaksanaan, konsistensi, empati, dan pelayanan,” ungkap Dr Stephanie.
Dr Stephanie menambahkan, pendidikan perlu memberikan kesempatan yang setara bagi setiap individu untuk berkembang dan mengambil peran kepemimpinan. Untuk mewujudkan hal tersebut, UPH membangun ekosistem pengembangan kepemimpinan yang terstruktur bagi dosen ataupun mahasiswa.
Bagi dosen, pengembangan dilakukan melalui jalur kompetensi, mentoring, pengembangan profesional, serta berbagai kesempatan kepemimpinan di berbagai bidang. Sementara itu, bagi mahasiswa, kepemimpinan dibangun sejak dini melalui program mentoring sebaya (peer mentoring), riset, serta berbagai peluang pengembangan di beragam bidang, termasuk STEM.
Lebih lanjut, Dr Stephanie menggarisbawahi bahwa salah satu tantangan utama pendidikan saat ini adalah memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan industri dan sistem pendidikan yang perlu dijembatani.
Baca juga: UPH Luluskan 4.000 Wisudawan dan Beri Gelar Doktor Honoris Causa bagi Pelopor Pendidikan Papua
“Universitas perlu bergerak menjadi penghubung antara pendidikan, industri, dan inovasi. UPH sendiri terus memperkuat peran tersebut melalui pengembangan kurikulum lintas disiplin, kemitraan dengan lebih dari 150 mitra industri, penguatan riset terapan, pengembangan startup mahasiswa, program magang, dan berbagai inisiatif pembelajaran berbasis pengalaman nyata,” terangnya.
Upaya itu diperkuat melalui tiga fokus utama. Pertama, penyelarasan pendidikan dengan kebutuhan industri dan masyarakat melalui pembelajaran kontekstual, seperti project-based learning, magang, dan capstone project.
Kedua, pengembangan pembelajaran multidisiplin di bidang-bidang baru seperti hukum dan teknologi, kecerdasan buatan dan kesehatan, serta data science dan kebijakan publik.
Ketiga, penguatan kemitraan pemerintah, industri, dan institusi pendidikan melalui skema public-private partnership.
Berbagai inisiatif turut mendukung implementasi strategi tersebut, di antaranya STEM Indonesia Cerdas yang menjangkau 10 juta siswa dan 1 juta guru, Center for Teaching and Learning untuk pengembangan dosen, dan Campuspreneur yang mendorong lahirnya wirausaha muda berorientasi ekspor.
Selanjutnya, Human Development Training untuk penguatan kapasitas sumber daya manusia, Sparklabs Incubation bagi pengembangan startup mahasiswa, serta UPH Investment Gallery bersama Sucor Sekuritas yang memperkuat literasi dan pengalaman investasi mahasiswa di pasar modal.
Baca juga: UPH Gelar Media Gathering 2026: Rayakan Semangat Kebersyukuran, Perkuat Kolaborasi Siap Berdampak
Menutup sesinya, Dr Stephanie mengajak para pemimpin pendidikan untuk melihat lima tahun ke depan sebagai peluang memperkuat sistem pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Kepemimpinan yang transformatif berarti menjadi pemimpin yang melayani. Kita perlu membangun sistem pendidikan bersama pendidik, mahasiswa, dan masyarakat, serta membuka ruang bagi beragam perspektif untuk menciptakan masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ujar Dr Stephanie.
Ia menambahkan bahwa transformasi pendidikan tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan sinergi antara pemerintah, industri, dan institusi pendidikan.
Melalui kolaborasi tersebut, pengembangan talenta dapat lebih selaras dengan kebutuhan dunia kerja. Pembelajaran multidisiplin, pengalaman berbasis praktik, serta kemitraan lintas sektor menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.
Kepercayaan global yang diberikan kepada UPH melalui representasi Dr Stephanie Riady pada GSDC 2026 mencerminkan pengakuan internasional terhadap perspektif pendidikan yang diusung universitas tersebut.
Perspektif itu menempatkan pendidikan bukan hanya sebagai sarana membangun kompetensi, tetapi juga membentuk karakter, kepemimpinan, dan komitmen untuk melayani sesama.
Komitmen tersebut terus diwujudkan melalui pendidikan holistis yang diterapkan UPH dalam mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang unggul, takut akan Tuhan, dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Baca juga: Kementerian Kebudayaan Tetapkan Museum UPH Jadi Bagian dari Museum Nasional Indonesia