BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Di tengah hamparan kebun sawit yang menjadi penopang ekonomi warga, transformasi layanan keuangan digital perlahan mengubah cara masyarakat desa mengelola pendapatan mereka. Salah satunya dirasakan oleh Suhardi, petani sawit sekaligus Wakil Ketua Koperasi Plasma Desa Kacang Butor, Kabupaten Belitung.
Bagi Suhardi, kehadiran teknologi perbankan digital melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI) bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan bagian penting dari denyut ekonomi sehari-hari warga desa. Melalui aplikasi BRImo, ia kini dapat memantau hingga melakukan berbagai transaksi keuangan tanpa harus datang ke kantor cabang.
Suhardi menuturkan, koperasi plasma yang menaungi para petani di desanya menjadi salah satu penggerak ekonomi utama. Di bawah kemitraan dengan perusahaan perkebunan sawit PT Agro Makmur Abadi, masyarakat rutin menerima hasil kontribusi setiap bulan yang langsung ditransfer ke rekening masing-masing anggota.
"Sekarang lebih mudah. Setiap bulan kami sudah tahu ada pemasukan dari koperasi dan perusahaan, dan semuanya masuk lewat transfer. Lewat BRImo saya bisa langsung cek kapan saja uangnya masuk," ujar Suhardi, kepada Bangkapos.com, Rabu (24/6/2026)
Menurutnya, perubahan sistem transaksi ini membawa dampak besar bagi masyarakat desa yang sebelumnya bergantung pada proses manual. Kini, tidak hanya lebih cepat, tetapi juga lebih transparan dan mudah dipantau.
BRImo juga membuat Suhardi semakin terbiasa dengan layanan digital perbankan. Ia mengaku telah lama menjadi nasabah BRI, namun kehadiran aplikasi mobile banking tersebut membuat aktivitas finansialnya semakin efisien.
"Kalau dulu harus ke bank atau nunggu informasi, sekarang tinggal buka HP saja. Lebih sat set, anti ribet. Kalau mau ambil uang di desa tetap pakai BRILink," katanya.
Tak hanya untuk mengecek dana masuk dari hasil sawit, BRImo juga digunakan Suhardi untuk berbagai kebutuhan harian, mulai dari pembelian pulsa, pembayaran token listrik, hingga transfer dana kepada keluarga maupun mitra kerja.
Ia menilai, digitalisasi layanan perbankan seperti BRImo menjadi bukti bahwa masyarakat desa tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi. Justru, menurutnya, teknologi hadir untuk mempercepat akses dan mempermudah kehidupan ekonomi masyarakat di pelosok.
"Meski tinggal di desa, kita jangan sampai ketinggalan teknologi. Justru harus ikut maju. Di BRImo semua bisa, beli pulsa bisa, token PLN bisa," ujarnya menegaskan.
Kehadiran layanan digital BRI di wilayah seperti Belitung menjadi salah satu contoh bagaimana inklusi keuangan terus diperluas hingga ke sektor pertanian dan perkebunan rakyat.
Bagi Suhardi dan para petani lainnya, perubahan ini bukan sekadar soal kemudahan transaksi, tetapi juga tentang peningkatan kualitas hidup dan efisiensi waktu dalam mengelola hasil kebun mereka.
Sementara itu, Assistant Manager Operasional BRI Tanjungpandan, Sigit Sriharto, mengatakan pihaknya menerapkan strategi hybrid bank, yakni kombinasi layanan perbankan konvensional dengan ekosistem digital untuk menjangkau masyarakat desa, khususnya petani sawit plasma.
Menurut Sigit, pendekatan tersebut menjadi penting karena karakter masyarakat pedesaan masih membutuhkan sentuhan layanan langsung, namun di saat yang sama mulai beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
"Strategi kami adalah menghadirkan layanan yang tetap dekat secara fisik, tetapi juga mendorong adopsi digital. Jadi masyarakat memiliki banyak pilihan dalam bertransaksi," ujar Sigit kepada Bangkapos.com, Selasa (24/6/2026).
Salah satu ujung tombak strategi tersebut adalah penguatan jaringan AgenBRILink. BRI menempatkan agen di titik-titik strategis desa plasma, termasuk bekerja sama dengan pemilik warung, pengurus koperasi, hingga pengepul sawit.
Keberadaan AgenBRILink ini menjadi semacam mini bank yang memudahkan masyarakat melakukan transaksi tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke pusat kota.
Di sisi digital, penggunaan aplikasi BRImo di kalangan petani sawit Belitung juga menunjukkan tren positif.
Sigit mengungkapkan, tingkat adopsi BRImo saat ini mengalami pertumbuhan yang cukup pesat, terutama di kalangan petani muda, pengurus koperasi, dan pelaku usaha sawit yang sehari-hari membutuhkan transaksi cepat.
Mereka aktif memanfaatkan BRImo untuk mengecek mutasi rekening, memantau pembayaran hasil panen, mentransfer upah pekerja, hingga membayar berbagai tagihan bulanan.
"Generasi muda dan pengurus koperasi relatif cepat beradaptasi dengan layanan digital karena mereka melihat manfaatnya secara langsung, lebih cepat, praktis, dan efisien," katanya.
Hal tersebut sejalan dengan pengalaman Suhardi, petani sawit sekaligus Wakil Ketua Koperasi Plasma Desa Kacang Butor, yang merasakan langsung manfaat BRImo dalam aktivitas keuangannya.
Melalui aplikasi tersebut, Suhardi dapat memantau transfer hasil kontribusi dari koperasi dan perusahaan sawit secara real time. Ia juga memanfaatkan BRImo untuk kebutuhan sehari-hari seperti transfer dana, membeli pulsa, hingga pembayaran token listrik.
Namun demikian, perjalanan menuju digitalisasi penuh bukan tanpa tantangan.
Sigit mengakui masih terdapat sejumlah hambatan di lapangan. Salah satunya adalah budaya masyarakat yang masih sangat bergantung pada uang tunai.
Petani kerap membutuhkan uang tunai secara cepat untuk membayar buruh panen, membeli pupuk eceran, maupun memenuhi kebutuhan harian di pasar desa yang sebagian belum menggunakan QRIS.
Sigit menegaskan, transformasi digital yang dilakukan BRI bukan semata menghadirkan aplikasi perbankan, tetapi membangun ekosistem yang mampu mempercepat perputaran ekonomi desa.
"Tujuan akhirnya bukan sekadar transaksi digital, tetapi bagaimana layanan keuangan bisa benar-benar menjadi penggerak ekonomi masyarakat hingga ke pelosok," tuturnya. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)