Baru Tiga Bulan, Penahan Ombak Pantai Pangiang Pasangkayu Mulai Rusak, Abrasi Ancam Tambak Warga
Nurhadi Hasbi June 24, 2026 12:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU - Penahan ombak sederhana berupa tumpukan karung berisi pasir di Pantai Pangiang, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, mulai tertimbun pasir meski baru dibangun hampir tiga bulan.

Penahan ombak sementara tersebut dibuat warga bersama Pemerintah Desa Pangiang sebagai upaya darurat mengurangi dampak abrasi yang terus mengikis garis pantai.

Namun, kondisi terbaru menunjukkan struktur tersebut mulai mengalami kerusakan akibat terjangan ombak dan paparan cuaca.

Baca juga: Tembok DPRD Sulbar Dicoret Massa Aksi, Munandar: Itu Hal yang Biasa

Baca juga: Pasangakayu Banjir Durian, Harga Hanya Rp5 Ribu per Biji

Penahan Ombak Sementara Belum Mampu Hentikan Abrasi

Pantauan Tribun-Sulbar.com di lokasi, Rabu (24/6/2026), deretan karung berwarna putih dan biru masih terlihat membentang di sepanjang bibir pantai.

Sebagian besar karung sudah tertimbun pasir. Beberapa bagian lainnya tampak robek akibat hantaman gelombang laut.

Di sekitar lokasi juga terlihat bekas tanggul yang mengalami kerusakan. Sejumlah bagian tanggul tampak retak dan patah.

Batu gajah yang tersisa di belakang tanggul sebagai pemecah ombak juga dinilai belum mampu menahan kuatnya gelombang, terutama saat musim ombak besar.

Abrasi masih terlihat terjadi di sepanjang pesisir Pantai Pangiang. Sejumlah pohon di tepi pantai tampak miring dengan akar yang mulai terbuka akibat terkikis air laut.

Warga setempat khawatir kondisi tersebut akan semakin parah jika tidak segera mendapat penanganan permanen.

Junaedi, warga Desa Pangiang, mengatakan air laut kerap naik hingga ke badan jalan saat musim ombak besar.

"Kalau ombak besar, air laut sering sampai ke jalan. Bahkan kadang jalan tidak bisa dilalui karena tertutup air dan pasir yang terbawa ombak," ujarnya.

Menurutnya, jalan tersebut merupakan satu-satunya akses warga menuju jalan poros Trans Sulawesi.

Saat gelombang tinggi terjadi, aktivitas masyarakat terganggu karena kendaraan kesulitan melintas.

Selain menggenangi jalan, air laut juga membawa material pasir hingga menutupi badan jalan.

Ancaman abrasi juga dirasakan pemilik tambak udang yang berada tidak jauh dari garis pantai.

Warga khawatir pengikisan pantai yang terus terjadi dapat merusak tanggul tambak dan mengancam usaha budidaya yang menjadi sumber penghasilan masyarakat.

Junaedi menyebut, kerusakan akibat abrasi sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan, sebuah gazebo yang sebelumnya berdiri di tepi pantai kini sudah hilang akibat dihantam ombak.

"Dulu ada gazebo di depan pantai, tapi sekarang sudah hancur karena ombak. Setiap tahun abrasi terus bertambah," katanya.

Ia berharap pemerintah segera membangun pengaman pantai permanen agar abrasi tidak semakin meluas dan mengancam permukiman, jalan, serta tambak warga.

Sementara itu, penahan ombak dari karung pasir yang dibuat secara swadaya dinilai hanya menjadi solusi sementara.

Warga berharap kondisi Pantai Pangiang mendapat perhatian pemerintah melalui penanganan jangka panjang untuk melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi yang terus terjadi setiap musim ombak besar.(*)

Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.