SURYA.CO.ID, SURABAYA – Pengalaman mendampingi pasien anak dan keluarganya menjadi bekal berharga bagi drg. R. Sabda Alam, Sp.KGA., M.M. dalam menapaki dunia kepemimpinan.
Nilai komunikasi, empati, dan kepercayaan yang ia pelajari selama menjadi dokter spesialis kini diterapkan untuk menggerakkan lingkungan akademik.
Perjalanan karier Sabda Alam menunjukkan bahwa ilmu yang diperoleh dari pendidikan spesialis tidak hanya relevan dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga mampu membentuk karakter kepemimpinan yang kuat.
Alumni Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Ilmu Kedokteran Gigi Anak (PPDGS IKGA) Universitas Airlangga periode 2001–2005 tersebut kini dipercaya mengemban amanah sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).
Bagi Sabda Alam, pendidikan spesialis kedokteran gigi anak telah membentuk cara pandangnya dalam memahami perilaku manusia, membangun hubungan yang sehat, serta menumbuhkan rasa percaya. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi yang ia terapkan baik saat melayani pasien maupun ketika memimpin institusi pendidikan.
Baca juga: Sosok drg Satiti, Guru Besar yang Tetap Mengajar Meski Sudah Purna Tugas dari Unair
Ia menegaskan bahwa bidang kedokteran gigi anak memiliki tantangan yang khas dan membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan penanganan pasien dewasa.
"Kedokteran gigi anak memiliki kompleksitas tinggi dan bukan sekadar versi kecil dari kedokteran gigi dewasa," ujarnya.
Menurut Sabda Alam, keberhasilan perawatan pasien anak tidak hanya bergantung pada tindakan klinis, tetapi juga kemampuan dokter dalam membangun komunikasi yang efektif dengan seluruh pihak yang terlibat.
"Menghadapi pasien anak menuntut keandalan komunikasi dua arah yang holistik, baik kepada anak selaku subjek maupun kepada orang tua demi keberhasilan perawatan jangka panjang," katanya.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena orang tua memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan perawatan dan kesehatan anak setelah meninggalkan ruang praktik.
Pengalaman berinteraksi dengan pasien dan keluarga pasien selama bertahun-tahun kemudian membentuk pola kepemimpinan yang kini ia terapkan di lingkungan fakultas. Baginya, membangun hubungan yang sehat dalam organisasi tidak jauh berbeda dengan membangun kepercayaan saat mendampingi pasien.
Prinsip komunikasi yang terbuka, saling mendengar, dan memahami kebutuhan setiap individu menjadi landasan dalam menjalankan roda organisasi akademik.
Baca juga: Sosok drg Edra Brahmantya, Kembangkan Klinik dan Bisnis Keluarga di Surabaya Melalui Studi S3
"Sebagai pemimpin di ranah akademis, saya menerapkan prinsip komunikasi tersebut untuk membangun kepercayaan di lingkungan kerja agar visi strategis fakultas dapat diakselerasi bersama," tuturnya.
Menurutnya, kepercayaan atau trust merupakan fondasi utama dalam kepemimpinan. Ketika komunikasi berjalan terbuka dan seluruh elemen organisasi memiliki pemahaman yang sama terhadap tujuan yang ingin dicapai, maka kolaborasi akan tumbuh lebih kuat dan berbagai target strategis dapat diwujudkan secara bersama-sama.