TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi kondisi cuaca kering yang masih berpotensi terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Dikarenakan dengan kondisi cuaca kering ini dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan berdampak terhadap ketersediaan air baku yang menjadi sumber layanan air bersih atau krisis air bersih bagi warga.
Kepala BPBD Tarakan, Yonsep, mengatakan bagi masyarakat yang memiliki kebun maupun lahan harus lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas pembersihan lahan agar tidak memicu kebakaran yang dapat meluas hingga ke kawasan permukiman.
Bagi warga pemilik kebun dan lahan yang melakukan pembersihan dengan cara dibakar memiliki tanggung jawab untuk memastikan kegiatan yang dilakukan tersebut tidak menimbulkan dampak bagi lingkungan sekitar.
Baca juga: Sebulan Terakhir Ada 12 Titik Karhutla di Tarakan, Cuaca Kering dan Angin Kencang Picu Api Meluas
"Kalau mereka melakukan kegiatan pembersihan lahan, harus betul-betul menjaga lahan yang sudah terbuka itu. Jangan sampai nanti apalagi dekat pemukiman penduduk," ucap Yonsep.
Yonsep menegaskan, upaya pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat.
Ia menilai tanggung jawab pemilik lahan menjadi faktor penting untuk mencegah kebakaran yang lebih luas.
"Yang kita harapkan masyarakat juga harus memiliki tanggung jawab terhadap kebakaran lahan ini," lanjutnya.
Terkait kondisi cuaca saat ini, Yonsep membenarkan bahwa Tarakan sedang berada dalam fase cuaca kering.
Meski demikian, karakteristik cuaca di Kota Tarakan berbeda dengan daerah lain yang memiliki musim kemarau lebih panjang.
Baca juga: Musim Kering Mulai Terasa, Muncul 8 Titik Karhutla, BPBD Tarakan Soroti Kebiasaan Warga Bakar Lahan
Menurutnya, periode tanpa hujan di Tarakan umumnya tidak berlangsung lama, namun tetap dapat menimbulkan dampak yang cukup besar.
"Tarakan ini tidak seperti daerah lain. Tarakan paling lama dua minggu kering, tetapi dampaknya luar biasa. Walaupun hanya dua minggu tidak hujan," ujarnya.
Yonsep menjelaskan, sebagai wilayah kepulauan, kondisi cuaca di Tarakan sangat dipengaruhi oleh laut dan perairan yang mengelilingi wilayah tersebut.
Karena itu, perubahan cuaca dalam waktu singkat dapat memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan maupun ketersediaan sumber daya air.
Selain ancaman kebakaran lahan, BPBD juga memberikan perhatian terhadap potensi berkurangnya ketersediaan air baku selama periode cuaca kering berlangsung.
Menurut Yonsep, kebutuhan air merupakan salah satu sektor yang paling rentan terdampak ketika curah hujan mengalami penurunan.
"Kalau masuk dalam fase yang dikatakan kekeringan, salah satunya adalah penyediaan bahan baku air yang harus betul-betul terjaga. Itu yang harus dicermati baik oleh pengambil keputusan maupun masyarakat sendiri," katanya.
BPBD Tarakan mengimbau warga mulai menerapkan pola penggunaan air secara lebih bijak dan efisien selama kondisi cuaca kering berlangsung.
Menurut Yonsep, langkah sederhana berupa penghematan penggunaan air dapat membantu menjaga ketersediaan sumber air baku dalam jangka waktu lebih lama.
"Pertama, dalam kondisi seperti ini masyarakat harus bisa berhemat. Berhemat dalam arti memanfaatkan potensi bahan baku air itu sebaik mungkin," katanya.
Yonsep berharap seluruh elemen masyarakat bersama pemerintah dapat meningkatkan kepedulian terhadap dampak yang mungkin muncul selama musim kering berlangsung, terutama terkait ancaman kebakaran lahan dan keterbatasan air baku.
"Ke depan kita harapkan masyarakat bersama-sama pemerintah peduli terhadap keterbatasan bahan baku air yang ada di Kota Tarakan," pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah