Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Guru dari SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro akan datang langsung ke Kecamatan Puhpelem untuk mengajar satu rombongan belajar (rombel) yang berisi 35 siswa gagal lolos Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMKN 1 Puhpelem, Wonogiri, Jawa Tengah.
Skema tersebut menjadi solusi yang disepakati dalam audiensi antara warga, Dinas Pendidikan Jawa Tengah, dan DPRD Wonogiri, Senin (22/6/2026)
"Kesepakatannya gurunya yang ke Puhpelem. Nanti ruangnya dicarikan dari gedung kosong seperti bekas sekolah yang diregroupping," ujar salah seorang perwakilan warga, Rabu (24/6/2026).
Kesepakatan tersebut memastikan puluhan siswa asal Kecamatan Puhpelem tetap dapat melanjutkan pendidikan meski tidak diterima di SMKN 1 Puhpelem pada proses SPMB tahun 2026.
Sebelumnya, hasil SPMB sempat memicu protes warga.
Sejumlah orang tua mendatangi SMKN 1 Puhpelem karena anak-anak mereka tidak lolos seleksi.
Selain terbatasnya kuota jalur domisili, sejumlah siswa asal Puhpelem kalah bersaing dalam perolehan nilai dengan pendaftar dari wilayah perbatasan Jawa Timur.
Hasilnya, sekitar 35 siswa yang tidak lolos seleksi akan diterima melalui program kemitraan dengan SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro.
Meski secara administrasi terdaftar sebagai siswa SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro, kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan di Kecamatan Puhpelem.
Langkah ini diambil untuk mengurangi beban biaya transportasi sekaligus menjaga keselamatan siswa selama perjalanan menuju sekolah.
Perwakilan warga mengatakan masyarakat menyambut baik keputusan tersebut karena seluruh siswa tetap memperoleh kesempatan bersekolah tanpa harus meninggalkan wilayah tempat tinggal mereka.
"Masyarakat respon positif. Yang penting anak bisa sekolah. Kita juga matur, tahun depan bisa dievaluasi. Atau rombelnya ditambah. Kalau bisa diproritaskan warga, tidak luar wilayah," katanya.
Baca juga: Polemik SPMB SMKN 1 Puhpelem Wonogiri Selesai, 35 Siswa Gagal Lolos Tetap Bisa Sekolah Gratis
Ketua Komisi IV DPRD Wonogiri, Titik Sugiyarti, juga memastikan proses pembelajaran akan berlangsung di Puhpelem dengan tenaga pengajar yang datang dari Purwantoro.
"Gurunya nanti yang ngalahi ke Puhpelem," kata Titik.
Menurutnya, keputusan tersebut mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari efisiensi biaya transportasi, keselamatan siswa, hingga aspirasi masyarakat yang menginginkan anak-anak mereka tetap dapat bersekolah di wilayah Puhpelem.
"Sekolahnya gratis nanti. Nanti akan dicarikan gedungnya. Sudah ada pandangan juga perwakilan. Misal seperti di gedung sekolah yang diregrouping," jelasnya.
(*)