TRIBUNJATIM.COM - BMKG kembali mengeluarkan pembaruan prakiraan cuaca penerbangan yang memetakan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di berbagai wilayah Indonesia untuk periode 25 Juni hingga 1 Juli 2026.
Informasi tersebut merupakan bagian dari pemantauan rutin kondisi atmosfer yang berpotensi memengaruhi keselamatan penerbangan, dengan menggunakan hasil pemodelan cuaca numerik untuk mendeteksi sebaran awan secara dini.
Awan Comulonimbus adalah awan yang mengandung banyak air dan petir, menyebabkan hujan deras dan bisa memicu angin puting beliung hingga tornado.
Dalam rilisnya, BMKG menegaskan bahwa prakiraan ini disusun untuk mendukung keselamatan operasional penerbangan di wilayah udara nasional melalui peringatan dini terhadap potensi gangguan cuaca.
Selain itu, BMKG juga mengelompokkan tingkat potensi cakupan spasial maksimum awan Cumulonimbus ke dalam tiga kategori utama, yang ditandai dengan warna biru muda, ungu, dan hijau sebagai indikator intensitas sebaran.
Baca juga: Ramalan Cuaca Jatim Rabu 24 Juni 2026, Sejumlah Wilayah Mengalami Hujan Ringan
Ketiga kategori tersebut meliputi Isolated CB (ISOL) untuk cakupan area kurang dari 50 persen, Occasional CB (OCNL) untuk rentang cakupan area berkisar antara 50 hingga 75 persen, serta Frequent CB (FRQ) yang menandakan persentase cakupan spasial tertinggi, yaitu melebihi 75 persen.
Berdasarkan analisis atmosfer terbaru untuk periode 25 Juni hingga 1 Juli 2026, BMKG memprediksi terdapat empat wilayah perairan di Indonesia yang masuk dalam kategori Frequent (FRQ) atau memiliki kepadatan cakupan spasial di atas 75 persen, meliputi:
Sementara itu, untuk kategori Occasional (OCNL) dengan potensi rentang cakupan spasial maksimum antara 50 hingga 75 persen, sebaran pertumbuhan awan Cumulonimbus diprediksi berpotensi terjadi di sejumlah wilayah daratan, perairan selat, laut, hingga samudra.
Berikut rincian lengkap wilayah yang berada dalam kategori cakupan spasial maksimum 50–75 persen (OCNL):
Wilayah Daratan/Provinsi:
Aceh, Bengkulu, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Tengah, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Wilayah Perairan Laut dan Selat:
Laut Arafuru bagian utara, Laut Banda, Laut Jawa bagian timur, Laut Maluku, Laut Natuna Utara, Laut Sulawesi bagian timur, Selat Karimata bagian selatan, Selat Karimata bagian utara, Selat Makassar bagian tengah, Selat Malaka bagian tengah, serta Selat Malaka bagian utara.
Wilayah Samudra:
Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Bengkulu, Samudra Hindia barat Kep. Mentawai, Samudra Hindia barat Kep. Nias, Samudra Hindia barat Lampung, Samudra Pasifik utara Maluku, Samudra Pasifik utara Papua, serta Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya.
BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi sebaran potensi awan Cumulonimbus ini bersifat berkala dan dikeluarkan sebagai panduan resmi yang berlaku selama tujuh hari ke depan di seluruh wilayah udara hukum Indonesia.