Dana Kelolaan Tembus Rp6 Triliun, BMoney Antisipasi Ketidakpastian Pasar
Choirul Arifin June 24, 2026 06:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Platform investasi digital BMoney yang dikelola dan dikembangkan PT Buka Investasi Digital mencatatkan dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) lebih dari Rp 6 triliun per Mei 2026.

Chief Executive Officer BMoney, Angganata Sebastian, mengungkapkan capaian tersebut naik tajam jika dibandingkan tahun 2025 yang baru mencapai Rp 3,5 triliun. Capaian di Mei 2026 ini juga telah melampaui target 2026. 

“Tahun ini sebetulnya kami menargetkan AUM Rp4,5 triliun. Target penambahan Rp1 triliun menurut saya sudah cukup oke. Tapi kami mendapat banyak nasabah baru dan bisnis kami berkembang, sehingga target sudah terlampaui,” kata Angganata Sebastian dikutip Rabu (24/6/2026). 

Dia menjelaskan, ada beberapa faktor yang masih dicermati seperti kondisi pasar masih sangat tidak pasti (uncertain) serta ada kemungkinan munculnya black swan atau peristiwa langka yang sangat sulit diprediksi.

Hal itu diperkirakan memberikan dampak destruktif berskala masif terhadap ekonomi dan bursa. Itu sebabnya, perseroan tidak buru-buru memasang target.

Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, dana nasabah bisa sewaktu-waktu keluar karena kebutuhan likuiditas. Apalagi, sebagian nasabah BMoney berasal dari perusahaan yang menyimpan dana sementara.

Ketika dana tersebut dibutuhkan untuk operasional, AUM bisa turun dengan cepat. Dalam mengejar kinerja bisnis, kata Angganata, BMoney tidak hanya fokus pada indikator AUM.

Perusahaan lebih memperhatikan pendapatan. Meski AUM fluktuatif, perusahaan bisa memacu pendapatan dari fee transaksi. 

“Untuk reksa dana memang pendapatannya berbasis management fee, tetapi untuk obligasi dan emas digital, pendapatan berbasis fee transaksi. Jadi, kami bisa mix and match dari variasi produk itu. Semakin banyak transaksi dan layanan advisory, maka semakin sehat bisnis kami,” kata Angganata. 

Pendapatan tahun ini diproyeksikan mencapai Rp 100 miliar atau naik dari Rp 70 miliar pada 2025. Sementara, sampai Mei 2026 realisasi pendapatan baru mencapai 60 persen dari target.

Baca juga: Mengapa Banyak Trader Asia Tenggara Beralih ke Investasi Emas dan Perak di Tahun 2026

Namun Angga optimistis sampai akhir tahun target tersebut bisa dicapai. Adapun jumlah nasabah BMoney saat ini sekitar 1 juta. 

Kelompok nasabah high net worth individual (HNWI) sekitar 2.000 orang, tetapi masih menyumbang porsi terbesar terhadap total AUM, yakni sekitar 90 persen.

Kendati kontribusi masih didominasi HNWI, Angga mengatakan pihaknya tetap akan menjaring nasabah ritel. Hal itu sejalan dengan misi awal perusahaan, yaitu memperluas akses investasi kepada masyarakat luas. 

Angganata menjelaskan, sektor ritel menghadirkan skala (scale), keterlibatan, dan prospek bisnis di masa depan, sedangkan sektor HNWI menghadirkan kepercayaan, kredibilitas, dan monetisasi. I

Kedua segmen tersebut merupakan satu entitas utuh yang saling terhubung dan sudah selayaknya saling menguatkan satu sama lain di dalam ekosistem BMoney. 

Perusahaan telah mengantongi berbagai lisensi resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mulai dari Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), Mitra Distribusi (Midis) Surat Berharga Negara (SBN) dan izin operasional untuk transaksi saham dan emas digital. 

Baca juga: AI Percepat Akses Data dan Analisis Investasi, Banjir Informasi Tak Valid Jadi Tantangan Baru

Mereka juga berhasil menciptakan diferensiasi nyata dengan menjadi fintech pertama yang mengadopsi layanan premium ala priority banking ke dalam ekosistem digital. 

Melalui program loyalty points, nasabah HNWI dapat mengumpulkan poin dari setiap aktivitas investasi mereka untuk ditukarkan dengan berbagai benefit seperti layanan taksi bandara domestik bekerja sama dengan Golden Bird serta layanan internasional di Sydney, Tokyo, dan Singapura, layanan konsultan pajak privat dan medical check-up bekerja sama dengan Prodia. 

Laporan Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Sumber: Kontan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.