TRIBUNBENGKULU.COM - Ketua BEM Universitas Bung Karno (UBK), Muhammad Abdi Maludin sempat dipuji karena menolak ajakan makan malam oleh Wakil Presiden Gibran.
Kini dirinya malah ketahuan menerima uang Rp25 juta.
Hal ini pun membuat pihak rektorat murka
Ia pun langsung dinon-aktifkan sebagai Ketua BEM Fakultas Hukum (FH) UBK.
Bagi pihak kampus, persoalan ini bukan sekadar dugaan pelanggaran disiplin mahasiswa, tetapi menyangkut integritas gerakan mahasiswa yang selama ini dijunjung sebagai ruang perjuangan yang independen dan bebas dari kepentingan transaksional.
Daniel menegaskan kampus tetap menjamin kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi mahasiswa. Namun, apabila gerakan mahasiswa telah bercampur dengan praktik penerimaan dana yang berpotensi memengaruhi independensi gerakan, hal tersebut tidak dapat ditoleransi.
"Saya marah, sedih, dan kecewa. Itu yang saya katakan langsung ke Saudara Abdi. Saya marah, sedih, dan kecewa," ujar Daniel.
Ia mengaku telah menyampaikan secara langsung kepada Abdi bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan serius yang harus dipertanggungjawabkan.
"Apapun yang kamu lakukan, itu salah. Tidak ada pembenaran. Tapi saya menghargai kejujuran dia," katanya.
Sebelumnya Abdi dan kawan-kawannya mendapat pujian usai bertemu Gibran, Senin (15/6/2026).
Saat itu, Wapres menerima pendemo di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan.
Mahasiswa yang bertemu dengan Wapres itu berasal dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bung Karno dan Universitas MH Thamrin.
Saat itu, Abdi pun mengungkap penolakan yang ia dan rekan mahasiswa lain lakukan terhadap Gibran yakni tawaran untuk makan malam bersama.
"Kami menolak (makan malam dengan Gibran), kami tidak mau ada persepsi buruk terhadap kami," tegas Abdi.
Aksi itu pun dipuji, namun kini namanya tercoret imbas terima uang.
Kasus ini terbongkar saat Daniel Panda memastikan kabar bahwa Abdi terima uang yang sudah beredar di kalangan mahasiswa.
"Jadi pasca pertemuan 15 Juni, kami juga mendapat beberapa informasi ya dari beberapa kawan dari mahasiswa Universitas Bung Karno juga. Jadi ada indikasi yang atau dugaan ya, koordinator aksi Saudara Abdi menerima aliran dana. Ya, tentu kami menampung informasi tersebut.
Daniel menyebut, Abdimaludin secara spontan mengakui menerima dana Rp 20 juta dari senior.
"Saya secara apa formal memanggil saudara abdi ke ruangan saya. Kami berbicara berdua, saya langsung bertanya langsung, 'Apakah kamu menerima dana? Berapa jumlahnya, dan lain sebagainya'."
"Secara spontan dia langsung mengakui itu ya, bahwa dia menerima uang sebesar 20 juta," jelas Daniel.
Lantas, Abdimaludin membagikan uang yang diterimanya kepada sejumlah pihak.
Ia mengaku mendapatkan uang dari seniornya, dalam hal ini adalah alumni Fakultas Hukum UBK.
"Dan dia juga mengakui, menurut pengakuan saudara abdi, alumni tersebut mendapatkan dana itu dari oknum kepolisian itu pagi harinya waktu saya panggil," imbuh Daniel.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor UBK juga menyatakan bahwa pengakuan Abdimaludin saat dimintai klarifikasi pagi hari tersebut, sama dengan jawaban ketika ditanya pada siang hari.
"Jadi saya juga memanggil beberapa pimpinan fakultas ya, terutama Fakultas Hukum dan juga beberapa pimpinan BEM fakultas yang lain ya, untuk mendengar secara langsung informasi dari yang bersangkutan, yang dia ungkapkan itu sama persis dengan apa yang dia ungkapkan kepada saya di pagi harinya," ungkapnya.
Barulah, ada semacam pengadilan terbuka dari ratusan mahasiswa UBK pada sore harinya.
Mereka meminta pertanggungjawaban secara etik dan moral kepada Abdimaludin. Video Abdi tengah 'disidang' tersebut, viral di media sosial.
Lebih lanjut, Daniel Panda membeberkan motif Eks Ketua BEM FH UBK menerima uang Rp 20 juta saat demo.
Dana tersebut, diterima Abdi cs dengan tujuan agar mereka tidak melakukan aksi demo di sekitar Istana.
"Ya, dari pengakuan Abdi memang mengatakan bahwa dana tersebut untuk supaya mahasiswa UBK tidak melakukan unjuk rasa di lokasi sekitar Istana."
"Jadi mereka berharap, anak-anak UBK itu unjuk rasanya di sekitaran DPR ya," jelas Daniel.
Namun, permintaan itu tidak dipenuhi para mahasiswa. Mahasiswa UBK pun tetap demonstrasi di dekat Istana.
Hingga akhirnya, mereka diajak ke Istana Wapres dan ketemu wakil presiden.
Meski demikian, pihak kampus masih akan melakukan investigasi terkait hal tersebut.
"Tetapi memang tidak dipenuhi ya. apakah gara-gara itu? Ya, tentu kita belum mengetahui ya, itu nanti kita investigasi itu ya," lanjutnya lagi.
Pada kesempatan berbeda, sebelumnya Abdi Mauludin mengaku menerima uang Rp 20 juta dari oknum polisi.
Pengakuan tersebut, disampaikan Abdi ketika 'disidang' oleh mahasiswa UBK yang videonya beredar di berbagai platform media sosial.
Abdi menyebut menerima uang Rp 20 juta dari pihak kepolisian bernama Aan, untuk memindahkan titik aksi dari Istana.
"Uang itu dikasih sama mereka pihak kepolisian, untuk tidak turun aksi di Istana, akan tetapi, kita tetap turun."
"Pihak kepolisian, Bang Aan namanya dari pihak kepolisian, kurang tahu nama lengkapnya," ungkap Abdi dikutip dari tayangan YouTube Tribunnews, Selasa (23/6/2026).
Sementara itu, Mahasiswa FH UBK, Nailah Hartono, mengungkapkan rincian aliran dana suap sebesar Rp20 juta yang diterima Abdimaludin.
Berdasarkan pengakuan Abdi dalam forum yang digelar mahasiswa UBK pada Senin (22/6/2026) malam, dana suap sebesar Rp20 juta mengalir ke beberapa nama. Termasuk mengalir kepada jajaran BEM FH UBK, hingga ke BEM Fakultas Ekonomi (FE) UBK.
"Di situ (forum) dia mengakui begitu mengakui secara sadar dengan benar, bahwa iya dia memang menerima sejumlah uang senilai Rp20 juta."
"Yang ini mungkin aku saya akan jelaskan begitu ya rincian ke mana saja duit itu mengalir mungkin ya," kata Nailah dalam wawancaranya di Program 'Saksi Kata' yang dipandu oleh Host Nurma Aisyah, dari Studio Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Adapun dalam proses pendistribusian dana suap, rupanya mahasiswa lain di BEM FH, Mubarak Tuasamu juga berperan sebagai saksinya.
Rincian aliran dana atau pendistribusian dana suap sebesar Rp 20 juta yang diterima oleh Ketua BEM FH UBK, Muhammad Abdimaludin: