Sisi Gelap Popularitas Bernadya: Saat Ketenangan Menjelma Jadi Teror 'Cherophobia'
Budi Sam Law Malau June 24, 2026 07:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Di tengah puncak popularitasnya yang kian melambung, penyanyi dan penulis lagu asal Surabaya, Bernadya, justru harus bertarung dengan isi kepalanya sendiri.

Ketika dunia melihatnya berada di atas angin, Bernadya justru didera cherophobia—sebuah kondisi psikologis berupa ketakutan irasional terhadap kebahagiaan dan ketenangan, karena meyakini badai besar akan segera datang setelahnya.

Alih-alih tenggelam dalam kecemasan, ia memilih menjinakkan ketakutan tersebut.

Baca juga: Rilis Single Tempat Berlabuh, Diva Ramaniya Disebut Netizen Miliki Karakter Suara Mirip Bernadya

Bernadya resmi merilis album terbarunya bertajuk "Semoga Hanya di Mimpi" pada Rabu (24/6/2026).

Sebuah karya sinematik yang lahir bukan dari patah hati, melainkan dari rasa waswas yang menghantui hari-hari tenangnya.

Paradoks Kebahagiaan dan Tanda Bahaya

Bagi sebagian besar musisi, hidup yang berjalan normal tanpa gejolak asmara adalah ruang nyaman untuk beristirahat. 

Namun bagi Bernadya, ketenangan justru menjelma menjadi alarm bahaya yang berdering nyaring.

"Album 'Semoga Hanya di Mimpi' lahir dari ketakutanku akan rasa tenang. Pemikiran yang aneh, memang, tapi bagiku, tenang sama dengan tanda bahaya," ungkap Bernadya lirih kepada awak media.

Baca juga: Rossa Gandeng Bernadya hingga JKT48 di Konsernya Bertajuk Here I Am

Ironisnya, perasaan waswas itu justru menguat saat ia seharusnya merayakan segala pencapaian dan kerja kerasnya selama ini.

Ada ketakutan akut bahwa kebahagiaan saat ini hanyalah umpan sebelum sebuah tragedi atau hal buruk terjadi dalam hidupnya.

Menolak Sensor Diri di 'Laut yang Tenang'

Ketakutan itu rupanya begitu nyata hingga nyaris menyensor proses kreatifnya.

Saat menggarap salah satu trek andalan berjudul "Laut yang Tenang", Bernadya sempat dirundung keraguan hebat.

Ia berniat merombak liriknya karena takut kata-kata melankolis yang ia goreskan justru berubah menjadi doa dan bumerang di kehidupan nyata.

Namun, kejujuran artistik akhirnya menang.

"Rasanya lirik yang keluar pertama itulah yang benar-benar ingin kutuangkan," tegasnya.

Melalui album yang sudah bisa dinikmati di berbagai platform musik digital mulai hari ini, Bernadya tidak hanya ingin berbagi ruang sunyi miliknya.

Ia ingin merangkul siapa saja yang kerap merasa tidak nyaman dan terasing justru di saat hidup mereka sedang baik-baik saja.

Ia menutupnya dengan sebuah pesan emosional sekaligus doa bagi para pendengarnya: "Semoga semua hal menyedihkan dan menakutkan yang kamu dengar di lagu-lagunya hanya ada di mimpi. Selamat menikmati."

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.