TRIBUNSUMSEL.COM — Anisa Muyassaroh, satu dari dua peserta pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang meninggal dunia.
Anisa Muyassaroh, dilaporkan meninggal dunia akibat heat stroke saat berjuang mengikuti program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) tersebut.
Diketahui, Anisa merupakan peserta asal Jawa Timur yang mengikuti diklat di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan.
Sebelum mengikuti program SPPI, Anisa Muyassaroh tercatat sebagai alumni mahasiswa Fisika Universitas Airlangga Jawa Timur.
Baca juga: Presiden Prabowo: Kopdes Merah Putih, Upaya Memperpendek Rantai Distribusi untuk Rakyat
Diklat program SPPI ini digelar pemerintah dengan tujuan menempa rasa cinta Tanah Air sebelum para peserta diterjunkan langsung mengelola ekonomi di desa-desa.
Namun takdir berkata lain, perjuangan Anisa harus terhenti di tengah pelaksanaan latihan.
Pada 18 Juni 2026, kondisi kesehatannya menurun dan langsung mendapatkan penanganan dari tenaga medis di fasilitas kesehatan satuan.
Setelahnya, ia dibawa ke klinik milik Kodam dan ditangani di Rumah Sakit dr Hardjanto milik TNI AD di Balikpapan.
Hingga ia dinyatakan meninggal dunia.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemenhan, Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa tim medis di lapangan telah melakukan evakuasi tiga tahap sebelum akhirnya merujuk korban ke Rumah Sakit tersebut.
"Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal akibat heat stroke," jelas Rico Ricardo Sirait dikutip Tribunsumsel.com dari Grid.id.
Prosedur penanganan pada saat kejadian sudah dilaksanakan dengan tepat. Saat ini kami masih menunggu hasil dari pendalaman tindak lanjut terhadap kejadian yang menyebabkan satu siswi ini meninggal dunia," sambungnya.
Baca juga: Kasus Ijazah Jokowi, Mahfud MD: Buktikan Dulu Aslinya Baru Bisa Pidana Roy Suryo dan Dokter Tifa
Meninggalnya Anisa memicu gelombang simpati sekaligus sorotan terkait porsi latihan fisik dalam diklat tersebut.
Menanggapi hal ini, Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) VI/Mulawarman, Kolonel Inf. Gatot Teguh Waluyo, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas gugurnya Anisa Muyassaroh.
"Kami dari Kodam VI/Mulawarman mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan dan keluarga diberi ketabahan serta kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Kita tentu tidak berharap hal ini terjadi," jelasnya.
"Kami garisbawahi, kegiatan yang dilaksanakan tidak melibatkan kegiatan fisik yang dalam artian dominan. Pola latihannya dominan pada kegiatan belajar mengajar di dalam kelas," jelasnya.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir atas dedikasi almarhumah, pihak TNI mengawal langsung proses pemulangan jenazah Anisa Muyassaroh dari Balikpapan menuju rumah duka di Jawa Timur.
Seluruh akomodasi dan kepulangan menjadi tanggung jawab penuh pihak kedinasan.
Selain Anisa Muyassaroh, satu peserta lainnya dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti kegiatan Latihan Dasar Kemiliteran dalam program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) tersebut.
Ia adalah Yonanda Muhammad Taufik yang tengah mengikuti diklat di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja.
Sebanyak 30.000 peserta mengikuti kegiatan ini. Hal ini dilakukan sebagai diklat Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia.
Baca juga: Tugas dan Tanggung Jawab Manajer Operasional KNMP, Rekrutmen Kopdes Merah Putih 2026
Yonanda Muhammad Taufik, mengalami henti jantung saat mengikuti diklat di Baturaja pada Rabu (17/6/2026).
"Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest (henti jantung)," ungkap Rico.
Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) VI/Mulawarman, Kolonel Inf. Gatot Teguh Waluyo pun mengucapkan bela sungkawa.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan tidak didominasi dengan aktivitas fisik berlebih.
"Kami dari Kodam VI/Mulawarman mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan dan keluarga diberi ketabahan serta kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Kita tentu tidak berharap hal ini terjadi," jelasnya.
"Kami garisbawahi, kegiatan yang dilaksanakan tidak melibatkan kegiatan fisik yang dalam artian dominan. Pola latihannya dominan pada kegiatan belajar mengajar di dalam kelas," jelasnya.
Pihak TNI memastikan bahwa kepulangan jenazah kedua korban ke rumah duka akan dikawal penuh dan menjadi tanggung jawab pihak kedinasan.
Meskipun insiden ini mendatangkan duka mendalam, Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg), Juri Ardiantoro, menegaskan bahwa penonaktifan dampak peristiwa ini akan dipisahkan dari keberlangsungan program utama pemerintah tersebut.
Juri menekankan, apa pun yang terjadi dalam proses penyiapan sumber daya untuk Kopdes Merah Putih akan tetap dikawal.
"Ya mitigasinya tentu berbeda antara program Koperasi Merah Putih-nya, kemudian penyediaan sumber daya untuk mengelola itu, dan tentu hal terkait dengan peristiwa atau kejadian-kejadian seperti itu ya akan ditangani sebaik-baiknya dan tentu dipisahkan dari kegiatan atau kelanjutan dari program ini," ujar Juri saat memberikan keterangan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (24/6/2026), dilansir dari Kompas.com.
Dengan demikian, Juri memastikan bahwa proyek penyiapan pengelola ekonomi desa ini tidak akan dihentikan.
"Jadi program Koperasi Merah Putih tentu tetap berlanjut. Sukses semuanya," pungkas Juri.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com