Terancam Gagal Panen Akibat Ulat Grayak, Petani Bawang Merah Madiun Berharap Subsidi Obat Pertanian
Sudarma Adi June 24, 2026 08:14 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, MADIUN — Kedatangan musim kemarau tahun ini menjadi tantangan berat bagi sektor pertanian holtikultura di Kabupaten Madiun.

Para petani bawang merah di wilayah tersebut kini harus berjuang ekstra melawan serbuan hama tanaman yang kian ganas di tengah cuaca terik, sekaligus menghadapi lonjakan biaya pembelian obat-obatan pertanian yang mencekik modal kerja.

Fenomena ini salah satunya dirasakan oleh para petani bawang merah di Dusun Nglongko, Desa Balerejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun. Sejak matahari mulai bersinar terik dalam beberapa pekan terakhir, berbagai jenis hama pengganggu mulai bermunculan dan merusak vegetasi tanaman.

Salah seorang petani bawang merah setempat, Wan Soleh, membeberkan bahwa ada tiga jenis hama utama yang menjadi musuh bebuyutan petani saat kemarau, yakni ulat grayak, thrips, dan serangga kaper.

Baca juga: Peringati Hari Jadi ke-458, Pemkab Madiun Gelar Khitanan Massal Gratis di Tiga Lokasi Strategis

"Yang paling perlu diwaspadai saat ini adalah ulat, thrips, dan kaper. Kalau ulat dan kaper itu menyerang dan menghabiskan daun, nah kalau thrips dia merusak dengan cara masuk ke bagian dalam batang tanaman bawang," ujar Wan saat ditemui di lahannya, Rabu (24/6/2026).

Pengeluaran Melejit, Semprot Obat Dua Hari Sekali

Wan menjelaskan, serangan hama ulat grayak menjadi yang paling merugikan. Ketika telur kaper menetas menjadi koloni ulat, daya rusaknya sangat cepat. Jika tidak segera dieliminasi, daun bawang merah bisa gundul total dalam hitungan hari, yang otomatis memicu terjadinya gagal panen (puso).

Guna menekan populasi hama agar tidak meluas, para petani terpaksa mengintensifkan jadwal perawatan lewat penyemprotan cairan kimia. Sayangnya, langkah preventif ini terbentur dengan tingginya harga komoditas insektisida dan fungisida di pasaran.

Untuk lahan berukuran relatif kecil, yakni berkisar 1.000 meter persegi saja, petani harus merogoh kocek hingga Rp300.000 untuk sekali jalan proses penyemprotan. Celakanya, agar proteksi tanaman optimal, penyemprotan wajib dilakukan secara berkala setiap dua hari sekali.

"Kalau sekali semprot bisa habis sekitar Rp300 ribu. Padahal penyemprotan harus konsisten dilakukan dua hari sekali demi menjaga bawang tetap aman," keluh Wan.

Petani Menjerit, Berharap Ada Subsidi Obat Pertanian

Tingginya frekuensi penyemprotan ini otomatis membuat kurva biaya produksi harian petani melonjak sangat signifikan. Situasi ini dinilai sangat kontradiktif, sebab di sisi lain potensi hasil tonase panen justru terancam menyusut drastis akibat kerusakan fisik tanaman yang telanjur terjadi.

Kondisi dilematis yang menjepit pendapatan para petani lokal ini memicu munculnya desakan adanya bantuan nyata dari pihak pemangku kebijakan, dalam hal ini Dinas Pertanian tingkat daerah maupun provinsi.

"Biaya perawatannya sudah terlalu tinggi, tidak sebanding nanti kalau harga jualnya fluktuatif. Harapan kami selaku petani kecil, ada bantuan nyata dari pemerintah berupa subsidi atau dukungan penyaluran obat-obatan pertanian untuk meringankan beban biaya produksi kami," pungkas Wan penuh harap.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.