TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Musyawarah Provinsi Luar Biasa (Musorprovlub) Pengprov Muaythai Indonesia (MI) Kaltim yang digelar di KONI Kaltim, Sabtu (20/6/2026), menjadi momentum krusial bagi kebangkitan olahraga beladiri di Kalimantan Timur.
Di tengah tantangan keterbatasan anggaran dan pembinaan yang belum merata, organisasi ini dituntut segera tancap gas.
Plt Ketua Muaythai Kaltim, Rony Abdurrahman, menegaskan bahwa kepemimpinan baru harus menjadi titik balik berakhirnya dinamika internal yang selama ini menghambat.
"Harapan kami, drama-drama yang selama ini terjadi berakhir. Saatnya kembali mengejar prestasi terbaik. Target kita jelas, minimal satu medali emas harus diperjuangkan dengan proses yang matang," tegas Rony.
Baca juga: Bupati Kukar Aulia Rahman Basri Lepas Atlet Muay Thai Devan ke Kejuaraan Dunia Warzone di Malaysia
Integritas Harga Mati Mewakili Ketua Umum PB MI, LaNyalla Mahmud Mattalitti, Ketua Harian PB MI, Evi Silviadi, menekankan pentingnya soliditas dalam satu komando. Ia mewanti-wanti agar tidak ada lagi kepentingan pribadi yang menunggangi organisasi.
"Muaythai Indonesia bukan kendaraan politik, bukan pula lahan mencari keuntungan pribadi. Integritas adalah harga mati. Seluruh pengurus wajib menandatangani pakta integritas," ujar Evi.
Ia menambahkan, pengurus baru harus segera tancap gas menghadapi agenda padat, mulai dari Kejurnas 2026 di Sulawesi Utara hingga persiapan menuju SEA Games 2027.
Tantangan Anggaran dan Agenda Krusial Di sisi lain, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kaltim, Rasman Rading, memberikan instruksi tegas agar seluruh elemen di Muaythai Kaltim segera meninggalkan perpecahan.
"Hentikan semua 'drama'. Fokus kita adalah menyehatkan organisasi agar bisa mendulang prestasi. Waktu kita sempit, ada Kejurnas di Manado (Juli-Agustus) dan Porprov Kaltim pada 14 November hingga 27 November 2026," ujar Rasman, Rabu (24/6/2026).
Rasman tak menampik bahwa tantangan utama saat ini adalah efisiensi anggaran yang dirasakan di seluruh provinsi.
Oleh karena itu, ia meminta manajemen organisasi harus lebih terukur, termasuk ketegasan dalam menyusun perangkat pertandingan dan kepanitiaan.
Evaluasi menyeluruh terhadap pembinaan di tingkat kabupaten/kota kini menjadi pekerjaan rumah utama. Pemetaan kekuatan di lapangan mutlak diperlukan agar target prestasi ke depan tidak sekadar wacana, melainkan berbasis pada kondisi riil atlet di Kalimantan Timur. (*)