Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Budiman
POS-KUPANG.COM, WAINGAPU - Sejumlah sopir bus angkutan di Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur berharap pemerintah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar.
Sebabnya, kenaikan harga BBM akan memicu kenaikan tarif angkutan dan diyakini diikuti kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.
“Kita berharap jangan naik ya. Kalau naik yang pasti harga transportasi juga naik, harga barang naik, semua pasti ikutan naik,” kata Yonatan Riti kepada POS-KUPANG.COM, Rabu (24/6/2026).
Menurut dia, kenaikan BBM yang tidak diikuti kenaikan tarif angkutan akan menyebabkan pendapatan sopir menurun.
Baca juga: Keluarga Korban Pembacokan di Blok M Sumba Timur Minta Pelaku Dihukum Mati
Sopir berusia 54 tahun itu mengatakan, saat ini kondisi ekonomi masyarakat terlihat tidak baik-baik saja.
Kenaikan harga BBM, kata dia, diyakini semakin memberatkan kelompok masyarakat yang berpendapatan rendah.
Kondisi itu juga dapat menurunkan mobilitas masyarakat yang akhirnya berdampak pada berkurangnya pendapatan para sopir angkutan.
Ia menambahkan, wacana kenaikan BBM saat ini pun telah memicu kepanikan di tengah masyarakat.
Di Sumba Barat Daya, kata dia, lambannya pendistribusian BBM memicu antrean panjang di sejumlah SPBU. Ia khawatir, kenaikan harga BBM menambah persoalan yang sudah ada di sana.
“Di sana antrean padat sekali tidak seperti ini,” katanya saat sedang mengantre BBM di SPBU Matawai, Kota Waingapu.
Yonatan telah menjadi sopir angkutan sejak tahun 2005. Ia mengemudikan bus angkutan antarkabupaten dengan rute Waingapu-Waitabula, ibu kota Kabupaten Sumba Barat Daya.
Ia mengatakan, saat ini masih mengangkut belasan sampai puluhan penumpang. Namun, kondisi tersebut tidak stabil.
Tak jarang, ia membawa beberapa penumpang, sebagiannya turun di tengah perjalanan. Akibatnya, pendapatan yang diperoleh pun setengah saja. (dim)