Penjelasan: Mengapa Jude Bellingham Tidak Mendapat Kartu Merah Saat Menutupi Mulutnya Saat Berbicara dengan Jordan Ayew dalam Hasil Imbang Inggris di Piala Dunia Melawan Ghana
Dewi Rahayu June 25, 2026 05:42 AM

Jude Bellingham menjadi pusat perdebatan setelah pertandingan imbang tanpa gol antara Inggris dan Ghana di Piala Dunia, ketika muncul gambar dirinya menutupi mulut saat berbicara dengan Jordan Ayew. Meskipun ada aturan ketat baru dari FIFA untuk Piala Dunia 2026 yang memungkinkan pemain diganjar kartu merah karena tindakan semacam itu, bintang tim Tiga Singa tersebut tetap di lapangan.

Aturan baru FIFA tentang menutupi mulut

Kontroversi mengenai tindakan Bellingham berawal dari peraturan baru yang diterapkan FIFA untuk Piala Dunia 2026, yang menyatakan bahwa pemain dapat diusir jika dengan sengaja menutupi mulut ketika berbicara dengan lawan. Aturan ini didorong oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino, setelah insiden yang melibatkan pemain Benfica, Gianluca Prestianni, yang menerima larangan bermain enam pertandingan karena tindakan homofobik awal tahun ini.

Peraturan ini dirancang untuk menegakkan akuntabilitas dan rasa hormat di lapangan. Infantino menjelaskan: “Ini tentang rasa hormat. Ini tentang contoh yang seharusnya kita berikan. Jika kamu tidak punya sesuatu untuk disembunyikan, kamu tidak perlu menutupi mulutmu ketika berbicara dengan seseorang. Aturannya sudah dibuat sangat jelas untuk semua pihak.”

Mengapa Bellingham lolos dari hukuman

Meskipun gambar menunjukkan Bellingham menutupi mulutnya saat berbicara dengan Ayew, konteks menjadi faktor penentu di mata ofisial. Kepala wasit FIFA, Pierluigi Collina, menjelaskan sebelum turnamen bahwa tindakan tersebut tidak otomatis dilarang, kecuali dilakukan dalam situasi konfrontatif. “Pemain masih boleh menutupi mulut dengan tangan atau baju jika mereka berbicara dengan teman,” ujar Collina. “Jadi, jika percakapan berlangsung secara bersahabat, mereka dapat melakukannya tanpa masalah.”

Dalam kasus gelandang Real Madrid itu dengan Ayew, tidak ditemukan adanya permusuhan di antara keduanya. Momen tersebut dianggap sebagai percakapan taktis biasa atau obrolan ramah. Berbeda dengan insiden Miguel Almiron yang dikeluarkan dari lapangan karena menggunakan gestur tersebut dalam situasi panas, tindakan Bellingham tidak memenuhi ambang konfrontatif yang diperlukan agar VAR turun tangan.

Preseden Almiron dan konsistensi aturan

Dunia sepak bola sempat dikejutkan ketika pemain Paraguay, Almiron, menjadi yang pertama dikeluarkan karena pelanggaran ini saat melawan Turki. Pada saat itu, terjadi keributan di lapangan, dan keputusan Almiron untuk menutupi mulutnya ketika berbicara dengan Mert Muldur dianggap sebagai upaya menyembunyikan bahasa kasar di tengah situasi panas. Ia kemudian dijatuhi larangan bermain satu pertandingan atas pelanggaran tersebut.

Masih ada kekhawatiran besar terkait konsistensi penerapan aturan ini. Para pengkritik berpendapat bahwa aturan ini bisa dimanfaatkan pemain untuk menjebak lawan agar dikeluarkan, dengan memancing percakapan lalu menunjuk tindakan menutupi mulut kepada wasit. Saat ini, aturan tersebut bersifat opsional untuk setiap kompetisi, dan belum diketahui apakah liga domestik seperti Liga Primer Inggris akan mengadopsinya mengingat potensi kontroversinya.

Ketegangan di pinggir lapangan dan kemarahan Queiroz

Insiden menutupi mulut bukan satu-satunya momen yang membuat Bellingham menjadi sorotan. Gelandang berusia 21 tahun itu juga terlibat dalam adu argumen panas dengan pelatih Ghana, Carlos Queiroz, saat jeda babak pertama. Queiroz kemudian mengklaim bahwa pemain muda tersebut menggunakan “satu kata yang tidak ada dalam kamus kehidupan” ketika dikonfrontasi mengenai tekel keras terhadap Jerome Opoku.

Setelah pertandingan, Queiroz kembali meluapkan kekecewaannya, menyindir bahwa ofisial VAR “pergi minum kopi” alih-alih memberikan penalti untuk timnya di menit-menit akhir. Dalam pernyataan kepada media, mantan asisten pelatih Manchester United itu berkata: “Saya tidak yakin VAR masih berfungsi di Piala Dunia... Mereka sangat beruntung. Sekali lagi, VAR pergi minum kopi. Itu wajar, saya juga ingin minum kopi sesekali, tapi itu jelas penalti dan kartu merah.”

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.