TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah penyaluran bantuan pangan yang semestinya membawa manfaat bagi masyarakat, sebuah polemik mengejutkan justru mencuat dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Alih-alih diterima dengan rasa syukur, bantuan minyak goreng merek MinyakKita justru menjadi sumber keluhan massal setelah sejumlah warga mendapati perubahan fisik dan aroma yang tidak lazim, hingga menyerupai bau bahan bakar minyak seperti minyak tanah dan solar.
Kondisi tersebut memicu reaksi cepat dari warga yang merasa khawatir terhadap keamanan konsumsi produk tersebut.
Gelombang pengembalian pun tak terhindarkan, dengan warga secara berbondong-bondong mendatangi kantor kelurahan untuk mengembalikan bantuan yang sebelumnya telah mereka terima.
Baca juga: Jadwal Mati Lampu Karanganyar Tak Menentu, Warga Emosi: Main Padam Saja, Lalu Posting Info Pemulihan
Peristiwa ini terjadi di berbagai wilayah Kabupaten Karanganyar, termasuk Kelurahan Bejen, Kecamatan Karanganyar.
Di lokasi tersebut, ratusan warga tercatat melakukan pengembalian minyak goreng secara bertahap sejak hari Senin, setelah muncul keluhan terkait bau menyengat serta dampak kesehatan yang dirasakan.
Bantuan pangan tahunan dari pemerintah itu sebelumnya telah didistribusikan kepada masyarakat pada hari Kamis dan Jumat.
Namun, situasi berubah drastis hanya berselang singkat setelah komoditas minyak goreng kemasan dua liter tersebut dibawa pulang dan digunakan untuk kebutuhan memasak di rumah masing-masing.
Tak sedikit warga yang mengaku mengalami gejala seperti pusing hingga gangguan kesehatan ringan setelah terpapar atau menggunakan minyak tersebut.
Menanggapi kondisi tersebut, Lurah Bejen, Agus Sumarli, membenarkan adanya lonjakan pengembalian minyak goreng oleh warga akibat bau yang tidak normal.
“Katanya berbau minyak pet (minyak tanah,-red) sama solar. Akhirnya banyak sekali ternyata berbondong-bondong pada bau semua. Ada yang mengeluhkan kepalanya sakit. Warnanya juga agak gelap gitu, agak lebih pekat,” ujar Lurah Bejen, Agus Sumarli dikutip TribunTrends dari RRI, Kamis, 25 Juni 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut langsung ditangani dengan koordinasi cepat bersama Dinas Pertanian Karanganyar serta pihak Bulog untuk memastikan penanganan tidak berlarut-larut dan warga tetap mendapatkan hak bantuan yang layak konsumsi.
Agus menjelaskan, penanganan kasus ini berjalan cepat setelah dirinya berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Karanganyar dan Bulog.
"Dari Bulog langsung melakukan droping barang pengganti ke kelurahan pada Senin pagi. Penukaran awalnya berubah, dari dua botol kemasan dua liter menjadi empat botol kemasan satu liter yang kondisinya lebih layak konsumsi," katanya.
Ia menegaskan bahwa sejauh ini keluhan hanya terfokus pada komoditas minyak goreng, sementara bantuan beras tetap dalam kondisi baik dan tidak menimbulkan masalah di lapangan. Pihak kelurahan juga memastikan layanan penukaran akan terus dibuka tanpa batas waktu tertentu hingga seluruh warga yang terdampak mendapatkan solusi.
Baca juga: Catat Jadwal Pemadaman Listrik di Karanganyar Hari Ini 23 Juni 2026, Ini Daftar Wilayah Terdampak
Di sisi lain, Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Surakarta, Nanang Harianto, memberikan penjelasan bahwa produk minyak goreng bermasalah tersebut sepenuhnya berasal dari produsen dan bukan kesalahan distribusi Bulog sebagai lembaga penyalur.
“Oh, aslinya itu sebenarnya langsung dari produsen. Karena itu kan kita sifatnya kan hanya menyalurkan, yang membuat produsen. Dan dia juga sudah memberikan klarifikasi pernyataan itu semua produknya ditarik diganti. Kan kami kan juga salah satu kena dampaknya,” ujar Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Surakarta, Nanang Harianto.
Ia menambahkan bahwa proses penarikan dan penggantian barang di wilayah Karanganyar dapat dilakukan dengan cepat karena jumlah distribusi di daerah tersebut relatif kecil.
Namun demikian, Bulog tetap melakukan evaluasi untuk memperketat pengawasan mutu terhadap produk sebelum didistribusikan ke masyarakat.
"Kalau kami juga memastikan kualitas yang bermutu dari produsen. Sebenarnya sudah sudah kita lakukan, cuman kan itu kan karena murni dari produsen ya. kita kalau mau ngecek kan enggak semuanya bisa dibuka ya," ujarnya.
Nanang juga mengakui bahwa proses pemeriksaan fisik secara menyeluruh terhadap setiap kemasan minyak goreng sebelum distribusi memang memiliki keterbatasan teknis yang cukup signifikan.
Hal ini karena setiap kemasan tidak memungkinkan untuk dibuka satu per satu dalam proses distribusi massal. Situasi ini menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kualitas bantuan pangan yang disalurkan ke masyarakat.
Sebagai catatan penting, pemerintah pusat disebut telah mengambil kebijakan jangka panjang terkait komoditas ini dalam program bantuan pangan mendatang.
“Ke depannya kan di pemerintah pusat sudah memutuskan ke depannya tidak menggunakan minyak. Jadi hanya beras saja,” ujat Nanang.
***
(TribunTrends/JIS)