MANGGAR, BABEL NEWS - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, menyebutkan, sepinya aktivitas di Pasar Lipat Kajang Manggar beberapa minggu terakhir adalah bagian dari fenomena musiman yang kerap berulang.
Kondisi ini dipicu oleh faktor alam yang secara langsung memengaruhi gairah belanja warga setempat.
Kepala Disperindag Beltim Harli Agusta mengatakan, dari segi pengawasan daerah, pihaknya terus menerima laporan berkala mengenai pasar dari unit pelaksana teknis (UPT) pasar terkait fasilitas, pasokan, hingga pergerakan harga komoditas.
Menurut Harli, salah satu pemicu yang membuat Pasar Lipat Kajang terasa lengang dalam satu hingga dua minggu belakangan adalah hantaman musim angin selatan di perairan Manggar.
Dia menyebut angin kencang memaksa para nelayan lokal untuk menyandarkan kapal sehingga pasokan di area lapak ikan di Pasar Lipat Kajang berkurang drastis.
Berkurangnya aktivitas di sektor perikanan ini dinilai memicu efek domino yang memukul pedagang komoditas lain, termasuk sayur-mayur dan bumbu dapur.
"Fenomena ini sebenarnya biasa terjadi saat angin kencang. Rata-rata karakteristik masyarakat kita itu pergi ke Pasar Lipat Kajang tujuan utamanya adalah untuk membeli ikan segar, baru kemudian sekalian berbelanja sayur," kata Harli kepada Pos Belitung, Rabu (24/6/2026).
Oleh sebab itu, lanjut dia, kondisi cuaca buruk tersebut membuat lapak ikan sepi dan minat warga untuk sengaja datang ke pasar menjadi menurun.
Konsumen cenderung enggan atau malas jika harus menempuh perjalanan jauh ke pasar hanya untuk membeli sayur-mayur.
"Ketika lapak ikan itu sepi akibat angin kencang, pengaruhnya sangat besar terhadap seluruh aktivitas pasar di Lipat Kajang. Itu salah satu faktor utamanya," ujar Harli.
Selain itu, Harli membeberkan adanya perubahan pola distribusi barang dan perilaku belanja masyarakat Manggar.
Saat ini, Pasar Lipat Kajang perlahan mulai bergeser fungsi utamanya menjadi sebuah hub atau pasar penyuplai.
Harli menyebutkan, aktivitas perdagangan yang cukup ramai justru bergeser ke menjelang dini hari, yakni mulai pukul 01.00 hingga pukul 09.00 pagi.
Selepas jam tersebut, Pasar Lipat Kajang akan mulai meredup dari aktivitas jual-beli.
"Sekarang ini sudah banyak sekali orang berjual sayur eceran yang menjamur di tempat lain di luar area pasar, langsung di tengah permukiman warga. Hal itu ikut memengaruhi orang untuk beralih tempat belanja," ujar Harli.
Para pedagang eceran, lanjut dia, kini mengambil pasokan dari Pasar Lipat Kajang pada waktu subuh, lalu menjualnya kembali ke pelosok kampung.
Akibatnya, masyarakat tidak perlu lagi datang langsung ke pasar karena kebutuhan dapur bisa dijangkau di dekat rumah mereka.
Harli menambahkan, lesunya pasar tak serta-merta menandakan masyarakat sepenuhnya kehilangan daya beli.
Menurutnya, masyarakat saat ini cenderung lebih adaptif terkait kebutuhan pangan harian.
"Masyarakat kita punya alternatif lain untuk belanja. Bukan berarti tidak mampu belanja juga, tapi mereka mengalihkan konsumsinya. Misalnya kalau ikan lagi susah dan mahal, cukup beli tempe yang ada di dekat rumah atau di kampung," tuturnya.
Meski begitu, Harli menegaskan bahwa Pemkab Beltim akan terus berupaya untuk menaikkan lagi gairah belanja masyarakat di pasar melalui banyak terobosan.
Untuk itu, pihaknya sangat membutuhkan pembenahan ekonomi dengan melibatkan seluruh komponen daerah.
"Artinya, jika kita ingin aktivitas pasar kembali ramai, kita harus memperkuat basic ekonomi masyarakat secara mantap dan menyediakan alternatif komoditas yang bisa terus berputar di pasar dalam segala kondisi," ujar Harli.
Sebelumnya, kondisi sepi pembeli dirasakan oleh Amir (40), seorang pedagang bumbu dapur dan sayur-mayur di Pasar Lipat Kajang Manggar, Kabupaten Belitung Timur.
Bahkan, Amir merasa lesunya pasar saat ini merupakan yang terparah sepanjang dirinya berjualan.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya masa sepi hanya bertahan sekitar satu pekan, menurutnya, kali ini penurunan penjualan justru terjadi berangsur-angsur tanpa ada tanda-tanda pemulihan.
"Kalau tahun-tahun lalu sepi paling semingguan saja, habis itu ramai lagi. Tapi tahun ini sepinya berangsur-angsur terus begini. Memang sepi sekali, Bang," ujar Amir, Rabu (24/6/2026).
Amir menambahkan, sepinya aktivitas pasar tersebut membuat pendapatan hariannya menurun drastis.
Ia mengatakan omzet penjualannya merosot tajam hingga 40 persen dalam kurun waktu dua sampai tiga minggu belakangan.
"Omzet turun jauh. Biasanya per hari pendapatan misal bisa dapat di angka 10 sampai 12, sekarang untuk dapat 7 atau 8 saja susahnya luar biasa. Semua sektor kena dampaknya," tuturnya. (z1)