TRIBUNSUMSEL.COM- Sosok Yonanda Muhammad Taufik kini tengah menjadi sorotan publik setelah dikabarkan meninggal dunia saat mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.
Ia mengembuskan napas terakhirnya di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja akibat mengalami henti jantung (cardiac arrest) pada Rabu (17/6/2026).
Kepergian Yonanda meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan, serta sesama peserta Latihan Dasar Kemiliteran dalam program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) tersebut.
Baca juga: Sosok Anisa Muyassaroh, Peserta Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal Dunia Saat Diklat Militer
Di balik takdir memilukan ini, Yonanda dikenal sebagai seorang sarjana yang gigih berjuang meniti karier.
Berdasarkan penelusuran jejak digitalnya di platform LinkedIn yang dihimpun Tribunsumsel.com, Yonanda merupakan alumni Universitas Bung Hatta, Padang, Sumatera Barat.
Ia berhasil meraih gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) jurusan Manajemen setelah menempuh pendidikan dari tahun 2016 hingga lulus pada Agustus 2020.
Sebagai seorang profesional muda, almarhum memiliki bekal keahlian yang cukup solid di bidang Analisis Data, Komunikasi, Akuntansi, hingga Financial Statement Analysis.
Yonanda tercatat sempat mengabdikan diri dan mencari pengalaman kerja di ibu kota.
Ia pernah bekerja sebagai Telemarketing Agent di PT Vista Jaya Raya, area DKI Jakarta, selama satu tahun penuh sejak Oktober 2023 hingga September 2024.
Namun, perjalanan mencari nafkah tidak selalu mulus bagi pria yang dikenal sebagai sosok komunikatif ini.
Dalam sebuah unggahan pilu di media sosial Threads tertanggal 7 Maret 2025, akun dengan nama @yonanda.m.t sempat menuliskan keluh kesah mengenai sulitnya mencari pekerjaan di usia 27 tahun setelah memutuskan untuk resign.
"Apalah yg umur 27, nganggur karna susah cari yg baru karena resign," tulisnya kala itu.
Kegigihannya untuk bangkit dan keluar dari masa sulit itulah yang diduga kuat membawa Yonanda mendaftarkan diri dalam rekrutmen besar-besaran program Kopdes Merah Putih 2026.
Dua Calon Manajer Kopdes Meninggal Saat Diklat Militer, Korban di Baturaja Alami Henti Jantung
Ia menjadi bagian dari 30.000 peserta pemuda terpilih yang dipersiapkan menjadi manajer operasional untuk menggerakkan ekonomi desa di seluruh Indonesia.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Yandri Susanto, sempat mengungkap bahwa diklat ini sebenarnya dirancang untuk menumbuhkan rasa cinta Tanah Air bagi para generasi muda sebelum terjun ke lapangan.
"Yang pertama, ingin menumbuhkan rasa cinta terhadap negeri yang sangat kita cintai ini. Karena kan berbagai latar belakang, masih muda-muda, perlu penebalan rasa cinta terhadap bangsa dan negara," jelas Yandri.
Namun, takdir berkata lain bagi Yonanda.
Di tengah berlangsungnya latihan, ia mengalami henti jantung.
Di tengah sorotan publik, kabar duka mendadak datang setelah kedua peserta dinyatakan meninggal dunia saat kegiatan masih berlangsung.
Anisa Muyassaroh diketahui mulai mengalami masalah kesehatan pada Kamis (18/6/2026) lalu.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemenhan, Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa tim medis di lapangan telah melakukan evakuasi tiga tahap sebelum akhirnya merujuk korban ke Rumah Sakit Dr. R. Hardjanto (RS Tentara) Balikpapan karena kondisinya yang terus menurun.
"Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal akibat heat stroke," jelas Rico Ricardo Sirait.
"Karena melihat perkembangan kondisi korban yang terus menurun dan tidak membaik, tim medis langsung merujuk korban ke Rumah Sakit Dr. R. Hardjanto (RS Tentara) Balikpapan. Prosedur penanganan pada saat kejadian sudah dilaksanakan dengan tepat. Saat ini kami masih menunggu hasil dari pendalaman tindak lanjut terhadap kejadian yang menyebabkan satu siswi ini meninggal dunia," sambungnya.
Sementara itu, peserta lainnya, Yonanda Muhammad Taufik, mengalami henti jantung saat mengikuti diklat di Baturaja pada Rabu (17/6/2026).
"Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest (henti jantung)," ungkap Rico.
Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) VI/Mulawarman, Kolonel Inf. Gatot Teguh Waluyo pun mengucapkan bela sungkawa.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan tidak didominasi dengan aktivitas fisik berlebih.
"Kami dari Kodam VI/Mulawarman mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan dan keluarga diberi ketabahan serta kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Kita tentu tidak berharap hal ini terjadi," jelasnya.
"Kami garisbawahi, kegiatan yang dilaksanakan tidak melibatkan kegiatan fisik yang dalam artian dominan. Pola latihannya dominan pada kegiatan belajar mengajar di dalam kelas," jelasnya.
Pihak TNI memastikan bahwa kepulangan jenazah kedua korban ke rumah duka akan dikawal penuh dan menjadi tanggung jawab pihak kedinasan.
Meskipun insiden ini mendatangkan duka mendalam, Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg), Juri Ardiantoro, menegaskan bahwa penonaktifan dampak peristiwa ini akan dipisahkan dari keberlangsungan program utama pemerintah tersebut.
Juri menekankan, apa pun yang terjadi dalam proses penyiapan sumber daya untuk Kopdes Merah Putih akan tetap dikawal.
"Ya mitigasinya tentu berbeda antara program Koperasi Merah Putih-nya, kemudian penyediaan sumber daya untuk mengelola itu, dan tentu hal terkait dengan peristiwa atau kejadian-kejadian seperti itu ya akan ditangani sebaik-baiknya dan tentu dipisahkan dari kegiatan atau kelanjutan dari program ini," ujar Juri saat memberikan keterangan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (24/6/2026), dilansir dari Kompas.com.
Dengan demikian, Juri memastikan bahwa proyek penyiapan pengelola ekonomi desa ini tidak akan dihentikan.
"Jadi program Koperasi Merah Putih tentu tetap berlanjut. Sukses semuanya," pungkas Juri.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com