Kroasia mengamankan poin pertama mereka di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan tipis 1-0 atas Panama di Stadion Toronto. Saat Luka Modric merayakan pencapaian besar dalam karier internasionalnya, hasil ini menjaga peluang tim asuhan Zlatko Dalic untuk lolos ke babak gugur, sekaligus mengakhiri perjalanan Panama di turnamen ini dengan satu laga tersisa.
Modric capai tonggak sejarah legendaris
Pada malam yang diwarnai ketegangan dan duel taktik, sorotan tertuju pada kapten abadi Kroasia, Luka Modric. Gelandang veteran ini menjadi pemain pria keempat dalam sejarah yang mencapai 200 penampilan internasional di level senior, bergabung dengan kelompok elit yang terdiri dari Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Bader al-Mutawa dari Kuwait.
Pelatih Dalic memberikan pujian tinggi kepada pemain berusia 40 tahun itu setelah peluit akhir berbunyi, dengan mengatakan: “Dia masih mampu memengaruhi jalannya pertandingan, dan bermain untuk negara Anda sebanyak 200 kali adalah hal yang luar biasa. Kami harus sangat bersyukur memiliki dia dalam tim. Luka sangat rendah hati, dan itulah mengapa dia tidak suka perayaan besar-besaran. Tapi saya sangat senang kami bisa menandai momen ini di depan para pendukung kami.” Untuk merayakan pencapaiannya, rekan-rekan setimnya mengenakan kaus hitam bertuliskan ‘Infinite Legacy’ dan angka 200 selama perayaan seusai pertandingan.
Budimir jadi pembeda
Setelah babak pertama yang membuat frustrasi karena formasi 5-4-1 Panama berhasil membatasi serangan Kroasia, Dalic memasukkan Ante Budimir di awal babak kedua untuk menambah kehadiran di kotak penalti. Keputusan itu membuahkan hasil pada menit ke-54 ketika Marco Pasalic melakukan umpan tumit cerdik kepada Josip Stanisic. Umpan silang datar dari bek tersebut berhasil ditemukan Budimir di tiang jauh, dan pencetak gol terbanyak sepanjang masa Osasuna itu dengan tenang menuntaskan peluang untuk memecah kebuntuan.
Gol tersebut mengubah atmosfer di Toronto, membuat para pendukung Kroasia yang hadir bersorak gembira. Pasalic hampir menggandakan keunggulan beberapa menit kemudian setelah berhadapan satu lawan satu dengan kiper Panama, Orlando Mosquera, namun tembakannya berhasil ditepis sebelum bola pantulnya melambung di atas mistar. Meskipun skor hanya 1-0, perubahan taktik di babak kedua terbukti menjadi langkah jitu yang dibutuhkan Kroasia untuk mengembalikan momentum setelah kekalahan pada laga pembuka melawan Inggris.
Mimpi Panama di Piala Dunia berakhir
Bagi Panama, kekalahan ini menandai akhir perjalanan mereka di Piala Dunia 2026. Tim asuhan Thomas Christiansen sempat menunjukkan kualitas di babak pertama, ketika sundulan Jose Luis Rodriguez membentur mistar bagian bawah setelah ditepis oleh Dominik Livakovic. Namun, kegagalan mereka mencetak gol di turnamen ini akhirnya harus dibayar mahal, karena kini mereka menghadapi laga terakhir melawan Inggris tanpa satu pun poin dari dua pertandingan.
Christiansen tetap bangga terhadap perjuangan timnya meski tersingkir, dengan mengatakan: “Mereka bermain dengan semangat, dedikasi, dan jiwa juang. Itulah yang kami inginkan dari tim ini. Saya sangat bangga dengan mereka. Kroasia melakukan dua tembakan tepat sasaran dan mencetak satu gol.” Tim berjuluk Canaleros itu berjuang hingga akhir, menciptakan tujuh tendangan sudut dan memaksa Livakovic melakukan beberapa penyelamatan penting di babak kedua, tetapi mereka kekurangan ketajaman yang dibutuhkan di level tertinggi.
Persaingan Grup L semakin ketat
Hasil ini membuat Grup L semakin terbuka menjelang laga terakhir. Setelah hasil imbang 0-0 antara Inggris dan Ghana sebelumnya, kini Ghana dan Inggris sama-sama mengoleksi empat poin, sementara Kroasia menguntit dengan tiga poin. Skenarionya sederhana untuk laga pamungkas: kemenangan Kroasia atas Ghana di Philadelphia akan memastikan tempat mereka di 32 besar, sedangkan Inggris hanya perlu menghindari kekalahan melawan Panama yang sudah tersingkir untuk lolos.
Menanggapi tekanan yang ada, Pasalic mengaku: “Kami sadar akan kualitas dan situasi yang kami hadapi. Apa yang tidak kami lakukan di babak pertama, kami perbaiki di babak kedua. Kami sudah terbebas dari tekanan dan kini siap melangkah maju.” Dengan momentum yang mulai berpihak pada mereka dan Modric yang terus menantang usia, finalis Piala Dunia 2018 itu tampak siap kembali bersaing demi tempat di babak gugur.