Laporan Wartawan TribunJatim.com, David Yohanes
TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Pemadaman listrik bergilir yang sempat terjadi di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur menuai keluhan dari masyarakat.
Selain mengganggu aktivitas rumah tangga, gangguan pasokan listrik tersebut juga disebut berdampak pada kegiatan ekonomi warga di berbagai wilayah.
Situasi itu memunculkan kritik dari sejumlah kalangan, termasuk mahasiswa yang menilai pelanggan berhak mendapatkan kompensasi atas kerugian yang ditimbulkan akibat pemadaman listrik. Mereka meminta PLN memberikan penjelasan sekaligus tanggung jawab terhadap pelanggan terdampak.
Menanggapi hal tersebut, PLN menjelaskan bahwa pemadaman bergilir bukan disebabkan gangguan jaringan lokal di Tulungagung, melainkan akibat masalah yang terjadi pada sistem kelistrikan Jawa-Bali.
Gangguan tersebut berdampak pada berkurangnya pasokan daya yang tersedia untuk didistribusikan ke sejumlah daerah.
Kondisi tersebut memaksa PLN melakukan manajemen beban melalui pemadaman bergilir guna menjaga kestabilan sistem kelistrikan secara keseluruhan dan mencegah gangguan yang lebih luas.
Akibatnya, seluruh kecamatan di Kabupaten Tulungagung sempat merasakan dampak pemadaman listrik secara bergantian sesuai kebutuhan pengaturan daya yang dilakukan PLN.
Baca juga: Aksi Mahasiswa Tulungagung Minta PLN Beri Kompensasi Kerugian Akibat Pemadaman Listrik
Manajer ULP PLN Tulungagung, Dhodit Hari Seputro, menjelaskan bahwa gangguan bermula ketika dua pembangkit listrik berkapasitas besar keluar dari sistem kelistrikan Jawa-Bali.
"Ada 2 pembangkit listrik besar yang keluar dari sistem Jawa-Bali," jelasnya.
Menurut Dhodit, keluarnya dua pembangkit tersebut secara langsung memengaruhi ketersediaan daya listrik dalam sistem. Untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik, PLN terpaksa menerapkan manajemen daya melalui pemadaman bergilir.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keandalan sistem kelistrikan agar tidak mengalami gangguan yang lebih besar.
Dhodit mengatakan pemadaman bergilir dilakukan berdasarkan tingkat defisit daya yang terjadi saat itu. Karena keterbatasan pasokan berasal dari sistem utama, seluruh wilayah Tulungagung ikut terdampak.
"Kami lakukan manajemen daya (pemadaman bergilir), sesuai defisit daya yang ada. Semua kecamatan terdampak," ungkap Dhodit.
Meski memiliki dua pembangkit listrik lokal, kapasitas yang tersedia dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Tulungagung secara keseluruhan.
Salah satu pembangkit memiliki kapasitas sekitar 5 megawatt (MW), sedangkan pembangkit lainnya berkapasitas sekitar 6 MW.
PLN menyebut kebutuhan daya listrik di Kabupaten Tulungagung saat ini mencapai lebih dari 160 MW. Sementara itu, total kapasitas pembangkit lokal yang tersedia hanya sekitar 11 MW.
Kondisi tersebut membuat sebagian besar kebutuhan listrik masyarakat masih bergantung pada pasokan dari sistem interkoneksi Jawa-Bali.
"Kekurangan daya itu disuplai dari sistem Jawa-Bali. Kalau sistem terganggu kita terpengaruh," tambahnya.
Ketergantungan terhadap sistem interkoneksi tersebut menyebabkan gangguan pada jaringan utama dapat berdampak langsung terhadap pasokan listrik di daerah.
Meski sempat terjadi pemadaman bergilir, PLN memastikan kondisi sistem kelistrikan saat ini telah kembali normal.
Menurut Dhodit, proses pemulihan telah selesai dilakukan sehingga sejak Sabtu (20/6/2026) tidak ada lagi pemadaman listrik bergilir di wilayah Tulungagung.
Terkait tuntutan kompensasi dari pelanggan yang merasa dirugikan akibat gangguan listrik tersebut, Dhodit mengaku tidak memiliki kewenangan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.
Menurutnya, kebijakan mengenai kompensasi pelanggan merupakan kewenangan PLN pusat sehingga keputusan terkait hal tersebut akan ditentukan oleh manajemen di tingkat nasional.