Renungan Harian Katolik
Oleh: Bruder Pio Hayon SVD
Hari Kamis Biasa Pekan XII– 25 Juni 2026
Bacaan I: 2Raj. 24: 8-17
Injil: Mat. 7: 21-29
Tema: “Orang yang bijaksana”
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Hari ini kita diajak untuk merenungkan arti kebijaksanaan sejati. Bacaan pertama menyingkapkan kehancuran Yehuda karena raja dan umatnya tidak setia kepada Allah.
Injil menegaskan bahwa kebijaksanaan sejati bukanlah sekadar mendengar firman, tetapi melaksanakannya. Orang bijaksana digambarkan sebagai yang membangun rumah di atas batu, kokoh menghadapi badai kehidupan.
Saudara-saudari terkasih
Bacaan ini (2Raj. 24:8-17) ada kisah Raja Yoyakhin yang memerintah dengan lemah dan tidak setia, sehingga Yehuda jatuh ke tangan Babel.
Kehancuran ini adalah akibat dari ketidaktaatan dan ketidaksetiaan kepada Allah. Bacaan ini menegaskan bahwa tanpa fondasi iman, bangsa maupun pribadi akan mudah runtuh.
Dalam bacaan Injil (Mat. 7:21-29) Yesus menegaskan bahwa bukan setiap orang yang berseru “Tuhan, Tuhan” akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa.
Orang bijaksana adalah yang mendengar dan melaksanakan firman, sehingga hidupnya kokoh seperti rumah di atas batu.
Sebaliknya, orang bodoh adalah yang hanya mendengar tanpa melaksanakan, sehingga hidupnya rapuh. Poin refleksi kita adalah “Kesetiaan sebagai fondasi”: Kehancuran Yehuda menunjukkan bahwa tanpa kesetiaan kepada Allah, hidup mudah runtuh.
Kesetiaan adalah fondasi yang membuat kita kuat menghadapi tantangan. “Melaksanakan firman”: Yesus menekankan bahwa kebijaksanaan sejati bukan hanya mendengar firman, tetapi melaksanakannya. Hidup yang kokoh lahir dari ketaatan nyata, bukan sekadar kata-kata.
“Kebijaksanaan sejati”: Orang bijaksana adalah yang membangun hidup di atas batu, yaitu Kristus. Kebijaksanaan sejati berarti menaruh seluruh hidup pada kehendak Allah, sehingga tidak goyah meski badai datang.
Saudara-saudari terkasih,
Pesan untuk kita, pertama, kesetiaan kepada Allah adalah fondasi yang menjaga hidup tetap kokoh. Kedua, kebijaksanaan sejati terwujud dalam melaksanakan firman, bukan sekadar mendengar.
Ketiga, hidup yang dibangun di atas Kristus akan tetap teguh menghadapi badai kehidupan. Tuhan memberkati kita.