BANGKAPOS.COM -- Simaklah kunci jawaban mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 12 SMA Kurikulum Merdeka.
Tugas tersebut ada pada buku Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia SMA/SMK Kelas XII halaman 161 nomor 1-3 pada bagian Ayo Berlatih.
Sebelum melihat kunci jawaban, siswa harus mengerjakan tugas secara mandiri terlebih dahulu.
Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Cerdas Cergas Kelas 12 SMA Halaman 220 221, Idiomatis dan Korelatif
Selengkapnya berikut kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 12 SMA halaman 161 Kurikulum Merdeka.
1. Carilah sebuah cerpen berlatar sejarah yang sudah dipublikasikan di media massa. Temukan unsur instrinsik di dalam cerpen tersebut. Identifikasi fakta sebagai sarana cerita dan fiksi yang disajikan penulis.
Tiga Fase Kehidupan Sebuah Buku
Karya Yogarta Awawa Prabaning Arka (Kompas.id, 25 Juli 2025)
Baca juga: Kunci Jawaban Cerdas Cergas Berbahasa Indonesia Kelas 11 SMA Halaman 117 118 : Jurnal Membaca
Setiap buku umumnya mengalami tiga fase kehidupan. Masing-masing fase harus dijalani secara berurutan. Sekarang, aku sudah menjalani fase pertama.
Fase pertama adalah berada di rak toko buku. Aku sudah terpajang di sini selama tiga bulan, tetapi belum ada pembeli yang tertarik membawaku pulang.
Seperti buku puisi pada umumnya, rupaku ramping dan tipis. Aku menjadi buah karya pertama penyair yang kurang tidur karena kebanyakan ngopi dan merokok demi menggali inspirasi hingga ke tepi pagi.
Saat melahirkanku, rahim kreativitasnya ditempa seperti baja dalam tungku penolakan. Berkat belas kasih pemilik penerbit kecil, ia bisa menimangku dan membanggakannya sebagai karya pertama.
Untuk menyenangkan hatinya, aku berharap bisa terjual laris di toko ini. Sayangnya, kebanyakan pengunjung hanya melirik sampul yang menjadi wajahku.
Bahkan, ada juga pembaca nakal yang merobek plastik pelindung tubuhku untuk mengetahui isi puisi dalam diriku. Setelah membaca sepertiga puisi, ia menelantarkanku begitu saja. Aku merasa ternoda karena ia mengambil bagian penting dalam diriku secara cuma-cuma. Seandainya penulis yang melahirkanku tahu, mungkin ia akan sedih jika aku diperlakukan seperti ini.
Kadang aku bertanya, mengapa sampai sekarang belum ada yang membeliku? Apakah wajah sampulku kurang menarik? Ataukah tubuhku terlalu tipis, tidak setebal novel yang menjadi best seller di toko ini? Selama berada di sini, aku belum pernah melihat buku puisi menjadi buku paling laris.
Aku menanyakan hal ini kepada buku cerpen yang berdiri di sampingku.
”Sampai kapan kita berada di rak ini? Aku tidak mau nasibku berakhir di gudang,” kataku.
Ia menatapku dengan iba saat aku mengungkapkan kegelisahanku.
”Sabarlah. Setiap buku memiliki jalan takdirnya masing-masing,” kata si buku cerpen.
Pada suatu sore, seorang pria mendekati kami di rak buku sastra. Jemarinya menyusuri deretan buku sebelum akhirnya meraihku dan si buku cerpen. Dengan cermat, ia membolak-balik halaman untuk memilih salah satu di antara kami. Aku dan buku cerpen bersaing meraih simpatinya dengan mengeluarkan aroma buku baru. Bukankah pembaca sejati menyukai aroma buku? Namun, pria itu lebih memilih kumpulan cerpen ketimbang diriku. Sebelum dibawa pergi ke meja kasir, si buku cerpen berbisik kepadaku.
”Jika penulismu ditakdirkan menjadi penyair, kau pasti akan sampai ke tangan pembaca,” pesannya.
Aku mulai meyakini ucapannya ketika beberapa pengunjung mulai melirik ke arahku. Lambat laun, rasa percaya diriku tumbuh, meyakinkanku bahwa aku memang layak dibeli. Penyair yang menulisku telah menggadaikan pikiran, waktu, dan tenaga untuk melahirkanku. Aku hanya perlu bersabar untuk menemukan pembaca yang tepat.
Akhirnya, momen bahagia itu tiba juga. Seorang perempuan berambut merah jagung mengamatiku seperti orang jatuh cinta. Mungkin ia menyukai desain sampulku yang keungu-unguan.
Saat ia memegangku, aku mengeluarkan aroma buku baru supaya ia enggan berpaling dariku. Setelah membaca empat judul puisi, ia langsung membawaku ke meja kasir. Dari caranya menentengku, sepertinya ia tipe pembaca yang memperlakukan buku dengan baik.
Setelah pindah ke tangan wanita itu, aku memasuki fase kedua kehidupan. Ini merupakan fase yang krusial karena menentukan harga diri sebuah buku. Banyak orang membeli buku, tetapi tidak membacanya. Akibatnya, buku-buku itu mengalami krisis eksistensi karena merasa disia-siakan. Aku mengetahui hal ini dari cerita buku-buku bekas di gudang toko. Sejujurnya aku takut mengalami hal itu.
Wanita itu meletakkanku di meja samping kasur. Aku merasa spesial karena menjadi satu-satunya buku yang ditempatkan di sini. Sementara, buku-buku lain disimpan dalam kardus berdebu di bawah ranjang.
Ia selalu menentengku saat berangkat ke kantor. Saat menunggu kereta di Stasiun Manggarai, ia membaca bait-bait puisi yang tertanam dalam diriku. Begitu juga saat jam istirahat dan perjalanan pulang menuju rumah. Jemarinya yang lentik membuka lembaran halaman dengan takzim. Aku yakin, penulisku akan bahagia jika mengetahui buku yang ditulisnya diperlakukan dengan baik.
Hari-hari bersama wanita itu adalah momen terindah yang bisa dirasakan oleh sebuah buku sepertiku. Aku bahagia karena wanita itu lebih memilih membaca bait-bait puisi dalam diriku ketimbang bermain ponsel. Sementara, orang-orang di sekelilingnya terpenjara dalam layar smartphone.
Tanpa disadarinya, kebiasaannya membaca buku di stasiun dan di kantor menjadi magnet bagi banyak lelaki. Mata mereka diam-diam mencuri pandang saat ia tenggelam dalam bait-bait puisi. Di antara jemarinya yang lentik, aku menyaksikan pemandangan ini setiap hari. Ah, andai saja aku bisa berbicara, tentu sudah lama kubisikkan rahasia kecil ini kepadanya.
Saat jam istirahat, seorang lelaki menghampiri wanita itu yang tengah larut dalam bait-bait puisiku. Keduanya terlibat percakapan hangat tentang buku. Dari pembicaraan mereka, aku mengetahui bahwa lelaki itu merupakan seorang editor di kantor wanita itu. Dengan mata berbinar, ia mengaku senang menemukan seseorang yang masih menyempatkan membaca buku di tengah hiruk pikuk pekerjaan.
”Bagaimana menurutmu buku puisi itu?” tanya lelaki itu sambil mengacungkan jemarinya ke arahku.
”Aku tidak pandai menilai puisi,” ujar wanita itu berterus terang. ”Namun, puisi-puisi dalam buku ini terasa personal untukku.”
”Bolehkah aku meminjamnya?”
Wanita itu menatapku sejenak sebelum menjawab. ”Aku masih membacanya. Setelah selesai, aku akan meminjamkannya padamu.”
Sejujurnya, aku tidak menyukai kehadiran lelaki itu. Setiap kali ia datang, wanita itu menyingkirkanku ke samping laptop seolah keberadaanku tak lagi penting.
Hari-hari berlalu, menjelma minggu, lalu bulan. Aku menyaksikan percakapan mereka berubah dari sekadar basa-basi menjadi diskusi hangat yang penuh gelak tawa. Tanpa banyak kata, wanita itu menyodorkanku kepadanya.
Aku kecewa dengan keputusannya. Kepergianku dari wanita itu terasa seperti pengasingan yang tak terduga. Di tangan lelaki itu, aku diletakkan di samping lampu kamar. Ia tak pernah sekalipun membuka halamanku. Padahal, aku sudah mempersiapkan diri jika suatu saat ia akan membacaku. Perlahan, aku menyadari bahwa lelaki itu tidak benar-benar menginginkanku. Ia meminjamku hanya untuk mendekati wanita itu. Aku menduga, ia sama sekali tidak menyukai puisi. Jika dugaanku benar, maka keberadaanku di sini sia-sia.
Aku merasa jatuh ke tangan pembaca yang salah. Semangatku perlahan memudar karena digerogoti rasa frustrasi yang merayap di setiap halaman. Warna sampulku yang dulu cerah kini menjadi pucat. Serat kertas yang menyangga tubuhku mulai keriput seolah basah oleh air mata yang tak bisa kutumpahkan. Aroma kertas yang menyelimuti lembaranku perlahan berubah menjadi bau lembap. Jika terus begini, tubuhku akan ditumbuhi jamur.
Lelaki itu tampaknya mulai menyadari perubahan yang terjadi padaku. Dengan hati-hati, jemarinya membuka lembaran halaman untuk mencari jawaban atas kondisiku yang memburuk. Gurat kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya yang pucat. Aku ingin ia merasa bersalah karena telah memisahkanku dari wanita itu.
Keesokan harinya, ia mengembalikanku pada si wanita berkacamata. Wanita itu tertegun begitu melihat kondisiku. Sementara lelaki di hadapannya tak mampu menjelaskan penyebab kondisiku yang berubah drastis.
”Aku hanya meletakkan buku itu di kamar,” ujarnya terbata-bata, ”tiba-tiba saja ia menjadi seperti ini.”
Wanita itu menatapnya tajam sebelum tersenyum tipis. ”Mungkin buku ini kecewa padamu karena kau tak pernah membacanya.”
Setelah lelaki itu mengembalikanku, kelegaan menyelimutiku. Akhirnya aku kembali ke tangan pemilikku. Jemarinya menyentuh lembaran kertas yang kini mengerut seolah mencoba merasakan penderitaan yang kualami.
Aku berharap perhatiannya kembali utuh seperti saat pertama kali kami bertemu. Jika ia merawatku dengan cinta, serat kertas yang berkerut akan kembali segar. Aromaku yang kini samar bisa kembali menyeruak seperti wangi nostalgia yang tak lekang oleh waktu.
Sayangnya, harapanku terlalu muluk. Wanita itu hanya meletakkanku di atas meja dan tak lagi membuka halamanku.
Posisiku kian terpinggirkan saat ia membawa pulang sebuah novel baru bersampul jingga. Warna novel itu mengingatkanku pada senja: tenang di permukaan, tetapi menyimpan sepi yang tak terucap. Di bawah cahaya lampu meja, matanya berbinar saat membuka lembar pertama. Jemarinya menari lembut di atas baris-baris kata seolah menemukan kembali sesuatu yang diam-diam telah lama dirindukan.
Sejak saat itu, segalanya berubah. Novel baru itu kini menggantikan tempatku. Wanita itu selalu membawanya ke kantor sebagai bacaan favoritnya. Setiap ia membuka tasnya, hanya novel itu yang dimasukkan. Sementara aku tergeletak di sudut meja yang berdebu.
Hatiku retak sepenuhnya ketika wanita itu memasukkanku ke dalam kardus besar untuk disumbangkan. Di dalamnya, aku bertemu buku-buku lain yang dulu pernah dicintai, tetapi kini terlupakan. Kami seperti kenangan yang dibungkus rapi untuk dibuang. Wanita itu menutup kardus rapat-rapat dengan lakban tanpa ampun.
Inilah fase ketiga hidupku. Aku tak tahu ke mana takdir akan membawaku. Mungkin ke sudut rak perpustakaan kecil, toko buku bekas, atau justru tong sampah.
Namun, satu hal yang pasti: tak ada yang lebih menyakitkan bagi sebuah buku selain dilupakan oleh pembaca yang pernah mencintainya.
Penjelasan
Cerpen ini menggambarkan perjalanan hidup sebuah buku yang melalui tiga fase: di rak toko buku, dibeli pembaca, dan akhirnya terlupakan. Buku ini juga mencerminkan dunia penerbitan, dari proses penulisan hingga dijual atau dibaca.
Penulis menggunakan personifikasi dengan memberi sifat manusia pada buku, yang bercerita tentang perasaan kesepian dan terabaikan, berharap dibaca dengan perhatian penuh.
Unsur Intrinsik dalam Cerpen
Cerpen ini mengangkat tema tentang perjalanan hidup sebuah buku yang melalui tiga fase: tidak diinginkan di rak toko, dibaca dengan perhatian, dan akhirnya dilupakan. Ini mencerminkan perasaan dihargai atau diabaikan yang bisa menjadi metafora bagi kehidupan manusia.
Tokoh utama adalah buku itu sendiri yang menceritakan perjalanan hidupnya, dengan tokoh pendukung seperti pembaca wanita yang membeli dan lelaki yang meminjam buku tersebut.
Cerita mengikuti alur maju, dimulai dari buku di toko, kemudian dibeli oleh pembaca, dan akhirnya terlupakan. Ini menggambarkan perjalanan emosional buku yang tidak pasti setelah diterbitkan.
Latar utama ada di toko buku, kemudian berlanjut ke kantor pembaca wanita, stasiun, dan tempat tidur yang menggambarkan kehidupan sehari-hari pembaca.
Cerpen ini mengajarkan pentingnya menghargai karya yang telah dibuat dengan usaha keras dan menunjukkan bagaimana sebuah karya bisa terlupakan jika tidak dihargai.
Unsur Teks:
Jawaban:
Fakta
Asumsi
Opini
*) Disclaimer:
Jawaban di atas hanya digunakan oleh orang tua untuk memandu proses belajar anak.
Soal ini berupa pertanyaan terbuka yang artinya ada beberapa jawaban tidak terpaku seperti di atas.
(Bangkapos.com/Kompas.com)