Diduga Jadi Korban Pembunuhan di Malaysia, Jenazah Putri Hensy Dipulangkan ke Aceh Tamiang
Muliadi Gani June 25, 2026 11:54 AM

 

PROHABA.CO, ACEH TAMIANG - Seorang perempuan asal Aceh Tamiang, Putri Hensy Aprilda (22), yang sedang hamil diduga disiksa dengan kejam hingga meninggal di Malaysia.

Jenazah Putri Hensy Aprilda, pekerja migran asal Aceh Tamiang yang diduga menjadi korban pembunuhan di Malaysia, akhirnya tiba di kampung halamannya di Kampung Pantaibalai, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang, Rabu (24/6/2026). 

Pemulangan jenazah ini dikawal langsung oleh Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma, hingga sampai ke rumah keluarga.

Haji Uma menjelaskan bahwa proses pemulangan dilakukan setelah pihaknya menerima informasi dari KBRI Kuala Lumpur terkait meninggalnya Putri dan bayinya di Selangor, Malaysia.

Awalnya, KBRI menginformasikan bahwa Putri meninggal dunia di Serdang, Selangor.

Pihak KBRI menghubungi kita dan mengabarkan ada dua warga Aceh yang meninggal dunia,” kata Haji Uma di rumah keluarga almarhumah.

Namun beberapa jam kemudian, kabar duka bertambah dengan meninggalnya bayi korban di Shah Alam, Selangor.

Proses pemulangan jenazah ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak.

Baca juga: Haji Uma Fasilitasi Pemulangan Jenazah Warga Aceh Utara dari Malaysia

Baca juga: Anak Tak Bisa Hubungi Ayahnya, Pria 57 Tahun Ditemukan Meninggal di Lantai 3 Ruko Peunayong

Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang ikut membantu pendanaan, sementara warga Aceh di Malaysia turut menggalang dukungan agar jenazah dapat dipulangkan ke tanah air yakni ke rumah keluarga. 

“Oleh karena itu kita kolaborasi bersama pemerintah daerah, saling membantu dalam pendanaan.

Warga Malaysia juga membantu, sehingga jenazah ini bisa dipulangkan sampai ke rumah duka,” ujar Haji Uma.

Dari Bandara Kualanamu, Sumatera Utara, jenazah kemudian dibawa ke Aceh Tamiang dengan ambulans yang disiapkan pemerintah daerah.

Menurut Haji Uma, total biaya yang dikeluarkan untuk pengurusan dua jenazah mencapai Rp28 juta.

Dana tersebut berasal dari berbagai sumber, yakni Rp10 juta dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Rp5,4 juta dari Haji Uma, Rp5 juta dari kepala desa dan keluarga, serta Rp7,5 juta hasil sumbangan warga Aceh di Malaysia.

“Jadi itulah jumlah anggaran yang habis untuk mengurus dua jenazah,” ungkapnya.

(Serambinews.com/Rahmad Wiguna)

Baca juga: Polresta Banda Aceh Gencar Sosialisasi Bahaya Judi Online di Warkop

Baca juga: Dua Warga Aceh Dipulangkan dari Malaysia Karena Sakit, Difasilitasi oleh Haji Uma dan PPAM

Baca juga: Jadi Korban TPPO, Empat Warga Aceh Disekap di Myanmar, Haji Uma Surati Kemenlu dan KBRI

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.