Belum Teratasi, Ini 7 Penyebab Kemacetan Pelabuhan Ketapang Banyuwangi 
Haorrahman June 25, 2026 02:53 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Kemacetan yang kerap terjadi di jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi, kembali menjadi perhatian publik. Kondisi tersebut semakin terasa saat musim liburan, termasuk pada periode libur sekolah yang sedang berlangsung.

Selain meningkatnya jumlah kendaraan yang akan menyeberang ke Bali, antrean panjang menuju pelabuhan juga dipengaruhi sejumlah faktor lain. Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) mengungkap setidaknya ada tujuh penyebab utama yang memicu kemacetan di lintas Ketapang-Gilimanuk.

Ketua Umum Gapasdap, Khoiri Soetomo, menyampaikan keprihatinannya atas antrean kendaraan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

"Kami menyampaikan keprihatinan atas terjadinya antrean kendaraan di lintas penyeberangan Ketapang–Gilimanuk dalam beberapa hari terakhir, khususnya pada masa libur sekolah dan meningkatnya aktivitas logistik nasional," kata Khoiri Soetomo.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat dan pengguna jasa penyeberangan, tetapi juga berdampak pada pengemudi angkutan barang, sektor pariwisata, dan aktivitas dunia usaha.

Baca juga: Derita Sopir Truk Saat Macet Pelabuhan Ketapang, Antre Sehari Semalam Biaya Operasional Membengkak

Penyebab Kemacetan

Gapasdap memetakan tujuh faktor yang berkontribusi terhadap kemacetan menuju Pelabuhan Ketapang, yakni:

  1. Meningkatnya jumlah kendaraan logistik, bus, dan kendaraan pribadi selama masa libur sekolah.
  2. Keterbatasan jumlah dermaga yang tersedia untuk melayani pertumbuhan kendaraan.
  3. Kapasitas dermaga yang belum mampu mengakomodasi seluruh kendaraan logistik bermuatan besar secara optimal.
  4. Kondisi arus laut dan cuaca pada periode Juni-Juli yang cukup kuat sehingga memengaruhi proses sandar serta bongkar muat kapal.
  5. Belum optimalnya pemanfaatan seluruh fasilitas pelabuhan akibat keterbatasan infrastruktur pendukung yang masih memerlukan pengembangan.
  6. Terbatasnya area penyangga (buffer zone) dan akses jalan menuju pelabuhan yang semakin terbebani oleh pertumbuhan kendaraan.
  7. Infrastruktur jalan menuju pelabuhan yang dinilai belum memadai, sehingga antrean kendaraan bercampur dengan arus logistik menuju Lombok melalui Pelabuhan Tanjung Wangi. Saat ini, 
    Pelabuhan Tanjung Wangi juga hanya mengoperasikan dua kapal dari sebelumnya empat kapal.

Baca juga: Kapal Eks-LCT di Ketapang-Gilimanuk Dilarang Mulai 2028, Operator Diberi Waktu 2 Tahun

Bukan Kekurangan Kapal

Khoiri mengatakan kemacetan yang terjadi saat ini bukan disebabkan oleh minimnya jumlah kapal yang beroperasi di lintas Ketapang-Gilimanuk.

"Saat ini terdapat sekitar 56 kapal yang memiliki izin operasi dan siap melayani lintas Ketapang–Gilimanuk. Akan tetapi jumlah dan juga kapasitas dermaga yang tersedia saat ini hanya mampu mengakomodasi sekitar 28 kapal untuk beroperasi secara efektif per harinya," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat sekitar 28 kapal lainnya harus menunggu giliran untuk beroperasi sebagai kapal cadangan.

"Fakta tersebut menunjukkan bahwa permasalahan utama yang dihadapi saat ini bukan karena kekurangan armada kapal, melainkan keterbatasan jumlah dermaga dan kapasitas pelabuhan yang belum mampu mengoptimalkan operasional seluruh kapal yang memiliki izin operasi," sambungnya.

Gapasdap telah mengusulkan kepada pemerintah pusat, Kementerian Perhubungan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Bali, serta para pemangku kepentingan terkait untuk mempercepat pengembangan infrastruktur dan kapasitas layanan di lintas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.