TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Jika makanan yang dapat dinikmati dan dicerna orang lain dengan mudah justru menyebabkan gangguan pencernaan, sakit perut, hingga rasa terbakar di dada (heartburn) pada Anda, hal itu mungkin terasa tidak adil.
Namun, para ahli menyatakan bahwa refluks asam lambung sebenarnya dapat dikendalikan dengan penanganan yang tepat.
kondisi ini terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan saat Anda makan atau ketika Anda berbaring tidak lama setelah makan.
Refluks dapat terjadi sesekali atau berkembang menjadi penyakit refluks gastroesofageal (GERD), yaitu kondisi refluks asam kronis.
Menurut data dari Cleveland Clinic, sekitar 20 persen orang dewasa dan 10 persen anak-anak mengalami refluks.
Meski begitu, jenis makanan yang dapat memperburuk kondisi ini berbeda-beda pada setiap orang.
Ada orang yang bisa mengonsumsi makanan pedas tanpa masalah, sementara yang lain langsung mengalami refluks setelah meminum kopi, cokelat, atau saus tomat.
Oleh karena itu, penting untuk mengenali pemicu pribadi masing-masing melalui sedikit percobaan dan pengamatan mandiri.
Makanan yang Dapat Memperburuk Refluks Asam
Dalam jumlah besar, beberapa jenis makanan tertentu dapat membuat katup antara lambung dan kerongkongan menjadi lebih rileks.
Akibatnya, asam lambung menjadi lebih mudah naik.
Sebagian makanan lainnya juga bersifat asam atau dapat mengiritasi lapisan kerongkongan sehingga memperparah sensasi terbakar.
Berikut adalah daftar makanan yang umum memicu refluks asam lambung:
Untuk mengetahui pemicu pastinya, Anda disarankan mencatat jenis makanan yang dikonsumsi, jumlah porsi, serta waktu makannya.
Mengetahui pemicu bukan berarti Anda harus menghindari makanan tersebut selamanya.
Pedoman terbaru dari American College of Gastroenterology tidak lagi menganjurkan larangan menyeluruh terhadap semua makanan pemicu karena sulit diterapkan jangka panjang dan belum terbukti efektif secara konsisten.
Sebagai gantinya, Anda bisa mengonsumsi makanan pemicu bersama makanan yang lebih ringan atau memakannya lebih awal pada siang hari.
Kuncinya adalah menghindari kombinasi berbagai faktor pemicu sekaligus, bukan menghapusnya secara permanen.
Menu Sehari untuk Membantu Mencegah Refluks Asam
Mengalami refluks bukan berarti Anda harus mengonsumsi makanan yang hambar dan membosankan.
Tujuannya adalah menyusun menu yang lebih ringan bagi lambung dengan porsi lebih kecil, rendah lemak, tinggi serat, dan tidak dikonsumsi terlalu dekat dengan waktu tidur.
Berikut rekomendasi komposisi menu sehari yang ramah bagi penderita refluks:
Manfaat Serat bagi Penderita Refluks
Serat merupakan salah satu komponen yang paling menonjol dalam pola makan untuk mengurangi gejala refluks.
Berdasarkan hasil penelitian, perempuan yang mengonsumsi serat paling banyak—terutama dari buah dan sayuran—memiliki risiko 25 persen lebih rendah mengalami gejala refluks mingguan dibandingkan mereka yang mengonsumsi sedikit serat.
Hasil ini tetap terlihat bahkan pada perempuan yang sudah menggunakan obat refluks.
Studi lain yang lebih kecil terhadap 36 peserta menunjukkan bahwa setelah penderita refluks mengonsumsi suplemen serat selama 10 hari, proporsi peserta yang mengalami heartburn turun drastis dari sekitar 90 persen menjadi tinggal 40 persen.
Terdapat dua teori utama mengenai cara kerja serat dalam meredakan refluks:
Serat membantu mempercepat pergerakan makanan dalam sistem pencernaan sehingga makanan tidak terlalu lama menumpuk di lambung.
Hal ini memperkecil kemungkinan asam lambung terdorong naik ke kerongkongan.
Serat diduga dapat mengikat senyawa tertentu dalam makanan yang biasanya menyebabkan katup lambung menjadi rileks, meskipun teori kedua ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Tips Gaya Hidup untuk Mengurangi Refluks Asam
Selain menjaga asupan makanan, perubahan pada kebiasaan sehari-hari juga memegang peranan besar dalam mencegah naiknya asam lambung:
Kesimpulannya, mengatasi refluks asam tidak harus terasa seperti menjalani diet ketat yang menyiksa.
Yang terpenting adalah menemukan pola makan yang paling cocok bagi tubuh Anda dengan porsi lebih kecil, makan malam lebih awal, memilih makanan rendah lemak tinggi serat, serta membatasi pemicu yang memperburuk gejala.
Sumber: Tribunnews.com