Perubahan pasar yang semakin cepat, ketidakpastian rantai pasok global, serta meningkatnya persaingan bisnis membuat perusahaan manufaktur dituntut untuk mengambil keputusan dengan lebih cepat dan akurat. Dalam kondisi tersebut, visibilitas data atau data visibility mulai menjadi faktor penting yang membedakan perusahaan yang mampu tumbuh dari mereka yang hanya bertahan.
Menurut Adhi Firmansyah, Channel Sales Director, Southeast Asia, Epicor, keunggulan kompetitif saat ini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki data paling banyak, tetapi oleh siapa yang mampu memanfaatkan data tersebut untuk menghasilkan keputusan bisnis yang lebih baik.
“Perusahaan yang paling cepat merespons perubahan pasar sering kali menjadi pemenang, bukan selalu perusahaan yang paling besar. Karena itu, data visibility menjadi sangat penting,” ujar Adhi dalam wawancara bersama InfoKomputer.
Sebagai penyedia solusi Enterprise Resource Planning (ERP), Epicor memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan banyak pemain ERP lainnya. Selama lebih dari 50 tahun, perusahaan ini berfokus pada industri manufaktur, distribusi, dan supply chain. Fokus tersebut menjadikan Epicor memiliki pemahaman mendalam terhadap kebutuhan operasional sektor manufaktur.
“Kalau diibaratkan dokter, Epicor adalah dokter spesialis manufaktur,” kata Adhi.
Saat ini Epicor telah melayani lebih dari 150 pelanggan di Indonesia, dengan hampir 90 persen di antaranya berasal dari sektor manufaktur. Pelanggan tersebut mencakup berbagai industri, mulai dari manufaktur gas industri, cat, farmasi, hingga sektor manufaktur lainnya.
Tantangan Baru di Era Perubahan Cepat
Menurut Adhi, tantangan yang dihadapi pelaku manufaktur saat ini jauh lebih kompleks dibanding beberapa tahun lalu. Faktor eksternal seperti perubahan kondisi geopolitik, fluktuasi ekonomi global, hingga gangguan rantai pasok membuat perusahaan harus mampu beradaptasi dengan cepat.
Perubahan permintaan pelanggan pun kini terjadi lebih dinamis. Forecast yang sebelumnya dapat diprediksi dalam jangka panjang kini dapat berubah dalam waktu singkat. Di sisi lain, perusahaan harus tetap menjaga efisiensi operasional, ketersediaan bahan baku, dan kepuasan pelanggan.
Masalahnya, sebagian besar perusahaan sebenarnya sudah memiliki banyak data, baik dari produksi, inventori, supply chain, maupun keuangan. Namun data tersebut sering kali tersebar di berbagai sistem dan departemen sehingga sulit dimanfaatkan secara optimal.
“Banyak perusahaan memiliki data yang melimpah, tetapi data tersebut belum terhubung. Akibatnya, perusahaan kesulitan mendapatkan insight yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan bisnis secara cepat,” jelas Adhi.
Silo Data Masih Menjadi Hambatan
Salah satu tantangan terbesar yang masih ditemui Epicor di lapangan adalah keberadaan information silo antar departemen.
Dalam banyak organisasi, setiap fungsi bisnis memiliki data sendiri-sendiri. Data produksi, gudang, pengadaan, supply chain, hingga keuangan sering kali berada di sistem yang berbeda dan tidak saling terhubung.
Akibatnya, ketika manajemen membutuhkan informasi untuk mengambil keputusan strategis, proses pengumpulan dan validasi data dapat memakan waktu hingga berhari-hari.
“Sering kali data antar departemen tidak sinkron. Ketika perusahaan semakin besar, kompleksitas data juga meningkat. Tantangan utamanya bukan kekurangan data, melainkan terlalu banyak data yang tersebar di berbagai tempat,” ujarnya.
Kondisi tersebut masih diperburuk oleh penggunaan spreadsheet dan proses manual yang masih banyak digunakan untuk menyusun laporan operasional maupun manajemen.
Dari Pelaporan Menjadi Pengambilan Keputusan Real-Time
Menurut Adhi, perusahaan tidak lagi cukup hanya mengandalkan laporan historis untuk menjalankan bisnis.
Pelaporan tradisional membantu perusahaan memahami apa yang sudah terjadi di masa lalu. Namun dalam lingkungan bisnis yang bergerak cepat, perusahaan membutuhkan kemampuan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini dan apa yang kemungkinan akan terjadi berikutnya.
Karena itu, konsep real-time visibility menjadi semakin relevan.
“Real-time bukan berarti data yang diperbarui dua atau tiga jam lalu. Real-time berarti informasi yang tersedia saat ini juga, bahkan hingga tingkat menit dan detik,” kata Adhi.
Sebagai contoh, perubahan mendadak dari pelanggan prioritas dapat memengaruhi jadwal produksi dan distribusi. Tanpa visibilitas data yang memadai, perusahaan berisiko membuat keputusan yang berdampak pada kepuasan pelanggan maupun efisiensi operasional.
Dengan data yang terintegrasi, perusahaan dapat merespons perubahan secara lebih cepat dan akurat.
Dampak Langsung terhadap Bisnis
Adhi mencontohkan salah satu perusahaan farmasi besar di Indonesia yang telah beroperasi selama lebih dari 30 tahun dan menggunakan Epicor untuk mendukung operasionalnya.
Dalam industri farmasi, audit dan kepatuhan terhadap standar Good Manufacturing Practice (GMP) menjadi aspek yang sangat krusial. Perusahaan harus mampu menunjukkan data yang lengkap terkait pemasok, proses produksi, kualitas produk, hingga dokumentasi audit.
Melalui sistem yang terintegrasi, perusahaan dapat memperoleh visibilitas menyeluruh terhadap forecasting, supply chain, produksi, quality management, hingga keuangan.
Menurut Adhi, manfaat yang diperoleh tidak hanya berupa peningkatan efisiensi, tetapi juga membantu perusahaan menjaga kepatuhan regulasi, mengurangi risiko penalti, mempertahankan sertifikasi, serta meningkatkan kepercayaan pelanggan.
“Data yang terhubung dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi bisnis sekaligus memperkuat kepercayaan pelanggan,” ujarnya.
AI Akan Mengubah Cara Perusahaan Memanfaatkan Data
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) semakin memperkuat pentingnya data visibility. Menurut Adhi, AI kini bukan lagi teknologi yang bersifat opsional, melainkan telah menjadi kebutuhan strategis bagi perusahaan.
Namun AI hanya dapat memberikan manfaat maksimal apabila didukung oleh data yang terintegrasi dan berkualitas.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Epicor menghadirkan Epicor Grow sebagai platform business intelligence dan Epicor Prism sebagai solusi AI yang membantu perusahaan memperoleh insight lebih cepat, melakukan analisis yang lebih mendalam, serta mendukung pengambilan keputusan bisnis.
“AI akan bernilai ketika seluruh data perusahaan sudah terhubung, prosesnya terkoneksi, dan tidak ada redundansi informasi,” jelasnya.
Adhi menambahkan bahwa minat perusahaan manufaktur Indonesia terhadap AI terus meningkat. Banyak perusahaan mulai melihat AI bukan sekadar teknologi baru, tetapi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan bisnis.
Indonesia Tetap Menjadi Magnet Manufaktur
Epicor juga memandang Indonesia sebagai salah satu pasar manufaktur paling menjanjikan di Asia Tenggara.
Menurut Adhi, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan strategis, mulai dari pasar domestik yang besar, ketersediaan sumber daya alam, hingga meningkatnya investasi di berbagai sektor manufaktur seperti farmasi, kimia, dan otomotif.
Kombinasi tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan utama investasi manufaktur di kawasan.
Namun, di tengah peluang tersebut, perusahaan manufaktur lokal perlu terus meningkatkan kemampuan digital mereka agar mampu bersaing secara global.
Membangun Talenta untuk Masa Depan Industri
Selain teknologi, Epicor juga menilai bahwa keberhasilan transformasi digital sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia.
Karena itu, perusahaan tidak hanya berinvestasi pada pengembangan solusi ERP, analitik, dan AI, tetapi juga membangun ekosistem yang melibatkan mitra bisnis, asosiasi industri, dan institusi pendidikan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjalin kolaborasi dengan President University untuk membantu menyiapkan talenta yang siap menghadapi kebutuhan industri manufaktur modern.
Menurut Adhi, pengembangan talenta merupakan bagian penting dari strategi transformasi digital karena teknologi hanya dapat memberikan hasil maksimal apabila didukung oleh SDM yang memiliki kompetensi yang tepat.
Selain itu, Epicor juga terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai asosiasi industri untuk memahami kebutuhan pasar Indonesia sekaligus mendukung agenda Making Indonesia 4.0 dan visi Indonesia Emas 2045.
“Pada akhirnya, perusahaan yang mampu menghubungkan data, teknologi, dan talenta akan memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh dan memenangkan persaingan di masa depan,” tutup Adhi.