Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin | Lhokseumawe
SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE – Dentuman Rapai Grempheng yang berpadu dengan lantunan syair dan zikir menggema di Aula Serbaguna Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe, Selasa (23/6/2026).
Penampilan Grup Rapai Raja Siwah dari Desa Alue, Kecamatan Tanah Pasir, Kabupaten Aceh Utara, sukses menyedot perhatian pengunjung dalam Festival Canang Ceureukeuh 2026.
Grup yang beranggotakan 13 seniman rapai tersebut tampil penuh semangat dan memberikan warna tersendiri dalam festival budaya yang digelar Pemerintah Kota Lhokseumawe bekerja sama dengan Yayasan Jinoe.
Pertunjukan diawali dengan salam pembuka yang dilanjutkan pembacaan syair oleh apied (asisten syekh), Burhanuddin alias Apanyak. Suasana kemudian berubah khidmat saat Syekh Raja Siwah, Abdul Rahman, memimpin lantunan zikir yang menjadi bagian penting dalam tradisi Rapai Grempheng.
Dua pemain canang, Mukhaidir dan Tarmizi, mengiringi pertunjukan dengan ketukan ritmis yang berpadu harmonis dengan tabuhan rapai para anggota lainnya, yakni Marzuki, Erwin, Irwan, Abdullah, Abdul Rani, Abdul Aziz, Abdul Ami, A. Taleb, Akhyar, dan Ramadan.
Selama kurang lebih 30 menit, grup tersebut membawakan empat lagu yang sarat pesan moral dan nasihat kehidupan. Syair-syair yang dilantunkan mengajak masyarakat untuk menjaga akhlak, mempererat ukhuwah, serta mengingat nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Penampilan semakin menarik saat memasuki sesi penutup. Lima anggota tetap grup, yaitu Mulyadi, Martunis, Muhammad Papam, Dasir, dan Sidan, menampilkan atraksi debus yang memukau penonton.
Baca juga: Malam ini, Grup Rapai Debus Rimueng Daya dan Joel Pase Meriahkan Penutupan Pagelaran Seni Budaya
Aksi tersebut sontak mengundang decak kagum dan tepuk tangan meriah dari para pengunjung yang memadati arena festival.
Semangat para pemain dan energi pertunjukan membuat suasana festival semakin hidup.
Banyak penonton tampak antusias menyaksikan seluruh rangkaian penampilan hingga selesai, bahkan tidak sedikit yang mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam mereka.
Mukhaidir mengatakan persiapan menuju penampilan dilakukan dalam waktu singkat. Meski demikian, seluruh anggota berupaya memaksimalkan latihan agar dapat tampil kompak di hadapan masyarakat.
"Persiapan dilakukan pada malam hari melalui latihan rutin agar penampilan lebih kompak," ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelum tampil di Festival Canang Ceureukeuh, Grup Rapai Raja Siwah sebenarnya juga menerima undangan untuk mengisi sebuah acara di Kecamatan Cot Girek. Namun, undangan tersebut tidak dapat dipenuhi karena Syekh Abdul Rahman sedang dalam kondisi sakit.
Meski demikian, para anggota tetap bersemangat untuk tampil dan menjaga eksistensi seni tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Sementara itu, panitia kegiatan sekaligus Pembina Yayasan Jinoe, Ramadhan, mengatakan Festival Canang Ceureukeuh bukan sekadar ajang hiburan, tetapi juga sarana edukasi dan pelestarian budaya lokal.
“Festival ini menjadi wadah untuk memperkenalkan dan melestarikan warisan budaya daerah kepada generasi muda serta masyarakat luas,” ujarnya.