Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Melemahnya nilai tukar rupiah ternyata masih dirasakan oleh warga Kota Solo.
Salah satunya adalah menipisnya pasokan daging sapi yang juga berimbas pada kenaikan harga per kilonya.
Beberapa pedagang daging sapi di Kota Solo pun mengaku mulai kesulitan mencari stok daging.
Bahkan beberapa di antaranya mengaku stok mereka berkurang hampir separuh.
Yeni, pedagang daging sapi di Pasar Legi Kota Solo misalnya.
Ia tak memungkiri kini pasokan daging sapi di pasaran mulai menurun drastis.
“Pasokannya berkurang dan harganya naik sejak habis Idul Adha,” ungkap Yeni saat ditemui TribunSolo.com di kiosnya, Kamis (25/6/2026).
Akibat pasokan berkurang drastis, Yeni mengatakan bahwa harga daging sapi per kilonya juga ikut meningkat.
“Sebelum Idul Adha itu harganya Rp 130 ribu sampai Rp 140 ribu per kilonya. Yang paling super Rp 140 ribu. Sekarang yang biasa aja saya kulakan naik per kilonya Rp 5 ribu,” lanjut dia.
Yeni menduga, menurunnya pasokan daging sapi akibat nilai tukar rupiah melemah yang berimbas pada kenaikan harga daging sapi impor.
Meningkatnya harga daging sapi impor tersebut membuat konsumen beralih ke daging sapi dalam negeri.
“Karena sapinya susah, iya (daging impor harganya mahal) kan larinya ke sapi lokal,” kata dia.
Keluhan juga diungkap oleh pemilik rumah jagal di Kota Solo seperti owner Berkah Jagal, Fauzan.
Ia mengaku memilih tidak beroperasi beberapa hari ini lantaran harga sapi hidup per ekornya meningkat drastis.
“Iya betul, untuk saya pribadi sendiri sudah 2 hari off tidak jualan karena berbagai faktor, salah satunya kelangkaan sapi di lapangan karena banyak juga faktornya. Salah satunya dari pusat atau Jakarta itu kurang sapi. Jadi pusat menambal kelangkaan sapi dengan mengambil sapi-sapi di Jawa Tengah,” ungkap Fauzan melalui sambungan telepon.
Sosok yang juga memiliki lapak Berkah Lembu Jagal di Pasar Legi itu mengaku memilih untuk menutup rumah jagal miliknya karena harga sapi per ekornya bisa meningkat sampai jutaan.
Baca juga: Sejarah Serundeng Daging Sapi, Menu Favorit saat Idul Adha di Solo Raya
“Kita tutup itu karena kerugiannya itu sudah bukan ratusan ribu lagi tapi sampai Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per ekornya. Sementara harga daging per kilonya susah untuk dinaikkan,” jelas dia.
Ia pun berharap agar pemerintah bisa segera mengambil kebijakan agar kelangkaan sapi hidup bisa segera terselesaikan.
“Kami berharap pemerintah bisa segera membuka keran impor (sapi) karena beberapa minggu ini tidak ada bongkaran impor. Jadi dari dalam negeri kena, dari luar negeri juga kena,” pungkasnya. (*)