Laporan Wartawan TribunSolo.com, Erlangga Bima
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI – Viral di media sosial sebuah video yang berisi keluhan terhadap layanan ambulans di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri akhirnya mendapat penjelasan dari Pemerintah Kabupaten Wonogiri.
Pemkab menyebut persoalan tersebut terjadi akibat kesalahpahaman dan kini telah diselesaikan melalui mediasi antara pihak rumah sakit dengan keluarga pasien.
Video yang beredar memperlihatkan seorang pria mempertanyakan keberadaan sejumlah ambulans yang terparkir di area rumah sakit.
Dalam video itu, ia mengaku kecewa karena merasa tidak mendapatkan layanan ambulans secara cepat meski beberapa kendaraan terlihat tidak sedang digunakan.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Wonogiri FX Pranata menjelaskan bahwa perekam video merupakan keluarga seorang pasien anak yang sebelumnya datang ke RSUD Wonogiri setelah diduga menelan benda asing berupa kelereng.
"Pasien anak tersebut datang bersama ibu dan pamannya. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter jaga dan dokter spesialis, kondisinya dinilai tidak dalam keadaan gawat darurat, tetapi tetap perlu dirujuk ke RSUD Dr Moewardi Solo untuk penanganan lebih lanjut," jelas Pranata.
Menurutnya, berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi pasien tidak masuk kategori darurat sehingga tidak ada kewajiban menggunakan ambulans untuk proses rujukan ke rumah sakit tujuan.
Selain itu, pihak keluarga juga disebut tidak mengajukan permohonan penggunaan ambulans sesuai prosedur yang berlaku di rumah sakit.
"Pada prinsipnya pasien tidak wajib menggunakan ambulans karena bukan kondisi darurat. Saat itu juga tidak ada permintaan penggunaan ambulans dari pihak keluarga," jelasnya.
Baca juga: Setelah Wonogiri dan Klaten, Minyakita Berbau Minyak Tanah Ditemukan di Karanganyar
Meski demikian, video berisi keluhan terhadap layanan ambulans tersebut telanjur menyebar luas dan memicu berbagai tanggapan dari masyarakat di media sosial.
Menyikapi hal itu, Pemkab Wonogiri segera meminta klarifikasi dari manajemen RSUD Wonogiri serta tenaga medis yang bertugas. Pemerintah daerah juga memfasilitasi mediasi dengan keluarga pasien guna menyelesaikan persoalan yang muncul.
"Hasil mediasi sudah baik dan persoalan telah diselesaikan. Tidak ada masalah lagi antara kedua belah pihak," kata Pranata.
Ia menambahkan, pasien yang sempat dirujuk ke RSUD Dr Moewardi Solo kini telah mendapatkan penanganan medis dan kondisinya membaik.
Baca juga: Puluhan Warga Pracimantoro Geruduk Pemkab Wonogiri, Tolak Pabrik Semen
"Benda yang masuk ke saluran pencernaan berhasil ditangani di rumah sakit rujukan dan pasien sudah kembali ke rumah," ujarnya.
Walaupun persoalan telah selesai, Pemkab Wonogiri menjadikan kejadian tersebut sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya terkait mekanisme rujukan pasien.
Pemerintah bersama manajemen RSUD Wonogiri saat ini mengkaji kemungkinan penyempurnaan standar operasional prosedur (SOP) agar pelayanan lebih mudah dipahami masyarakat dan tetap mengutamakan keselamatan pasien.
"Salah satu yang sedang dikaji adalah pemberian pilihan sarana transportasi bagi pasien rujukan non-darurat. Jika pasien membutuhkan ambulans, rumah sakit tentu akan berupaya memfasilitasi," jelasnya.
Selain evaluasi internal, Pemkab Wonogiri juga menilai edukasi kepada masyarakat mengenai prosedur layanan kesehatan perlu terus ditingkatkan agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berujung pada munculnya informasi yang tidak utuh di ruang publik.
"Yang tidak kalah penting adalah edukasi kepada masyarakat mengenai prosedur layanan kesehatan, sehingga tidak terjadi misinformasi," pungkasnya. (bim)