Dunia Masuki Era Industri 5.0, Dubes RI di Swiss Ingatkan Indonesia Jangan Tertinggal
Nuryanti June 25, 2026 09:38 PM

Laporan wartawan Tribunnews.com, Yudie Thirzano

BIEL, TRIBUNNEWS.COM - Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan jejaring industri global untuk memperkuat daya saing sektor manufaktur nasional.

Peluang tersebut mengemuka dalam ajang The International Smart Factory Summit (ISFS) 2026 yang digelar di Biel, Swiss, Kamis (25/6/2026). 

Tribunnews.com bersama tim jurnalis KG Media berkesempatan mengikuti even tahunan yang digelar di kota produsen jam Omega dan Swatch itu. 

Biel/Bienne adalah kota industri dan pusat pembuatan jam tangan terkenal di Swiss yang terletak di tepi Danau Biel dan kaki Pegunungan Jura sekitar 1,5 jam perjalanan ke timur dari Bern Ibu Kota Swiss.

Kegiatan tahunan yang berlangsung di Switzerland Innovation Park Biel/Bienne itu mempertemukan pelaku industri, peneliti, inovator, dan praktisi teknologi dari berbagai negara untuk membahas masa depan manufaktur cerdas, kecerdasan buatan, dan konsep Industry 5.0.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Swiss bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia-Swiss (Kadin Swiss Chamber) turut menghadiri forum tersebut guna menjajaki berbagai peluang kerja sama teknologi dan industri.

Duta Besar RI untuk Swiss, Ngurah Swajaya, mengatakan perkembangan teknologi manufaktur saat ini telah bergerak menuju era Industri 5.0 yang menempatkan kolaborasi manusia dan teknologi sebagai faktor utama.

"Kami sekarang berada di Smart Factory Center DFKI. Ini semacam inkubator teknologi yang fokus pada pengembangan robotik dan kobotik," ujar Ngurah Swajaya.

Menurutnya, teknologi kobotik atau collaborative robotics memungkinkan robot bekerja dan berinteraksi langsung dengan manusia. Berbeda dengan robot industri konvensional yang beroperasi secara terpisah dari pekerja karena alasan keselamatan.

"Kalau kobotik, robot sudah bisa berinteraksi dengan manusia. Kalau robotik biasa, manusia tidak boleh berada di sekitar robot karena mereka bekerja sesuai program yang diberikan," katanya.

Baca juga: Menilik Fasilitas Keran Air Minum Layak Konsumsi di Sudut Kota-kota di Swiss, Terbersih di Dunia

Ngurah menjelaskan, dalam berbagai pemaparan di ISFS, para ahli menilai dunia kini mulai memasuki era Industri 5.0, melampaui konsep Industri 4.0 yang selama satu dekade terakhir menjadi acuan transformasi manufaktur global.

"Yang menarik, mereka sudah berbicara mengenai Industri 5.0. Jadi tidak lagi Industri 4.0. Bahkan Industri 4.0 nantinya akan dianggap tertinggal," ujarnya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan paparan para pakar dalam forum tersebut, saat ini penguasaan teknologi Industri 5.0 masih didominasi oleh dua negara, yakni Amerika Serikat dan China.

"Bahkan Eropa sendiri mengakui masih tertinggal dalam penguasaan teknologi Industri 5.0 dibandingkan Amerika Serikat dan Tiongkok," kata Ngurah.

Karena itu, Indonesia dinilai perlu segera mengikuti perkembangan tersebut agar tidak tertinggal dalam persaingan industri global yang semakin mengandalkan kecerdasan buatan, otomatisasi, analisis data, serta kolaborasi manusia dan mesin.

Forum ISFS tahun ini membahas berbagai penerapan teknologi manufaktur cerdas, mulai dari AI untuk optimalisasi produksi, sistem robot kolaboratif, digitalisasi pabrik, hingga pengembangan ekosistem industri berkelanjutan yang menjadi fondasi Industry 5.0.

Keikutsertaan Indonesia dalam forum tersebut diharapkan dapat membuka peluang kerja sama investasi, transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan ekosistem industri nasional menuju transformasi manufaktur berbasis teknologi tinggi. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.