International Smart Factory Summit: Masa Depan Manufaktur Harus Inklusif dan Berpusat pada Manusia
Mellinia Pranandari Putri Krist June 25, 2026 09:42 PM

- Perubahan iklim dan pesatnya perkembangan teknologi menjadi dua tantangan utama yang tengah dihadapi sektor manufaktur global.

Kedua isu tersebut mengemuka dalam International Smart Factory Summit yang berlangsung di Biel/Bienne, Swiss, Kamis (25/6/2026).

Dalam forum tersebut, para pembicara dari berbagai institusi internasional menegaskan bahwa transformasi industri tidak hanya berfokus pada penerapan teknologi.

Namun hal itu harus memperhatikan aspek manusia serta pemerataan akses terhadap inovasi.

Industrial Development Advocate United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), Rafik Feki, menekankan pentingnya perubahan cara dunia memproduksi barang dan jasa agar lebih berkelanjutan.

Menurutnya, konsep teknologi yang inklusif masih jauh dari kenyataan karena akses terhadap teknologi modern belum merata di berbagai negara maupun kelompok masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa tanpa transformasi digital yang merata, kesenjangan pembangunan berpotensi semakin melebar.

Oleh sebab itu, International Smart Factory Summit dinilai menjadi platform penting untuk berbagi pengetahuan, membangun jaringan inovasi, serta mengembangkan kerangka kerja dan kemitraan yang inklusif.

Rafik menjelaskan, UNIDO terus bekerja sama dengan berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk memperluas akses teknologi sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Masa depan manufaktur bukan hanya tentang menjadi lebih cerdas (smart), tetapi juga harus inklusif dan berpusat pada manusia (human-centric),” ujar Rafik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.