Profesor Youmin Xi: Bahaya Terbesar AI Bukan Kehilangan Pekerjaan, Tapi Kehilangan Kreativitas
Willem Jonata June 25, 2026 10:19 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat mendorong perguruan tinggi menyesuaikan metode pembelajaran agar lulusannya memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Di tengah kekhawatiran bahwa AI dapat membuat mahasiswa bergantung pada teknologi, sejumlah kalangan pendidikan justru menilai mahasiswa perlu dibekali kemampuan untuk memahami dan menggunakan AI secara tepat, bukan dijauhkan darinya.

Presiden Eksekutif Xi'an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU), Profesor Youmin Xi, mengatakan tantangan terbesar bukan terletak pada keberadaan AI itu sendiri, melainkan bagaimana manusia dapat bekerja berdampingan dengan teknologi tersebut tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas.

Baca juga: Paus Leo XIV Rilis Ensiklik Pertama, Tegaskan Kecerdasan Buatan Harus Melayani Kemanusiaan

"Perkembangan AI menuntut perubahan dalam proses pembelajaran yang selama ini cenderung berfokus pada aktivitas mendengar, menghafal, dan mengingat informasi," kata Xi dalam diskusi media rangkaian peringatan 20 tahun XJTLU di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Menurut pakar pendidikan internasional ini, mahasiswa perlu memahami teknologi AI sejak awal masa studi, termasuk mengetahui manfaat, keterbatasan, serta aspek etis dalam penggunaannya.

"Mahasiswa harus memahami apa itu AI, bagaimana menggunakannya, dan bagaimana bekerja bersama AI secara benar," ujarnya.

Akademisi yang dikenal sebagai pakar manajemen ini  menjelaskan pemahaman tersebut perlu diberikan secara bertahap.

Pada tahun pertama, mahasiswa dibekali literasi digital untuk mengenal teknologi AI sekaligus mempelajari etika penggunaannya agar memahami batas-batas pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.

Pada tahun berikutnya, mahasiswa mulai diperkenalkan pada penerapan AI yang lebih spesifik sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Menurut Xi, penggunaan AI dalam matematika tentu berbeda dengan teknik maupun ilmu sosial karena setiap disiplin ilmu memiliki kebutuhan dan pendekatan yang berbeda.

Memasuki tahun-tahun selanjutnya, mahasiswa didorong memanfaatkan AI sebagai alat bantu dalam penelitian maupun pengembangan inovasi.

"Tujuannya agar mahasiswa memahami AI dengan baik, memiliki kemampuan bekerja bersama AI, dan mampu menciptakan ide-ide baru," katanya.

Kreativitas Tetap Menjadi Keunggulan Manusia

Meski kemampuan AI terus berkembang, Xi menilai ada aspek yang masih menjadi keunggulan manusia, yakni kemampuan berimajinasi, berkreasi, dan mengintegrasikan berbagai bidang pengetahuan untuk melahirkan gagasan baru.

"Itu lebih penting untuk masa depan. Itulah kreativitas manusia," ujarnya.

Karena itu, menurut dia, pendidikan tinggi perlu memberi lebih banyak ruang bagi mahasiswa untuk berlatih menyelesaikan persoalan nyata, bukan hanya mempelajari teori di ruang kelas.

Xi berpendapat kemampuan menciptakan ide baru tidak cukup diajarkan secara teoritis, tetapi harus dilatih melalui pengalaman langsung. Salah satu caranya adalah dengan mempertemukan mahasiswa dengan berbagai tantangan yang dihadapi dunia industri.

Ia mencontohkan, XJTLU bekerja sama dengan berbagai perusahaan untuk menghadirkan persoalan dan proyek nyata ke dalam proses pembelajaran.

Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diajak mencari solusi atas masalah yang benar-benar terjadi di lapangan dengan pendampingan dosen, mentor profesional, maupun praktisi industri.

"Proses belajar perlu bergerak dari model tradisional yang berfokus pada mendengar dan mengingat menuju pembelajaran berbasis pengalaman. Ini membantu mahasiswa mengintegrasikan pengetahuan yang mereka pelajari dan mengembangkannya menjadi solusi baru," kata Xi.

Menurutnya, kombinasi antara literasi AI, pemahaman etika teknologi, kreativitas, serta pengalaman menyelesaikan persoalan nyata menjadi bekal penting agar lulusan mampu memanfaatkan AI sebagai alat pendukung tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan inovatif.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.