TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perdebatan di kalangan militer dan intelijen Amerika Serikat memasuki babak baru setelah muncul kesaksian mengejutkan dari pilot pesawat tempur F-15E Strike Eagle yang ditembak jatuh di wilayah Iran pada April 2026.
Bukan hanya soal bagaimana pesawat itu bisa dilumpuhkan, tetapi juga apa yang dilihat sang pilot sesaat sebelum ia melontarkan diri dari kokpit.
Menurut laporan yang pertama kali diungkap CNN, pilot tersebut mengaku melihat sejumlah drone melayang di udara dalam formasi tidak biasa.
Drone-drone itu disebut bergerak bersamaan dan membentuk pola menyerupai ubur-ubur raksasa yang mengambang di langit.
Kesaksian itu langsung memicu perdebatan sengit di komunitas intelijen AS.
Analis pertahanan asal India, Sumit Ahlawat, menilai, jika pengamatan sang pilot benar, maka Iran diduga telah mencapai lompatan teknologi besar dalam pengembangan sistem drone tempur yang selama ini belum pernah terdeteksi secara terbuka.
Sementara, Eurasian Times yang mengutip CNN melaporkan, ada seorang sumber yang mengetahui hasil debriefing pilot tersebut menggambarkan objek yang terlihat sebagai beberapa drone besar yang saling terhubung, sementara di bawahnya terdapat drone-drone lebih kecil yang menyerupai kaki.
"Beberapa drone saling terhubung dan bergerak sebagai satu kesatuan, dengan drone-drone kecil menggantung di bawahnya seperti kaki. Benar-benar terlihat seperti teknologi dari dunia lain," kata sumber tersebut sebagaimana dikutip CNN.
Sumber lain bahkan menyebut pilot menggambarkan pemandangan itu sebagai "ladang ranjau drone" yang memenuhi ruang udara di sekitarnya.
Muncul dugaan awal bahwa formasi drone tersebut mungkin berperan dalam membantu sistem pertahanan Iran mendeteksi dan menjatuhkan F-15 Amerika. Meski demikian, penyebab pasti insiden tersebut masih berada dalam tahap investigasi.
Yang membuat laporan ini semakin menarik adalah konteks perang yang lebih luas. Sebelumnya, militer AS juga diguncang laporan bahwa Iran berhasil mendeteksi dan menyerang pesawat siluman F-35 Lightning II, sesuatu yang selama ini dianggap sangat sulit dilakukan karena teknologi stealth yang dimiliki pesawat tersebut.
Sejumlah analis menduga apa yang dilihat pilot F-15 merupakan bukti bahwa Iran telah mengembangkan teknologi "swarm drone" atau kawanan drone yang dapat saling berkomunikasi melalui jaringan data dan bergerak secara terkoordinasi.
Dalam konsep ini, drone tidak hanya menerima perintah dari operator, tetapi juga dapat berkomunikasi satu sama lain, berbagi informasi, serta mengubah formasi secara otomatis sesuai kondisi medan tempur.
"Bila benar dimiliki Iran, kemampuan tersebut akan menjadi perubahan besar. Selama ini Teheran dikenal mengandalkan produksi massal drone murah seperti Shahed yang digunakan untuk serangan satu arah atau serangan saturasi bersama rudal balistik dan rudal jelajah," kata Sumit Ahlawat
Namun sebagian analis menilai ada kemungkinan lain yang lebih sederhana. Mereka menduga pilot sebenarnya melihat sejumlah drone patroli yang ditempatkan di jalur-jalur yang biasa digunakan pesawat tempur Amerika saat memasuki wilayah Iran.
Dalam skenario tersebut, Iran tidak perlu memiliki teknologi kawanan drone canggih. Cukup dengan menempatkan banyak drone di satu area, pilot yang hanya melihatnya dalam hitungan detik bisa mengira seluruh drone bergerak sebagai satu formasi besar.
Perhatian para analis juga tertuju pada sistem senjata Iran yang dikenal sebagai Product 358. Sistem ini merupakan kombinasi antara drone patroli dan rudal pertahanan udara yang dapat berkeliling secara mandiri di wilayah tertentu sambil mencari target sebelum melakukan pencegatan.
Sejumlah pakar meyakini Product 358 berpotensi menjadi salah satu faktor yang menjelaskan bagaimana Iran mampu memburu target udara modern, termasuk pesawat siluman F-35 dan F-15 milik Amerika.
Meski demikian, laporan tersebut masih diperlakukan dengan hati-hati. CNN tidak memperoleh kesaksian langsung dari pilot, melainkan dari sejumlah sumber yang mengetahui isi debriefing setelah misi berlangsung.
Para pejabat intelijen AS sendiri disebut mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya dilihat sang pilot. Dalam proses pemeriksaan, mereka bahkan sempat menanyakan apakah ia benar-benar yakin terhadap apa yang ia saksikan di udara.
Keraguan itu muncul karena pilot tempur kerap mengalami ilusi optik, disorientasi ruang, atau efek "kabut perang" ketika berada dalam situasi pertempuran berintensitas tinggi.
Apalagi pilot F-15 tersebut dilaporkan sudah dua kali mengalami insiden pesawat ditembak jatuh dalam rentang waktu hanya satu bulan.
Hingga kini belum ada kesimpulan final mengenai apa yang sebenarnya terjadi di langit Iran pada hari ketika F-15 Amerika jatuh.
Namun satu hal sudah pasti: kesaksian tentang "kawanan drone berbentuk ubur-ubur" telah membuka pertanyaan baru mengenai sejauh mana kemajuan teknologi militer Iran. Sepertinya Barat selama ini meremehkan kemampuan yang dimiliki Teheran.