Jakarta (ANTARA) - Gitaris grup band indie rock Reality Club, Nugi Wicaksono, mengatakan tujuan akhir dari pembuatan karya musik adalah dengan membangun ikatan nyata dengan pendengarnya.

​"Sadarilah bahwa ini adalah koneksi antarmanusia pada akhirnya. Jadi semua alat bantu ini adalah alat untuk membangun koneksi antarmanusia juga, baik itu daring (online) ataupun luring (offline), termasuk juga dari karya-karya kita semua," kata Nugi sebagai panelis diskusi musik Indonesia bersama Spotify di Jakarta, Kamis.

​Gagasan mengenai pentingnya hubungan emosional yang autentik dengan pendengar dalam bermusik ini juga didukung oleh gitaris Reality Club, Faiz Novascotia Saripudin.

​"Ketika itu datang dari tempat yang autentik, itu akan membawamu melewati masa-masa kelam. Karena saat ini, musik tidak selalu harus langsung meledak pada perilisan pertama," ujar Faiz.

​Faiz menambahkan bahwa koneksi antara musisi dengan pendengarnya ini menjadi sangat organik karena pendengar musik modern cenderung memperlakukan lagu kegemaran mereka sebagai bagian dari penegasan identitas diri.

Menurut Faiz, pada dasarnya masyarakat tidak hanya menikmati musik, tetapi juga memperlakukannya sebagai identitas diri.

"Mereka ingin menunjukkan kepada orang-orang seperti, 'Aku mendengarkan band ini atau aku mendengarkan musisi ini dan aku keren.' Aku pikir bahkan orang-orang mengidentifikasi kepribadian mereka saat ini dengan musisi yang mereka dengarkan," tambah Faiz.

Bagi para musisi indie lokal, data digital memang menunjukkan tren positif, salah satunya melalui catatan Spotify yang menunjukkan pertumbuhan royalti musisi Indonesia sebesar 16 persen secara tahunan (year-on-year) di pasar domestik dan luar negeri.

Vokalis Reality Club, Fathia Izzati, juga merasakan ketertarikan dari luar negeri terhadap ekosistem domestik ini berdasarkan pengalamannya melakukan pertunjukan di Malaysia, Singapura, hingga Amerika.

Ia mengatakan musisi dari luar negeri sering bertanya tentang kondisi industri di Indonesia, dan Reality Club selalu menjelaskan bahwa para musisi serta media di Indonesia saling memberikan dukungan satu sama lain.

Fokus utama saat ini, menurut dia, adalah membangun lebih banyak titik interaksi agar pendengar mau menjelajah lebih dalam ke lagu-lagu kurang populer serta lagu sisi-B (B-sides) milik musisi idola mereka.

Pada kesempatan yang sama, Head of Music Spotify Southeast Asia, Kossy Ng, menjelaskan bahwa pihak perusahaan selalu mengumpulkan seluruh umpan balik dari para musisi untuk memperbarui sistem "Spotify for Artists".

"Alat Spotify for Artists sebenarnya dibangun bersama oleh para artis dan manajer. Kalian hampir seperti membantu dalam proses R&D (research and development)," kata Kossy Ng dalam diskusi industri musik tersebut.

Pihak perusahaan menargetkan pengelolaan penggemar militan (super listeners) dapat dimaksimalkan oleh musisi melalui dasbor digital tersebut.

Berdasarkan data internal perusahaan, kelompok penggemar militan ini rata-rata hanya berjumlah dua persen dari total pendengar bulanan seorang musisi.

Namun, kelompok kecil tersebut mampu menyumbang lebih dari 18 persen jumlah pemutaran lagu (streaming) bulanan. Mereka juga mendominasi 50 persen dari total penjualan tiket konser artis melalui platform musik digital tersebut.