Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon
POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Dokter Icha, korban dugaan intimidasi oleh dua anggota DPRD Kabupaten TTU melaporkan insiden tersebut ke Badan Kehormatan (BK) DPRD TTU. Laporan tersebut disampaikan dan diterima oleh Wakil Ketua DPRD TTU.
Laporan tersebut dilayangkan setelah, Dokter Icha menyerahkan laporan tertulis yang berisi kronologi lengkap perihal peristiwa tersebut. Laporan yang sama juga telah disampaikan secara lisan dan tertulis kepada IDI Cabang TTU.
Laporan tertulis kepada BK DPRD TTU ini diserahkan oleh ayah dari Dokter Icha, Gabriel Pakaenoni.
Penyerahan laporan tersebut dilayangkan sebagai bukti keseriusan mengungkap fakta di balik insiden itu.
Baca juga: Dua Anggota DPRD TTU Diduga Lakukan Intimidasi Terhadap Seorang Dokter di RS Leona
Gabriel Pakaenoni mengatakan, laporan tersebut disampaikan agar Badan Kehormatan DPRD bisa meneliti dan memproses sesuai mekanisme serta ketentuan yang berlaku. Hal ini dimaksudkan agar tenaga kesehatan yang menjalankan tugas bisa diberikan perlindungan.
Proses yang dilakukan oleh BK DPRD diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang menjunjung tinggi etika dan kehormatan lembaga. Di sisi lain, langkah ini diharapkan menjadi pembelajaran agar insiden serupa tidak terjadi lagi.
"Supaya serupa tidak kembali dialami tenaga kesehatan di masa mendatang," ujarnya, Kamis, 25 Juni 2026.
Sebelumnya, Dua orang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani diduga mengintimidasi seorang dokter bernama Icha di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Paman dari Dokter Icha bernama, Victor Manbait menjelaskan, pada Sabtu, 13 Juni 2026, seorang pasien anak yang digigit ular dibawa keluarganya ke IGD RS Leona untuk mendapatkan penanganan medis. Pasien anak itu merupakan pasien rujukan dari RSUD Kefamenanu.
Pasien itu ditangani oleh dr. Icha yang saat itu bertugas sebagai dokter jaga. Dalam memberikan pelayanan, dr. Icha melakukan pemeriksaan dan berkonsultasi dengan dokter spesialis sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil pemeriksaan dan konsultasi medis dengan dokter ahli bisa sesuai SOP, pasien belum direkomendasikan untuk diberikan vaksin tertentu. Di sisi lain, RSU Leona tidak memiliki stok vaksin yang diminta keluarga pasien.
Dr. Icha, ujar Viktor, menjelaskan kondisi tersebut kepada keluarga pasien.
Meskipun begitu, keluarga pasien enggan menerima penjelasan yang diberikan dan meminta agar pasien segera diberikan vaksin.
"Dalam situasi tersebut, salah seorang anggota keluarga pasien berbicara dengan nada tinggi kepada dr. Icha dan mengaku sebagai anggota DPRD TTU," ujarnya, Minggu, 21 Juni 2026.
Tidak lama kemudian, seorang pria lain masuk ke ruang IGD dan turut menyampaikan protes dengan nada keras. Orang tersebut juga mengaku sebagai anggota DPRD Komisi III, Norbertus Tubani.
Dikatakan Viktor, oknum anggota DPRD TTU ini menunjuk-nunjuk dokter Icha dan menyebut bahwa dirinya merupakan anggota DPRD TTU yang bermitra dengan Dinas Kesehatan.
Dr. Icha berusaha memberikan penjelasan terkait kondisi pasien dan alasan medis yang mendasari tindakan yang diambil. Meskipun demikian, penjelasan tersebut tidak diterima sehingga dr. Icha merasa tertekan dan menangis.
Baca juga: Bantah Intimidasi Kepada Dokter, Anggota DPRD TTU: Kami Hanya Minta Hasil Pemeriksaan Darah Pasien
Kejadian tersebut kemudian dilaporkan Dokter Icha dengan menelepon pimpinan RS Leona. Yang bersangkutan (Direktris RSU Leona) datang ke IGD untuk menenangkan situasi dan memberikan penjelasan kepada keluarga pasien bahwa tindakan medis yang dilakukan telah sesuai SOP dan hasil konsultasi dengan dokter spesialis.
"Setelah situasi dapat dikendalikan, pasien tetap menjalani observasi di RS Leona," ungkapnya.
Pada Minggu, 14 Juni 2026 sore, saat hendak kembali bertugas, dr. Icha melihat dua orang yang sebelumnya terlibat dalam peristiwa tersebut berada di lingkungan rumah sakit. Karena masih dihantui rasa takut dan tertekan akibat kejadian sehari sebelumnya, dr. Icha memilih kembali ke tempat tinggalnya.
Sekira pukul 19.00 WITA, ucap Viktor, rekan-rekan kerja Dokter Icha berusaha menghubunginya namun tidak mendapat respons. Mereka kemudian mendatangi tempat tinggal dr. Icha dan menemukan yang bersangkutan dalam kondisi lemah. Ia kemudian dibawa ke RS Leona untuk mendapatkan penanganan medis.
Setelah menerima perawatan medis, dr. Icha menyampaikan bahwa ia masih mengalami ketakutan dan tekanan psikologis akibat bentakan serta perlakuan yang dialaminya saat bertugas di IGD.
Viktor menyebut, ia dan paman Dokter Icha lain, Olis Pakaenoni pada Selasa, 18 Juni 2026 telah mendatangi Kantor DPRD TTU untuk meminta perlindungan bagi tenaga medis dan menyampaikan keberatan atas tindakan yang diduga dilakukan oleh dua anggota DPRD tersebut. (bbr)