Tak hanya Pecinan atau Kampung Arab, di Jakarta juga ada Kampung Tugu, kampung yang isinya para keturunan Portugis. Nama-namanya susah dihafal lidah Betawi.
Penulis: Muhammad Sulhi | tayang di Majalah Intisari edisi Juni 2002 dengan judul “Kampung Tugu Komunitas Portugis di Jakarta”
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Di sebuah malam nan syahdu, awal Mei 2002 dulu, dari Museum Tekstil, Tanah Abang, Jakarta, terdengar alunan merdu tembang Santa Lucia. Bersamaan dengan itu, bunyi crong-crong ukulele bersenar empat dan macina (gitar ukuran sedang) bak mengiringi setiap langkah Presiden Megawati yang hadir sebagai tamu istimewa.
Banyak pengunjung pembukaan pameran bernuansa Portugal itu takjub, lagu secantik itu bisa dikeroncongkan dengan begitu dinamis.
Sejurus kemudian, beberapa lagu lain dimainkan orkes keroncong bernama lengkap Cafrinho Tugu ini. Namanya agak asing di telinga kebanyakan orang Indonesia, semisal Amapola, AJs de Zon, atau La Paloma.
Nama vokalis sekaligus pimpinan orkes keroncong yang bermarkas di Kampung Tugu, sekitar 3 km dari bundaran Semper, Tanjung Priok, itu pun tak kalah aneh, Samuel Quiko. Datang langsung dari Portugal-kah mereka?
Melihat warna kulitnya yang sawo matang, mestinya bukan. Dagu mereka pun lebar, beda dengan sebagian besar tamu Portugal yang berdagu lancip. Mereka juga punya KTP Jakarta Utara, jadi jelas bukan WNA. Dialek Betawi-nya sangat kental, sulit dibedakan dengan orang Betawi di kawasan lain Ibukota.
Dalam perjalanan sejarah Jakarta, masyarakat Tugu keturunan Portugis, asal-usul Samuel, memang dikenal sebagai salah satu pemukim awal. Tapi mengapa keberadaan mereka kini mulai terancam?
Keroncong oke, band boleh
“Nenek moyang kami memang orang Portugis keturunan India, Sri Lanka, dan Malaka yang dibawa Belanda ke Batavia,” jelas Samuel Quiko di rumahnya, dekat Gereja Tugu yang dibangun tahun 1747 oleh tuan tanah Cilincing asal Belanda (juga pemilik Tanah Abang dan Senen) Justinus Vinck.
Konon, gelombang pertama kedatangan para pedagang dan tentara Portugis yang ditawan Belanda itu terjadi sekitar tahun 1661. Itu artinya, beberapa puluh tahun setelah Jan Pieterszoon Coen menaklukkan Batavia pada 1619.
Mereka berasal dari Goa, Malabar, Coromandel, Bengali, hingga Malaka. “Kayaknya kita sengaja ditempatkan di hutan belukar, bukan dalam benteng Batavia, agar mati pelan-pelan,” cetus Samuel, antara bercanda dan serius.
Sialnya, di masa awal kemerdekaan, stempel “keturunan Eropa” sempat membuat mereka terpojok. Julukan “antek kompeni” begitu sering mampir di telinga. Alhasil, banyak warga Tugu tidak betah. “Sebagian ngungsi ke Belanda,” kenang Samuel.
Letak geografis Tugu yang (dulu) terisolasi, memudahkan mereka mempertahankan ke-Portugisan-nya. Mereka pun melakukan perkawinan antar-kalangan sendiri (closed marriage, bahkan diwajibkan hingga akhir abad ke-19).
“Asalkan fam-nya (nama keluarga) tidak sama,” ujar Samuel yang memiliki fam Quiko. Saat pertama kali menginjakkan kaki di bumi Batavia, ada belasan nama fam beredar di Kampung Tugu.
Namun dengan semakin terbukanya Tugu, tinggal enam fam yang bertahan sampai sekarang: Quiko, Andries, Michilies, Braume, Cornells, dan Abrahams. Sisanya tak lagi memiliki garis keturunan, atau sengaja melepas fam-nya karena menikah dengan etnis lain.
“Sejak abad ke-20, perkawinan antaretnis mulai sering terjadi. Saya sendiri punya darah Cina,” aku Samuel, yang bermata sedikit sipit itu.

Kini keturunan Portugis yang masih tinggal di sekitar Gereja Tugu diperkirakan kurang dari 100 orang. Sangat kecil jika dibandingkan dengan tingkat survival mereka yang hampir empat abad.
“Kalau dikumpulkan dengan yang ada di Jakarta dan daerah lainnya, mungkin bisa 500 orang,” jelas Samuel.
Kemampuan mereka berbahasa Portugal “dialek Tugu” pun mulai hilang. “Habis enggak ada lawan-nya," bilang Guido Quiko alias Edo, putra Samuel.
Ucapan Edo yang telah punya satu album bersama band-nya, “Fenomena”, bisa mewakili generasi muda Tugu yang sulit menghindar dari "dunia luar". Apalagi bahasa Portugis Tugu sangat eksklusif karena kaya dengan modifikasi lokal, hingga agak berbeda dengan bahasa leluhurnya.
Untungnya, Edo tetap setia main keroncong. Semangat yang sudah jarang dimiliki kebanyakan pemuda Tugu.
Mereka enggan menyalurkan bakat musiknya lewat grup-grup keroncong yang ada: Caffinho, Morisco, Tugu, atau Tugu Ren Jaya. Padahal, selain fam dan bangunan gereja, keroncong Tugu punya sejarah dan budaya tak ternilai.
Empat abad lalu, dari kampung tersebut musik warisan Portugal ini dipopulerkan.
Di Cafrinho sendiri cuma Samuel dan Edo yang asli keturunan Tugu Portugis. Sisanya datang dari pelbagai pelosok Nusantara.
Formasi yang manggung di Museum Tekstil pada Mei 2002 lalu itu pun formasi paling modern. Ada pemain gitar kecil (prunga), gitar sedang (macina), gitar besar (jitera), biola, celo, gitar akustik, dan rebana.
Keroncong Tugu juga menginspirasi mazhab baru perkeroncongan. Menjelang abad ke-20, para “buaya keroncong” Kemayoran, sebagian besar sinyo-sinyo Belanda, mencoba memasukkan unsur jazz.
Hasilnya keroncong yang crong-crong-nya lebih mendayu-dayu, dikenal sebagai Keroncong Kemayoran. Sedangkan langgam Jawa berkembang sekitar 1950-an, dipopulerkan grup Keroncong Irama Langgam pimpinan Sutedjo dan Orkes Keroncong Bintang Surakarta pimpinan Waldjinah.
Bagaimana dengan ritual budaya? Satu-satunya “upacara adat” yang masih dipelihara hanya perayaan tahun baru.
Menjelang 1 Januari, mereka bermain musik dari rumah ke rumah, sampai semua kediaman orang Tugu tersambangi. Nah, setiap penghuni rumah biasanya mewajibkan para pengamen dadakan ini "minum".
“Karena mabuk, kami jadi cepat ambruk,” ucap Samuel. Pekan pertama di tahun baru, perayaan ditutup dengan mandi bersama, simbol sikap saling memaafkan.
Begitulah Kampung Tugu. Di tengah komunitas yang kian susut, batas kampung makin lebar, dan tatanan nilai terus berubah, perjuangan mempertahankan warisan leluhur tampaknya baked makin susah.
Bukan tak mungkin, suatu saat Kampung Tugu hanya akan dikenal sebatas napas dan jiwa, bukan lagi sebuah kelompok masyarakat yang punya ciri khas, seperti yang kini kitaa tahu. (Muhammad Sulhi)