BANJARMASINPOST.CO.ID - Setiap siswa yang telah menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA memang sudah selayaknya memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Karena itu, seleksi nasional yang diselenggarakan pemerintah sejatinya merupakan instrumen penting untuk menjaring calon mahasiswa yang memiliki potensi akademik dan dapat berkembang di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Namun ketika muncul fakta bahwa banyak yang telah dinyatakan lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) justru tidak melakukan daftar ulang, tentu ini menjadi perhatian serius bagi kita semua.
Menurut Pemerhati Pendidikan ULM, M. Yamin, persoalan ini tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Faktor ekonomi, kemungkinan menjadi salah satu penyebab utama.
"Kita harus jujur mengakui bahwa kondisi ekonomi masyarakat saat ini tidak selalu stabil. Di tengah berbagai kebutuhan hidup yang semakin meningkat, biaya pendidikan tinggi masih menjadi beban yang cukup besar bagi sebagian keluarga, terutama kelompok menengah ke bawah,"ungkapnya.
Baca juga: 20 Siswa MAN IC Tanahlaut Lolos SNBP 2026 di Banyak Perguruan Tinggi Ternama, Lakukan Persiapan Ini
Diakuinya, memang pemerintah telah menyediakan berbagai program bantuan pendidikan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah maupun berbagai beasiswa dari pemerintah daerah, perbankan, dan lembaga lainnya.
Namun, harus diakui bahwa jumlah yang diterima tak banyak dan proses seleksinya cukup ketat. Tidak semua mahasiswa yang membutuhkan bantuan dapat memperoleh fasilitas tersebut.
Karena itu, ia tidak menyalahkan para calon mahasiswa yang akhirnya memilih mundur.
"Saya juga tidak menyalahkan orangtua mereka,"imbuhnya.
Menurutnya, dalam banyak kasus, keputusan tersebut lahir dari pertimbangan realistis.
Terkadang keluarga harus memilih langkah yang paling aman sesuai kemampuan yang dimiliki daripada memaksakan sesuatu yang justru berisiko menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.
Di sisi lain, faktor ekonomi bukan satu-satunya kemungkinan. Bisa saja ada peserta yang merasa jurusan yang diterima tidak sesuai dengan minat dan rencana masa depannya.
Bisa pula, ada yang akhirnya memilih perguruan tinggi lain yang menurut mereka lebih sesuai.
"Karena itu saya menilai pemerintah perlu melakukan pemetaan yang lebih mendalam terhadap fenomena ini. Jangan hanya melihat angka 60 ribu sebagai statistik semata,"katanya.
Di balik angka tersebut, ia meyakini terdapat beragam alasan yang perlu dipahami untuk menjadi dasar penyusunan kebijakan pendidikan tinggi di masa mendatang.
Ia juga tidak setuju apabila muncul wacana untuk memberikan sanksi atau melakukan blacklist kepada sekolah asal siswa yang mengundurkan diri setelah lolos SNBP.
Menurutnya, niat sekolah yang mendorong siswanya mengikuti seleksi sudah baik. Niat siswa untuk mencoba masuk perguruan tinggi negeri juga baik. Perguruan tinggi pun tentu memiliki niat baik dalam membuka kesempatan pendidikan.
Baca juga: Prestasi Pelajar Kalsel, Lolos SNBP Universitas Ternama Indonesa hingga Diterima Kampus Top Dunia
Yang perlu dicari bukan siapa yang salah, melainkan mengapa mereka memilih mundur. Apakah karena faktor ekonomi, ketidaksesuaian minat, atau persoalan lainnya.
"Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan kementerian terkait,"ungkapnya.
Dalam konteks yang lebih luas, fenomena ini juga menunjukkan pentingnya keterlibatan orangtua dalam proses perencanaan pendidikan anak.
" Jangan sampai pilihan jurusan atau perguruan tinggi dilakukan hanya karena ikut-ikutan teman atau sekadar mengikuti tren,"pungkasnya.(Banjarmasinpost.co.id/Rifki Soelaiman)