Dosen UB Temukan 4 Spesies Baru Kumbang di Hutan Kampus, Satu Dinamai Amasa brawijaya
GH News June 26, 2026 11:08 AM
Jakarta -

Kawasan hutan milik Universitas Brawijaya (UB) atau UB Forest di Jawa Timur kembali mencatatkan temuan ilmiah penting. Tim peneliti UB bersama ilmuwan dari Amerika Serikat dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan empat spesies baru kumbang.

Kumbang tersebut merupakan kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu. Salah satu dari jenis kumbang baru tersebut diberi nama sebagai bentuk penghormatan kepada Universitas Brawijaya.

Adapun penelitian dipimpin Guru Besar Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan UB, Prof Dr Agr Sc Hagus Tarno, SP, MP, bersama Yogo Setiawan, SP, MP, yang saat ini menempuh studi doktoral di Kagoshima University, Jepang.

Dalam penelitian tersebut, tim berhasil mendeskripsikan empat spesies baru, yakni Crossotarsus gunungapi, Cosmoderes arjuno, Cosmoderes opacus, dan Amasa brawijaya.

Pengambilan data untuk riset ini telah dimulai sejak Oktober 2024 di UB Forest. Riset dilakukan melalui kolaborasi dengan University of Florida, Michigan State University, serta BRIN.

Di Balik Penamaan Amasa brawijaya

Penamaan ternyata tak cuma hanya karena penghormataan terhadap UB. Nama tersebut juga merujuk pada warisan sejarah Kerajaan Majapahit.

Prof Hagus berharap penamaan itu dapat memperkenalkan nama UB di dunia internasional lewat publikasi ilmiah. Ia juga berharap UB dapat menjadi tempat berkembangnya penelitian biodiversitas.

"Kami ingin nama Brawijaya tidak hanya dikenal sebagai perguruan tinggi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah sains dunia. Ketika orang mencari atau mempelajari spesies ini, mereka akan mengetahui bahwa spesies tersebut ditemukan melalui penelitian yang dilakukan di Universitas Brawijaya," Kata Prof Hagus dalam keterangan resminya, Jumat (26/6/2026).

Proses Penemuan Kumbang Spesies Baru

Menariknya, sampel kumbang ini diambil dari ranting dan kayu kering yang jatuh di lantai hutan. Lazimnya, kumbang ambrosia ditemukan di berbagai jenis pohon, seperti pinus, kopi, sonokembang, hingga Ficus.

"Kumbang ambrosia memiliki keunikan karena hidup bersimbiosis dengan jamur. Mereka membuat terowongan di dalam kayu dan menumbuhkan jamur sebagai sumber makanannya," kata Prof Hagus.

Adapun analisis kumbang dilakukan menggunakan dua pendekatan utama yakni analisis morfologi dan analisis molekuler berbasis DNA. Lewat analisis morfologi, peneliti membandingkan ciri fisik spesimen dengan koleksi yang tersimpan di berbagai musuem serangga.

"Kami membandingkan karakter morfologinya dengan spesies yang telah tersimpan di berbagai museum serangga dunia. Selain itu, kami juga melakukan analisis DNA untuk memastikan perbedaannya secara genetik. Jika hasilnya menunjukkan adanya perbedaan signifikan dengan spesies yang telah diketahui sebelumnya, maka spesimen tersebut dapat ditetapkan sebagai spesies baru," terang Prof Hagus.

Kini, temuan tersebut sudah dipublikasikan dalam jurnal internasional

Untuk mengamankannya, spesimen Amasa brawijaya telah disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) milik BRIN sebagai koleksi ilmiah sekaligus referensi penelitian biodiversitas Indonesia.

"Ke depan kami ingin membangun jejaring penelitian yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Harapannya, siapa pun yang ingin mempelajari kumbang ambrosia akan datang dan bekerja sama dengan Universitas Brawijaya," tutupnya.

Cicin Yulianti
Jurnalis detikcom. Lulusan Jurnalistik Unpad, di detikcom sejak 2022. Spesialis menulis topik pendidikan, kampus, sekolah, beasiswa, riset, dan kehidupan pelajar/mahasiswa.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.