TRIBUNLOMBOK.COM — Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi, perekonomian nasional tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I-2026 atau melampaui sebagian besar negara anggota G20.
Fondasi makroekonomi yang dinilai tetap kokoh meski sempat diguncang tekanan pasar keuangan pada Mei-Juni 2026.
Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keynote speech pada acara Bisnis Indonesia Economic Insights 2026 bertema "Navigating the Era of Unprecedented Uncertainty" di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Pertumbuhan ekonomi 5,61 persen ditopang oleh kuatnya konsumsi pemerintah, ketangguhan permintaan rumah tangga, serta berlanjutnya aktivitas investasi.
Inflasi terkendali di angka 3,08 persen, cadangan devisa bertengger kokoh di 144,9 miliar dolar AS, realisasi investasi menembus Rp498,8 triliun, penyaluran kredit tumbuh 11,51 persen, PMI manufaktur kembali ekspansif di batas 50,0, serta neraca perdagangan mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut.
Baca juga: Stimulus Ekonomi 2026: Diskon Tiket Transportasi, Bantuan Beras 10 Kg, Subsidi Harga Kedelai
"Seluruh indikator ini menegaskan bahwa perekonomian Indonesia berdiri di atas fondasi yang sehat, resilien, dan siap melanjutkan momentum pertumbuhan," ujar Airlangga, dikutip dari laman resmi Kemenkoekonomi.
Pertumbuhan ekonomi juga bersifat merata hingga ke luar Jawa. Wilayah Sulawesi bahkan mencatat pertumbuhan 6,95 persen, sementara Bali dan Nusa Tenggara tumbuh lebih tinggi lagi di angka 7,93 persen keduanya melampaui rata-rata nasional.
Industri pengolahan menjadi mesin utama pertumbuhan di sebagian besar wilayah, menandai transformasi ekonomi yang semakin menyebar ke berbagai daerah.
Perjalanan ekonomi semester I-2026 tidak sepenuhnya mulus. Pada Mei-Juni 2026, nilai tukar Rupiah sempat tertekan hingga menyentuh Rp18.171 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi ke level 5.594 yang dipicu kombinasi tingginya kebutuhan dolar dan sentimen negatif dari pasar global.
Pemerintah bersama otoritas terkait bergerak cepat. Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan ke 5,75 persen, intervensi pasar dilakukan secara terukur, dan kredibilitas fiskal diperkuat.
Hasilnya Rupiah kini kembali menguat ke kisaran Rp17.794 per dolar AS dan IHSG pulih ke level 6.177.
Dalam MSCI 2026 Market Classification Review yang diumumkan baru-baru ini, Indonesia dipertahankan dalam kategori Emerging Market sebagai sinyal kuat bahwa fundamental ekonomi nasional dan aksesibilitas pasar Indonesia masih dipercaya investor internasional.
Pemerintah meluncurkan Paket Stimulus Semester II-2026 senilai total Rp26,34 triliun yang mencakup tiga pilar kebijakan.
Pilar pertama menyasar konsumsi dan dunia usaha melalui serangkaian insentif transportasi berupa diskon 30 persen tiket kereta api dan kapal Pelni, penggratisan tarif kepelabuhan ASDP, serta subsidi PPN 100 persen untuk tiket pesawat domestik kelas ekonomi yang berlaku untuk periode libur sekolah maupun Natal dan Tahun Baru.
Di sisi industri, Pemerintah juga membebaskan bea masuk untuk impor LPG, bahan baku plastik, dan suku cadang pesawat guna menekan biaya produksi.
Pilar kedua berfokus pada ketenagakerjaan. Program Magang Nasional Tahap II dengan anggaran Rp4,14 triliun akan membuka peluang bagi 150.000 lulusan baru perguruan tinggi mulai Juli 2026.
Sementara pelatihan vokasi senilai Rp2,12 triliun diarahkan untuk mempersiapkan 220.000 lulusan SMK dan melindungi 50.000 pekerja terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).
Pilar ketiga menjadi yang terbesar dengan nilai Rp18,04 triliun, berfokus pada jaring pengaman sosial.
Sebanyak 33,24 juta keluarga penerima manfaat akan mendapatkan bantuan beras 10 kilogram selama tiga bulan berturut-turut mulai Juli 2026.
Selain itu, pengrajin tahu dan tempe mendapat subsidi selisih harga kedelai hingga Rp2.000 per kilogram dengan kuota 250.000 ton untuk menjaga keterjangkauan pangan masyarakat.
(*)