Eri Cahyadi Luncurkan Buku Bung Karno : Aku Arek Suroboyo di Surabaya
Titis Jati Permata June 26, 2026 11:32 AM

 

SURYA.co.id, SURABAYA — Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan Presiden pertama RI, Soekarno lahir dan sempat besar di Surabaya.

Hal ini pula yang menjadi teladan arek-arek Surabaya dalam menggelorakan cinta dan semangat nasionalisme. 

Hal ini disampaikan Wali Kota saat Pemkot Surabaya resmi meluncurkan buku "Bung Karno: Aku Arek Suroboyo" di Balai Budaya Kompleks Balai Pemuda Surabaya, Kamis (25/6/2026).

Buku Perjalanan Hidup Bung Karno

Melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya, buku ini berisi bukti-bukti sekaligus perspektif Surabaya sebagai kota kelahiran dan tempat awal perjalanan hidupnya.

"Dengan buku ini kita ingin menegaskan bahwa Soekarno lahir di Surabaya. Bagaimana perjuangan Soekarno, bagaimana semangat beliau. Maka dari buku ini, yang saya harapkan adalah seluruh arek Suroboyo mewarisi api perjuangan beliau," ujar Wali Kota Eri. 

Baca juga: Ribuan Kader PDIP Surabaya Peringati Haul Bung Karno dengan Refleksi Khidmat

Buku ini ditulis oleh Purnawan Basundoro, Samidi, Yayan Indrayana, dan Kukuh Yudha Karnanta.

"Jadi harapannya kita meluruskan sejarah. Karena bangsa yang hebat itu adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya agar tidak pernah kehilangan arah," kata Wali Kota Eri.

Pembelajaran Siswa SD dan SMP

Eri Cahyadi hadir bersama Wakil Wali Kota Surabaya Armuji, Cucu Bung Karno sekaligus Anggota Komisi X DPR RI Puti Guntur Soekarno, hingga akademisi dan para veteran.

Acara dirangkai pembacaan Juara 1 Puisi Bung Karno serta pertunjukan teatrikal yang mengangkat kisah kehidupan sang proklamator.

Sebagai tindak lanjut, buku tersebut akan masuk bahan pembelajaran wajib bagi siswa SD dan SMP, khususnya di Surabaya.

"Nanti buku akan kami masukkan menjadi kurikulum wajib yang harus diikuti oleh seluruh sekolah SD dan SMP yang di bawah kewenangan kita (Pemkot Surabaya)," kata politisi PDI P ini. 

Sejarah Dijaga dan Diwariskan

Baginya, sejarah harus terus dijaga dan diwariskan agar masyarakat tidak kehilangan arah dalam membangun masa depan. 

"Karena itu ada pesan jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kalau sudah melupakan sejarah, maka kota itu akan kehilangan arah," tegas pria asli Surabaya ini. 

Cucu Bung Karno, Puti Guntur Soekarno mengapresiasi terbitnya buku tersebut.

Menurutnya, buku itu merupakan karya yang komprehensif dan dapat menjadi referensi penting untuk memahami perjalanan hidup Bung Karno.

"Dengan segala hormat, mewakili keluarga besar Bung Karno, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para penulis, dan juga kepada Cak Eri yang telah memberikan pencerahan, membuka cakrawala melalui buku tulisan-tulisan yang saya telah baca dan sangat komprehensif buku dengan judul Bung Karno 'Aku Arek Suroboyo'," kata Puti.

Bantu Generasi Muda

Ia menilai buku tersebut bukan sekadar referensi sejarah, namun juga bagian dari upaya membuka kembali ruang pemahaman terhadap pemikiran dan gagasan Bung Karno.

"Buat saya buku ini adalah merupakan salah satu cara, jalan untuk mendobrak De-Soekarnoisasi yang sekian lama sejarah kelam Bung Karno ditutupi. Yang sejak lama ide, pemikiran, gagasan Bung Karno ditutupi," ujar Anggota Komisi X DPR RI ini. 

Puti berharap buku tersebut dapat membantu generasi muda memahami perjalanan sejarah Bung Karno yang lahir dan tumbuh di Surabaya.

"Buku ini menjadi salah satu jalan bagaimana generasi muda khususnya dapat merasakan bagaimana perjalanan sejarah Bung Karno yang dilahirkan di Kota Surabaya," kata Legislator asal daerah pemilihan dapil Jatim 1 (Surabaya-Sidoarjo) ini. 

Buku tersebut disusun berdasarkan riset akademik yang kuat dengan memanfaatkan berbagai sumber di dalam maupun luar negeri. 

"Ini juga didasari atas riset, karena ini memang yang membuat salah satunya juga akademisi. Kemudian juga didasari atas riset yang tidak hanya di arsip-arsip atau perpustakaan atau museum di Indonesia tetapi juga di luar negeri, di Belanda," ujarnya.

Puti juga berharap kehadiran buku tersebut dapat membuka kembali memori kolektif masyarakat mengenai perjalanan hidup Bung Karno sejak lahir hingga masa remajanya. 

"Nah, buku ini saya harapkan bisa membuka kembali memori kolektif tentang di mana Bung Karno dilahirkan, bagaimana Bung Karno menghabiskan masa remajanya," kata politisi PDI P ini.

Berangkat dari Pernyataan Bung Karno

Salah satu penulis buku sekaligus Guru Besar Sejarah Perkotaan Universitas Airlangga (Unair) Prof Purnawan Basundoro menjelaskan penulisan buku berangkat dari pernyataan Bung Karno dalam autobiografinya yang ditulis Cindy Adams mengenai tempat kelahirannya di Surabaya.

"Di dalam buku otobiografi beliau (Bung Karno) yang ditulis oleh Cindy Adams, beliau kan dengan jelas menyebutkan bahwa lahir di Surabaya. Tetapi kan kalimat itu tidak diteruskan ya, lahirnya seperti apa, bagaimana, dan sebagainya," kata Prof Basundoro.

Berangkat dari pernyataan tersebut, tim penulis melakukan penelitian mendalam untuk memperjelas sekaligus membuktikan tempat kelahiran Bung Karno melalui berbagai dokumen sejarah.

"Nah, inilah yang kemudian kami berpikir bahwa pernyataan Soekarno lahir di Surabaya itu perlu diperjelas. Nah, ini kemudian kami melakukan riset yang cukup lama untuk memang membuktikan bahwa Bung Karno memang betul-betul lahir di Kota Surabaya, bukan di tempat yang lain. Nah, kemudian hasilnya buku tersebut," ujarnya.

Kumpulkan Dokumen Tentang Bung Tomo

Menurut Prof Basundoro, berbagai dokumen yang berhasil dihimpun menunjukkan Bung Karno memang lahir di Surabaya. 

"Di buku itu kami cantumkan dan bukti-bukti yang menyatakan Bung Karno memang lahir di Kota Surabaya. Jadi berbagai dokumen tertulis yang kita cari hampir semuanya mengatakan Bung Karno memang lahir di Kota Surabaya itu," paparnya.

Terkait pemahaman generasi muda terhadap sosok Bung Karno, Prof Basundoro menilai, sebagian besar masih mengenal proklamator tersebut karena tetap diajarkan dalam pelajaran sejarah.

"Saya kira sebenarnya sama ya. Jadi generasi pemuda pun mungkin banyak yang tidak mengenal, tapi banyak juga yang masih tetap mengenal Bung Karno," terangnya.

Meski demikian, ia mengakui masih ada sebagian masyarakat yang beranggapan Bung Karno lahir di Blitar akibat narasi yang berkembang pada masa lalu.

"Nah, sehingga mungkin masih ada juga orang-orang sekarang ini yang masih menganggap bahwa Bung Karno lahir di Blitar. Tapi kan secara umum sekarang buku-buku sejarah itu sudah menuliskan yang benar Bung Karno itu lahir di Surabaya," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.