- Mengenal kapal nuklir Kirov Rusia versus kapal perusak siluman Zumwalt Amerika Serikat (AS).
Dilaporkan telah melakukan uji coba terakhir sebelum 'unjuk gigi' di medan pertempuran.
Mengutip Military Watch pada (26/6), kapal Rusia masuk ke fase akhir uji coba lautnya pada awal Juni.
Adapun, perbandingannya akan membedah terkait bobot dan desain, daya tempur, deteksi dan siluman, hingga daya tahan dan propulsi.
Rinciannya, kapal penjelajah bertenaga nuklir kelas Kirov Rusia, Admiral Nakhimov.
Memiliki bobot raksasa 28.000 ton dengan struktur besar yang dirancang sejak era Perang Dingin untuk menghancurkan kelompok tempur kapal induk NATO.
Kemudian, dipersenjatai sangat berat dengan 176 sel peluncur (termasuk 96 untuk sistem pertahanan udara S-400 dan 80 untuk rudal jelajah hipersonik Zircon Mach 9 berdaya jangkau 1.000 km).
Unggul telak dalam peran anti-kapal.
Adpaun, kapal Rusia ini dikabarkan tidak memiliki kemampuan siluman.
Lantaran, struktur atasnya yang besar dan dipenuhi radar luar membuat kapal ini menghasilkan jejak radar/inframerah yang besar sehingga mudah dideteksi dari jarak jauh.
Terakhir, kapal ini menggunakan tenaga nuklir sehingga mampu berlayar lebih lama dengan kecepatan tinggi.
Ukurannya yang masif dan sistem kompartemen berlapis membuatnya mampu menyerap kerusakan besar akibat serangan musuh sambil tetap bertempur.
Sementara itu, kapal perusak kelas Zumwalt memiliki bobot 16.000 ton.
Dirancang sebagai kapal perusak multi-misi yang sangat otomatis, modern, dan fokus pada operasi jaringan serta serangan presisi.
Hanya membawa 80 sel peluncur (55% lebih kecil dari Kirov).
Kurang optimal untuk peran anti-kapal, namun diunggulkan dalam pertahanan rudal balistik berkat integrasi rudal SM-3 dan SM-6.
Adapun, kapal AS ini unggul mutlak dalam kemampuan siluman (stealth), berbanding dengan kapal Rusia.
Mengingat, desain lambungnya yang khas meminimalkan penampang radar, membuatnya sangat sulit dideteksi dan bisa beroperasi dekat dengan pantai musuh.
Juga, dilengkapi arsitektur komputasi dan sensor digital modern yang canggih untuk penggabungan data antar-armada.
Sehingga pengerjaan operasional jauh lebih efisien meski dengan jumlah kru yang sedikit.
Namun, kapal ini lebih mengandalkan taktik menghindari deteksi ketimbang bertahan dari hantaman langsung.