WARTAKOTALIVE.COM - Terekam detik-detik evakuasi menegangkan korban gempa Venezuela yang terjebak di reruntuhan bangunan.
Sejumlah Tim Evakuasi dibantu warga mengevakuasi korban yang tertimbun reruntuhan bangunan.
Mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga anjing dievakuasi oleh tim evakuasi yang dibantu warga.
Dari sejumlah video evakuasi yang viral, ada satu video yang menyentuh.
Misalnya saja saat seorang anak balita merangkak keluar dari gedung yang roboh setelah namanya dipanggil orang tuanya.
Masih mengenakan popok, anak tersebut berhasil dibantu keluar dari reruntuhan bangunan sambil menangis dan langsung dipeluk orang tuanya.
Ada juga evakuasi seorang imigran asal Tiongkok yang keluar dari lubang gedung.
Wanita Tiongkok itu ditarik dari sebuah lubang yang tertutup reruntuhan bangunan.
Suara tepukan tangan terdengar dari wilayah yang hanya diterangi lampu darurat seadanya.
Selain itu tidak kalah mengharukannya saat warga ramai-ramai mengevakuasi seekor anjing yang terjebak di reruntuhan bangunan.
Sambil menangis, anjing tersebut diberikan minum oleh warga sementara badannya masih tertindih reruntuhan bangunan.
Warga pun berupaya membongkar reruntuhan bangunan agar anjing tersebut bisa dikeluarkan dengan selamat.
Kawasan Venezuela sendiri masih gelap gulita usai diguncang gempa besar 7,2 dan 7,5 magnitudo.
Gempa yang terjadi Rabu (24/6/2026) sore itu meruntuhkan hampir seluruh bangunan di Venezuela.
Korban tewas pun terus bertambah seiring waktu. Saat ini terhitung sudah 188 orang dinyatakan tewas.
Namun jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah lantaran mayoritas warga Venezuela tinggal di gedung-gedung bertingkat yang kini sudah roboh.
Baca juga: Kenapa 3 Gempa Besar Terjadi di Hari yang Sama Pada 25 Juni 2026?
Sementara itu Survei Geologi AS (USGS) memberikan perkiraan tentang potensi kerusakan ekonomi dan korban jiwa di wilayah tersebut.
Diperkirakan jumlah korban jiwa yang paling mungkin terjadi berkisar antara 10.000 hingga 100.000 orang.
Ini bukanlah angka pasti mengenai jumlah orang yang mungkin meninggal - jumlahnya bisa lebih tinggi atau lebih rendah.
USGS menerbitkan angka ini untuk membantu petugas tanggap darurat, lembaga pemerintah, dan media memahami seberapa signifikan potensi peristiwa ini dan mengerahkan sumber daya secara efektif.
Organisasi tersebut menggunakan sesuatu yang disebut sistem PAGER untuk menghitung angka ini.
Metode ini mempertimbangkan banyak faktor, termasuk besarnya gempa, seberapa dalam gempa bermula di bawah permukaan, seberapa besar guncangan tanah, dan jumlah penduduk di daerah tersebut yang mungkin terkena dampaknya.
Kemudian, berdasarkan gempa bumi sebelumnya dengan karakteristik serupa, metode ini memberikan angka perkiraan.
Namun, banyak faktor lain yang berperan dalam potensi cedera dan kematian, termasuk kualitas bangunan dan waktu kejadian.
Jika orang-orang sedang tidur ketika gempa bumi terjadi, kemungkinan mereka tidak dapat melakukan evakuasi akan meningkat.
Angka tersebut akan diperbarui seiring dengan masuknya informasi lebih lanjut. Namun, kejadian ini telah diberi peringatan merah - yang biasanya hanya ada 1-2 kali dalam setahun.