BANGKAPOS.COM, BANGKA – Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan berupaya mengembangkan berbagai program pelatihan kerja untuk meningkatkan keterampilan masyarakat.
Namun, rencana membuka sejumlah bidang pelatihan baru masih terkendala keterbatasan sarana pendukung dan ketersediaan instruktur yang memenuhi standar kompetensi. Kondisi tersebut membuat pilihan pelatihan yang dapat dilaksanakan saat ini masih terbatas.
Kepala Bidang Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Bangka Selatan, Andrie Taufiqullah, mengatakan banyak bidang pelatihan yang berpotensi dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Beberapa di antaranya seperti tata boga, tata rias, menjahit hingga barista yang dinilai memiliki peluang usaha cukup menjanjikan. Akan tetapi, pelaksanaan program tersebut harus didukung fasilitas dan sumber daya manusia yang memadai.
“Kita sebenarnya ingin untuk mengembangkan pelatihan menjahit, tata rias, tata boga. Akan tetapi, terkendala dengan instrukturnya,” kata Andrie kepada Bangkapos.com, Jumat (26/6/2026).
Andrie mengungkapkan, setiap program pelatihan harus memiliki sarana praktik yang sesuai dengan bidang yang akan diajarkan. Selain peralatan, keberadaan instruktur bersertifikat juga menjadi syarat utama agar pelatihan dapat berjalan sesuai standar kompetensi. Karena itu, tidak semua jenis pelatihan dapat langsung dibuka meski memiliki peminat yang cukup tinggi.
Saat ini pelatihan yang paling siap untuk dijalankan berada pada bidang multimedia atau konten kreator. Kesiapan tersebut didukung keberadaan fasilitas di BLKK Cahaya yang memiliki laboratorium komputer serta perangkat penunjang desain grafis. Selain itu, tenaga pengajar yang tersedia juga telah memenuhi persyaratan kompetensi.
“Sebenarnya apa pun bisa kita jadikan peluang, cuma ketika kita mau melaksanakan pelatihan itu, yang pertama kita lihat adalah sarananya dulu,” urainya.
Ia menuturkan di Kabupaten Bangka Selatan sebenarnya memiliki tiga Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK), yakni BLKK Cahaya di Kelurahan Tanjung Ketapang, Kecamatan Toboali, BLKK Daarul Istiqomah Desa Airgegas, dan BLKK Nurul Qur’an Desa Sidoharjo, Kecamatan Airgegas.
Masing-masing lokasi telah memiliki laboratorium dan instruktur yang dapat mendukung pelaksanaan pelatihan tertentu. Kedepan, pengembangan program pelatihan akan disesuaikan dengan kesiapan fasilitas yang tersedia di setiap lokasi.
Lebih lanjut, Andrie mengatakan kualitas instruktur menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan dalam penyelenggaraan pelatihan kerja.
Keberadaan laboratorium dan peralatan yang lengkap tidak akan cukup tanpa didukung tenaga pengajar yang memiliki sertifikasi kompetensi. Hal itu dilakukan agar keterampilan yang diperoleh peserta benar-benar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Walaupun ada sarana, ada lab, apabila instrukturnya belum punya sertifikasi, tidak bisa dilakukan pelatihan,” sebut dia.
Kendati demikian kata Andrie, peningkatan keterampilan masyarakat tetap menjadi fokus Disnakertrans Bangka Selatan, terutama bagi lulusan baru sekolah yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
Berbagai peluang pelatihan akan terus dikaji dan dikembangkan sesuai kebutuhan pasar kerja serta kemampuan daerah. Namun, penyediaan sarana dan tenaga instruktur masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
“Kita mau mengadakan pelatihan mesin jahit, tetapi mesin jahit dan instrukturnya tidak ada, jadi tidak bisa dilakukan,” pungkas Andrie.
(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)