Beda Sekolah Nasional Terintegrasi dan Sekolah Reguler, Pengelolaan oleh Direktur
GH News June 26, 2026 03:09 PM
Jakarta -

Pemerintah tengah mempersiapkan pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi atau SNT. Sekolah ini merupakan sekolah nasional yang menerapkan pembelajaran berkelanjutan dari SMP ke SMA dalam satu ekosistem.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Non Formal dan Informal (Dirjen PAUD Dikdas PNFI) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto menjelaskan ada beberapa hal yang membedakan SNT dengan sekolah reguler.

SNT dipimpin oleh satu direktur. Di sisi lain, sekolah reguler dipimpin kepala sekolah yang berbeda-beda dan dimonitor pemerintah daerah yang berbeda.

"Yang pertama terkait dengan konsep penyelenggaraan. SNT berada dalam satu ekosistem sehingga bakat, minat, dan potensi anak dari SMP ke SMA bisa diikuti secara berkelanjutan dikelola oleh satu direktur," jelas Gogot dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi X dan sejumlah kementerian lain yang disiarkan dalam YouTube TVR Parlemen, dikutip Kamis (25/6/2026).

"Sedangkan sekolah reguler berbeda karena SMP dikelola oleh kabupaten kota, SMA dikelola oleh provinsi, sehingga monitoring dan perkembangan siswa dikelola atau dimonitor oleh pemerintah daerah yang berbeda. Setiap sekolah dipimpin oleh kepala sekolah yang berbeda-beda," lanjutnya.

Selain itu, kurikulum yang nantinya digunakan dalam SNT adalah kurikulum nasional yang diperkaya dengan kompetensi global dan science, technology, engineering, dan mathematics (STEM), kesenian, serta olahraga. Gogot menyebut, siswa yang diharapkan masuk SNT adalah yang memiliki prestasi di kabupaten/kota masing-masing.

"Harapannya ke depan SNT bisa dibangun di setiap kecamatan. Kenapa? Karena data kami sekolah baik di Indonesia kita petakan yang berada di kecamatan ya SD, SMP, SMA yang memiliki akreditasi A dan memiliki literasi numerasi di atas rata-rata nasional hanya 75 kecamatan dari 7.200. Jadi hanya 1% sehingga diharapkan anak-anak prestasi tetap punya tempat untuk belajar di sekolah yang mereka harapkan," terangnya.

Ia menyebut salah satu alasan Indonesia sulit jadi juara dunia adalah karena sarana dan prasarana pendukung di sekolah-sekolah belum berstandar internasional. Kehadiran SNT juga diharap menjadi pusat pengembangan guru dan kurikulum sekolah sekitar di level kabupaten. Program ini juga diharapkan menjadi katalisator pengembangan mutu pendidikan daerah melalui pengimbasan kepada sekolah sekitar.

Novia Aisyah
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.