TRIBUNGORONTALO.COM -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan dan bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan pelemahan rupiah masih berlanjut hingga akhir pekan ini.
Pada perdagangan Jumat (26/6/2026), rupiah tercatat melemah sekitar 47 poin dan bergerak di kisaran Rp17.990 per dolar AS.
“Pagi ini sesuai prediksi rupiah melemah. Pelemahannya cukup tajam sebesar 47 poin dan diperdagangkan di level Rp17.990 per dolar AS. Kemungkinan besar di akhir pekan ini rupiah akan menyentuh level Rp18.000 per dolar AS,” ujar Ibrahim.
Baca juga: Impor Solar Stop, Bensin Menyusul Dipangkas, Ini Rencana Besar Pemerintah Mulai Juli 2026
Menurutnya, pelemahan mata uang Garuda dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik yang saat ini menjadi perhatian pelaku pasar.
Dari sisi global, sejumlah data ekonomi Amerika Serikat dinilai memperkuat posisi dolar AS sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Salah satu faktor utama adalah revisi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada kuartal pertama 2026 yang naik menjadi 2,1 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan angka sebelumnya sebesar 1,6 persen.
Selain itu, data pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam juga menunjukkan kondisi yang lebih baik dari perkiraan.
Jumlah klaim awal tunjangan pengangguran tercatat turun menjadi 215 ribu klaim, lebih rendah dibandingkan proyeksi ekonom yang berada di angka 225 ribu klaim.
Di saat yang sama, inflasi inti yang diukur melalui Core Personal Consumption Expenditures (Core PCE) juga mengalami kenaikan menjadi 3,41 persen secara tahunan pada Mei 2026, dibandingkan 3,3 persen pada bulan sebelumnya.
Baca juga: Istri Melahirkan 8 Hari Lebih Awal, Suami Malah Buat Laporan Polisi, Terungkap Alasannya
“Data-data ini membuat dolar menguat cukup tajam,” kata Ibrahim.
Ia menjelaskan, indeks dolar AS kini bergerak di kisaran 101,40 hingga 101,50 dan berpotensi menguat menuju level 102.
Penguatan dolar juga dipicu ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve.
Menurut Ibrahim, pelaku pasar mulai berspekulasi bahwa The Fed masih memiliki peluang menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali sepanjang 2026.
Perkiraan tersebut muncul karena tingkat inflasi Amerika Serikat masih berada jauh di atas target 2 persen yang ditetapkan bank sentral.
Data terbaru menunjukkan inflasi tahunan AS pada Mei 2026 mencapai 4,2 persen, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 3,8 persen.
Sementara itu dari dalam negeri, pasar juga tengah mencermati sejumlah indikator ekonomi yang akan segera dirilis.
Beberapa data yang menjadi perhatian antara lain inflasi, cadangan devisa, indeks manufaktur PMI, hingga neraca perdagangan Indonesia.
Ibrahim memperkirakan inflasi Juni 2026 berpotensi meningkat seiring kenaikan harga BBM non-subsidi yang berdampak pada biaya distribusi dan harga kebutuhan pokok.
“Inflasi di bulan Juni kemungkinan besar akan lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya,” ujarnya.
Ia juga menilai posisi cadangan devisa Indonesia berpotensi mengalami penurunan karena Bank Indonesia cukup aktif melakukan intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Selain itu, sektor manufaktur juga menjadi perhatian karena sejumlah perusahaan disebut menghadapi tekanan usaha, termasuk penutupan pabrik dan pemutusan hubungan kerja.
Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi kinerja PMI manufaktur yang berpotensi turun ke bawah level 50 atau masuk zona kontraksi.
Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia masih diperkirakan mencatat surplus. Namun nilainya diprediksi lebih kecil dibandingkan periode sebelumnya akibat perlambatan ekonomi yang terjadi di China.
Baca juga: Cara Cek Bansos PKH dan BPNT Juni 2026, Mudah Cukup Pakai NIK KTP
Menurut Ibrahim, perkembangan berbagai indikator ekonomi tersebut akan terus dipantau investor karena berpengaruh terhadap kondisi fiskal dan kinerja ekonomi nasional secara keseluruhan.
Pasar juga masih mencermati realisasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang hingga Mei tercatat mencapai Rp180,4 triliun atau sekitar 0,70 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dengan berbagai sentimen tersebut, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlangsung dalam jangka pendek sambil menunggu arah kebijakan ekonomi global maupun perkembangan data domestik berikutnya. (*)