Kunjungan ke Museum FIFA di New York: Sebuah Kenangan yang Membawa Saya Kembali ke Piala Dunia Pertama Saya
Hendra Wijaya June 26, 2026 03:41 PM

Museum FIFA yang dapat dikunjungi secara gratis dibuka setiap hari selama berlangsungnya Piala Dunia di Rockefeller Center yang ikonik di New York.


Harga tiket dinamis, jeda hidrasi, dan keserakahan korporasi — ada banyak alasan untuk tidak menyukai FIFA dan merasa bahwa mereka telah membuat Piala Dunia menjadi kurang menyenangkan.


Namun, ada satu hal yang berhasil dilakukan oleh badan pengatur sepak bola dunia ini, yaitu Museum FIFA yang penuh dengan memorabilia dan sejarah sepak bola yang kembali ke Piala Dunia pertama tahun 1930.


Untuk edisi Piala Dunia kali ini, pameran interaktif gratis bertajuk ‘Legacies of Champions’ diadakan di jantung Manhattan, tepatnya di Rockefeller Center yang legendaris.


Saya mengantre untuk masuk ke pameran di luar landmark terkenal New York tersebut, dan mengingat mahalnya segala sesuatu di Piala Dunia kali ini, serta di Amerika Serikat secara umum, pengalaman ini terasa layak meskipun tanpa biaya masuk.


Ada bagian khusus untuk masing-masing dari 22 Piala Dunia sebelumnya yang menampilkan memorabilia khas dari setiap turnamen — mulai dari kaus, topi, poster, bola, hingga potongan rumput dari final 2018 — menjadikan pameran ini destinasi wajib bagi para penggemar sepak bola yang datang ke New York selama turnamen berlangsung.


Piala Dunia pertama yang saya ingat adalah Italia 90, ketika saya berusia enam tahun, menyaksikan tim Inggris asuhan Bobby Robson mencapai semifinal sebelum akhirnya kalah lewat adu penalti dari Jerman Barat.


Salah satu momen paling ikonik dari semifinal tersebut adalah ketika Paul Gascoigne menangis setelah menerima kartu kuning keduanya di turnamen itu, yang berarti ia akan absen di final jika Inggris berhasil lolos.


Gazza menangis, saya menangis, seluruh bangsa menangis. Jadi ketika saya berjalan di lantai 9 Rockefeller Center, semua kenangan musim panas itu kembali membanjiri pikiran saya saat tiba di bagian tahun 1990 dan melihat kartu kuning asli yang diberikan oleh wasit asal Brasil, Jose Ramiz Wright, kepada Gascoigne.


Kartu kuning sederhana berukuran sekitar 10 x 7,5 cm itu memiliki tulisan tangan ‘19 Gascoigne’. Benda kecil itu bukan sesuatu yang pernah saya bayangkan akan saya lihat dalam hidup saya, bahkan bukan sesuatu yang saya pikir perlu saya lihat.


Namun kenyataannya, melihat kartu itu membawa saya kembali 36 tahun ke masa lalu, menghidupkan kembali kenangan tentang turnamen tersebut.


Dan meskipun sangat mengesankan melihat kaus Ivor Allchurch dari Wales di Piala Dunia 1958, jaket pemanasan milik Pele dari turnamen tahun 1962, kartu akreditasi Zinedine Zidane dari Prancis 98, atau bahkan kaus pertandingan Lionel Messi yang dikenakan di final Doha empat tahun lalu — justru selembar kartu kuning kecil itu yang paling membangkitkan kenangan Piala Dunia bagi saya.


Setiap orang pasti memiliki momen Piala Dunia yang berkesan, dan di pameran luar biasa ini ada begitu banyak memorabilia yang akan membangkitkan nostalgia bagi penggemar muda maupun tua.


Di tengah-tengah pameran terdapat replika trofi Jules Rimet dengan alas aslinya, dan setelah menjelajahi seluruh bagian dari 22 turnamen terdahulu, pengunjung dapat melihat trofi Piala Dunia yang digunakan saat ini serta berfoto dengannya — meskipun hanya dari jarak aman, karena trofi seberat 5 kg dari emas 18 karat itu bernilai sekitar $713.000 dan disimpan dalam kotak kaca dengan pengamanan ketat. Namun, keindahannya tetap dapat dinikmati dari dekat.


Museum FIFA yang dipersembahkan oleh Hyundai: ‘Legacies of Champions’ terbuka untuk umum secara gratis di Rockefeller Center hingga 19 Juli 2026.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.