BANGKAPOS.COM, BANGKA – Airnya berwarna hitam, mengalir tenang di antara hamparan sawah yang mulai menghijau.
Siapa sangka saluran irigasi yang selama bertahun-tahun hanya menjadi jalur pengairan itu kini berubah menjadi magnet baru bagi ribuan orang.
Dalam waktu sekitar sebulan terakhir, Pemandian Irigasi Aik Item atau Air Hitam di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendadak ramai pengunjung dari berbagai penjuru Pulau Bangka.
Untuk menuju Pemandian Irigasi Aik Item Sawah Rias bukanlah perjalanan yang sulit.
Dari Himpang Lima Habang, Toboali, pengunjung hanya perlu menempuh jarak sekitar 10 kilometer atau sekitar 10 menit perjalanan dengan kendaraan.
Akses jalannya beraspal mulus sehingga mudah dilalui, baik menggunakan sepeda motor maupun mobil.
Sepanjang perjalanan, mata akan dimanjakan dengan suasana khas pedesaan. Deretan rumah warga berdiri rapat di kiri dan kanan jalan, sesekali diselingi aktivitas masyarakat yang beranjak menjalani rutinitas.
Semakin mendekati Desa Rias, lanskap perlahan berubah.
Hamparan sawah hijau mulai mendominasi sisi kiri jalan, sementara di sebelah kanan terbentang beberapa bendungan yang menjadi sumber air bagi areal persawahan di kawasan itu.
Tak lama kemudian, sebelum tiba di SD Negeri 24 Toboali, keramaian mulai terlihat. Puluhan kendaraan terparkir di sepanjang jalan usaha tani menjadi penanda bahwa lokasi pemandian sudah di depan mata.
Saluran irigasi itu berada tepat di sisi kiri jalan, memanjang di antara hamparan sawah dengan air hitam yang mengalir tenang.
Meski akses menuju lokasi cukup mudah, pengunjung perlu sedikit bersabar saat akhir pekan atau musim liburan. Jalan menuju pemandian tergolong sempit, hanya cukup dilalui satu unit truk sehingga kendaraan dari dua arah harus bergantian melintas.
Ketika ribuan wisatawan datang bersamaan, antrean kendaraan tak terelakkan. Namun, sesampainya di lokasi, suasana alam pedesaan dan riuh tawa para pengunjung seolah menjadi hadiah yang sepadan dengan perjalanan singkat tersebut.
Di sepanjang aliran air hitam itu, suasana tampak hidup. Anak-anak, remaja, orang dewasa hingga orangtua berbaur menikmati segarnya air tanpa sekat usia.
Sebagian anak tampak berulang kali melompat dari bibir irigasi, memecah permukaan air dengan tawa yang bersahut-sahutan.
Di bagian lain, beberapa pengunjung memilih berenang santai menggunakan ban karet, sementara anak-anak terlihat asyik mengapung dengan pelampung berbentuk bebek berwarna kuning cerah dan merah muda yang mencolok di tengah air yang gelap.
Tak jauh dari lokasi pemandian, sisi jalan usaha tani berubah menjadi deretan lapak sederhana. Para pelaku UMKM memanfaatkan ramainya pengunjung dengan menjajakan aneka makanan, minuman dingin, camilan, hingga mainan anak.
Aroma gorengan yang baru diangkat dari wajan bercampur dengan suara pedagang menawarkan dagangannya kepada pengunjung yang lalu lalang.
Kepala Dusun Satuan Pemukiman (SP) B Desa Rias, Zainal mengaku tak tahu pemandian tersebut bisa ramai.
Padahal awalnya lokasi tersebut hanya menjadi tempat mandi anak-anak setempat dengan jumlah sekitar 10-15 orang setiap hari.
Namun, tanpa promosi khusus, pemandian tersebut mendadak ramai dan terus dipadati pengunjung hingga sekarang. Lonjakan pengunjung semakin terasa sejak memasuki masa libur sekolah, terutama setiap Sabtu dan Minggu.
“Tidak tahu kenapa setelah itu mendadak langsung ramai. Dari sana ramainya tidak pernah jeda lagi sampai sekarang,” ujar dia kepada Bangkapos.com, Jumat (26/6/2026).
Cerita tentang pemandian itu menyebar begitu cepat melalui media sosial.
Video demi video memperlihatkan anak-anak hingga orang dewasa berenang di saluran irigasi dengan air yang tampak gelap, tetapi jernih. Rasa penasaran masyarakat ikut mengalir deras, sama seperti air yang membelah areal persawahan Desa Rias.
Kini, setiap akhir pekan suasana di lokasi berubah total. Kendaraan memenuhi sisi jalan desa, tawa pengunjung bersahut-sahutan, sementara para pedagang sibuk melayani pembeli.
Menurut Zainal, pada Sabtu dan Minggu jumlah pengunjung bahkan diperkirakan mencapai 2.000 hingga 5.000 orang dalam sehari.
“Kalau hari-hari libur bisa dari Pangkalpinang, ada juga dari Sungailiat, bahkan sampai Belinyu pernah ke sini juga. Semenjak libur sekolah pengunjung makin meningkat,” ujar Zainal.
Menariknya, untuk menikmati sensasi mandi di aliran air hitam itu, pengunjung tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun.
Tidak ada loket masuk ataupun tiket yang dipungut. Siapapun bebas datang dan bermain air selama tetap menjaga kebersihan serta ketertiban di kawasan irigasi.
Menurut Zainal, waktu terbaik menikmati pemandian ini adalah pada pagi dan sore hari ketika udara masih sejuk dan sinar matahari tidak terlalu terik.
“Tidak ada biaya masuk, gratis. Kalau waktu yang paling enak untuk mandi biasanya pagi sama sore karena udaranya masih sejuk,” urainya.
Meski disebut pemandian air hitam, warna gelap itu bukan berasal dari limbah ataupun pencemaran. Air tersebut memang keluar dari sumbernya dengan karakteristik berwarna hitam alami sebelum dialirkan menuju lahan persawahan.
Sementara untuk saluran irigasi yang kerap digunakan untuk mandi memiliki panjang sekitar 420 meter itu memiliki kedalaman yang bervariasi, mulai sekitar 80 sentimeter hingga mencapai 1,5 meter di beberapa titik.
Meski begitu kata Zainal, di balik ramainya wisata dadakan itu, kehidupan warga Desa Rias ikut berubah. Lapak-lapak sederhana mulai bermunculan di sekitar lokasi.
Penjual makanan, minuman, hingga pelaku usaha kecil lainnya menikmati peningkatan pendapatan yang sebelumnya tak pernah mereka bayangkan.
“Alhamdulillah, ramainya wisata ini sangat-sangat berdampak sekali. UMKM di kami hidup. Tentunya sektor pariwisata dan ekonomi warga meningkat,” ungkapnya.
Namun, euforia itu tak lantas membuat warga ingin mengubah kawasan irigasi menjadi objek wisata permanen.
Mereka sadar saluran tersebut merupakan aset Balai Wilayah Sungai (BWS) yang fungsi utamanya tetap sebagai pengairan sawah. Karena itu, tidak ada rencana membangun wahana ataupun fasilitas yang dapat mengubah bentuk irigasi.
Sebaliknya, warga memilih menjaga keseimbangan antara wisata dan pertanian. Bersama para pemuda desa, mereka mengatur parkir kendaraan agar tidak menghambat mobilitas petani menuju sawah, terutama menjelang musim panen. Persoalan sampah juga menjadi perhatian agar lingkungan tetap bersih.
Hingga kini, saluran irigasi yang telah dibangun sejak puluhan tahun lalu itu tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai sumber kehidupan bagi petani. Menariknya, kehadiran ribuan wisatawan juga belum memberikan dampak negatif terhadap aktivitas pertanian.
“Sejauh ini tidak ada masalah karena tidak akan mengganggu produktivitas pertanian,” tutur Zainal.
Jauh-jauh datang dari Pangkalpinang, Vania (28) mengaku rasa penasarannya terbayar setelah merasakan langsung sensasi mandi di Pemandian Irigasi Viral Aik Item, Desa Rias.
Ia mengetahui keberadaan lokasi tersebut dari video-video yang ramai beredar di media sosial, lalu memutuskan datang bersama keluarga untuk menghabiskan waktu libur.
“Saya sengaja datang dari Pangkalpinang karena penasaran. Awalnya mengira airnya keruh karena kelihatan hitam, ternyata setelah masuk airnya bersih dan segar. Pas diambil pakai wadah juga kelihatan jernih,” ujar Vania.
Menurutnya, suasana pedesaan yang masih alami menjadi nilai lebih dibandingkan tempat wisata buatan. Ditambah tidak ada biaya yang dikenakan untuk mandi di lokasi itu.
Hamparan sawah yang membentang di sekitar lokasi menghadirkan pemandangan yang menenangkan, sementara anak-anak maupun orang dewasa bisa bermain air bersama dengan leluasa.
“Tempatnya unik karena tidak seperti kolam renang biasa. Mandi di tengah sawah dengan pemandangan seperti ini jarang ada apalagi di kota. Semoga pengunjung tetap menjaga kebersihan supaya tempat ini tetap nyaman dan bisa terus dinikmati banyak orang,” katanya.
(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)