TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS - Duka masih menyelimuti hati Nuryati.
Nenek yang tinggal di Teluk Buluh, Desa Tarempa Timur, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) itu masih berusaha mengikhlaskan kepergian cucu kesayangannya, Shafawan Dhaffa Alfendra (2 tahun 8 bulan) yang meninggal dunia akibat tenggelam pada Rabu (24/6/2026).
Rumah panggung yang berdiri di atas laut itu kini terasa jauh lebih sunyi.
Tak lagi terdengar suara langkah kecil Daffa yang biasanya berlari dari satu sudut ke sudut lainnya atau tawa polos yang selalu menghidupkan suasana rumah.
Bagi Nuryati, kehilangan itu begitu berat.
Selama ini, Daffa bukan hanya cucu, tetapi juga teman bermain yang selalu menemaninya hampir setiap hari.
Setiap aktivitas sederhana yang mereka lakukan bersama kini berubah menjadi kenangan yang terus terbayang.
Mata Nuryati tampak berkaca-kaca saat TribunBatam.id menemuinya.
Dengan suara lirih, ia mencoba mengingat kembali detik-detik ketika cucunya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.
"Cucu saya yang lain bilang, 'Wan, ini Daffa.' Saya mau terjun ke laut, tapi tidak dikasih. Terus adik saya yang laki-laki turun ke bawah ambil Daffa, langsung digoncang-goncang," tutur Nuryati, Jum'at, (26/6/2026).
Keluarga masih berusaha memberikan pertolongan.
Setelah tubuh Daffa diangkat dari bawah rumah, ia segera dibawa ke RSUD Tarempa untuk mendapatkan penanganan medis.
Namun, harapan itu pupus.
Sejak pertama kali ditemukan, tubuh Daffa sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
"Dibawa ke rumah sakit hanya untuk memastikan saja. Dari awal memang sudah tidak ada reaksi apa-apa. Akhirnya dinyatakan sudah meninggal dunia," ucap Nuryati sambil menahan tangis.
Baca juga: Fakta Balita 2 Tahun Jatuh ke Laut di Anambas, Polisi Sebut Area Bermain Korban Tanpa Pengaman
Kepergian Daffa meninggalkan luka yang begitu dalam bagi dirinya.
Hingga kini, ia mengaku masih sering menangis setiap kali mengingat tingkah lucu cucunya.
Di sela perbincangan, Nuryati memperlihatkan baju kecil milik Daffa yang masih disimpannya.
Ia belum memiliki keberanian untuk menyimpan atau memindahkannya karena benda itu menjadi pengingat akan sosok cucu yang sangat disayanginya.
"Ini masih sedih. Selalu teringat tingkah-tingkah dia. Saya saja masih bawa baju Daffa," katanya.
Kenangan terakhir bersama Daffa masih tersimpan jelas dalam ingatannya.
Sebelum musibah itu terjadi, ia masih sempat memandikan cucunya, mengajaknya bermain, dan memastikan Daffa dalam keadaan baik seperti hari-hari sebelumnya.
Setelah itu, Nuryati pergi sebentar ke rumah anaknya, Ilham, untuk mengambil barang.
Menurutnya, kepergian itu tidak sampai setengah jam. Saat meninggalkan rumah, pintu sengaja tidak ditutup karena Daffa meminta agar pintu tetap terbuka.
Baca juga: Rumah Panggung di Laut Ancam Keselamatan Anak, Polisi Minta Orang Tua Awasi Maksimal
"Saya ke rumah anak ambil barang. Tak sampai setengah jam. Pintu rumah memang tidak saya tutup karena ada Daffa. Dia bilang, 'Wan jangan tutup pintu, panas'," kenangnya.
Di balik kesedihannya, Nuryati juga teringat perubahan sikap Daffa dalam tiga hari terakhir sebelum meninggal.
Biasanya, Daffa dikenal sebagai anak yang ceria, mudah tertawa, senang bermain dengan siapa saja, dan hampir tidak pernah membuat ulah.
Namun, beberapa hari sebelum kejadian, ia lebih sering menangis dan mengamuk tanpa sebab yang diketahui keluarga.
Bahkan, Daffa sempat membuang beras milik neneknya ke laut.
Meski begitu, Nuryati tidak pernah memarahinya.
Baginya, kenakalan itu adalah hal yang biasa dilakukan anak seusia Daffa.
"Hari Selasa itu dia habis-habisan mengamuk. Dia buang beras ke laut. Namanya cucu, mana mungkin Mak marah. Beras masih bisa dibeli. Tapi selama tiga hari itu dia memang sering mengamuk. Mak tak tahu kalau itu jadi tanda Daffa mau pergi," ujar Nuryati.
Perubahan lain yang masih diingatnya adalah kebiasaan Daffa yang belakangan sering meminta uang Rp2 ribu.
Padahal, sebelumnya Daffa tidak pernah melakukan hal itu.
Meski kemampuan bicaranya belum lancar, ia selalu meminta uang dengan alasan ingin membeli jajanan.
"Belakangan ini dia selalu minta duit Rp2 ribu. Padahal sebelumnya tak pernah. Becakap pun belum lancar, tapi semua diminta duit. Katanya untuk jajan," kata Nuryati.
Kini, rumah itu memang masih berdiri di tepi laut, tetapi suasananya tidak lagi sama.
Tidak ada lagi suara Daffa memanggil "Wan".
Tak ada lagi langkah kaki kecil yang berlari menyambut neneknya, atau tingkah lucunya yang membuat seluruh keluarga tersenyum.
Bagi Nuryati, Daffa mungkin telah pergi untuk selamanya, tetapi setiap cerita, tawa, kenakalan kecil.
Hingga pakaian yang masih ia simpan akan menjadi kenangan yang tak pernah lekang oleh waktu.
Senyum cucunya itu akan selalu hidup di dalam hati seorang nenek yang begitu mencintainya. (TribunBatam.id/Ihsan Imaduddin)