Oleh: Rahmat Muhammad
Dosen Sosiologi Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - Isu dugaan aliran dana kepada sejumlah pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) beberapa waktu terakhir menjadi perbincangan luas di masyarakat.
Tidak terkecuali dalam forum akademik Kongres Nasional Sosiologi (KNS) Para Ketua Prodi se Indonesia (APSSI) di Bali tanggal 24 sampai 26 Juni 2026.
Angka yang disebut-sebut mencapai ratusan juta rupiah membuat perhatian publik semakin besar.
Media sosial dipenuhi komentar, perdebatan, bahkan saling tuding di antara berbagai pihak tapi dibalik hiruk-pikuk itu, ada pertanyaan yang lebih penting untuk direnungkan “mengapa isu ini begitu mudah mengguncang kepercayaan masyarakat?” Jawabannya sederhana, selama ini mahasiswa tidak dipandang sebagai kelompok biasa.
Dalam pandangan masyarakat, mahasiswa adalah simbol idealisme, keberanian, dan suara kritis terhadap berbagai persoalan publik.
Ketika kelompok yang selama ini dianggap sebagai penjaga nilai-nilai moral terseret dalam dugaan transaksi kepentingan, masyarakat tentu merasa terkejut dan kecewa.
Sejarah Indonesia memperlihatkan kepada kita semua bahwa mahasiswa sering berada di garis depan dalam mengawal perubahan sosial dan politik.
Dari masa ke masa, mahasiswa hadir sebagai kelompok yang berani menyuarakan kritik ketika banyak pihak memilih diam. Karena itu, masyarakat menaruh harapan yang besar kepada mereka.
Harapan itu tentunya bukan hanya tentang kemampuan intelektual, tetapi juga tentang integritas dan konsistensi dalam memperjuangkan kepentingan publik.
Dalam perspektif Sosiologi, kepercayaan merupakan salah satu fondasi utama dalam kehidupan sosial.
Kepercayaan membuat masyarakat bersedia mendukung, mendengar, dan mengikuti suatu kelompok.
Ketika masyarakat percaya kepada mahasiswa, maka suara mahasiswa memiliki pengaruh yang kuat.
Sebaliknya, ketika kepercayaan mulai berkurang, maka pengaruh tersebut juga akan melemah.
Inilah yang membuat isu dugaan dana kepada pengurus mahasiswa menjadi sangat sensitif.
Yang dipertaruhkan bukan hanya nama individu tertentu atau organisasi tertentu.
Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan publik terhadap gerakan mahasiswa secara keseluruhan.
Banyak orang kemudian mulai mempertanyakan apakah aksi demonstrasi, kritik terhadap pemerintah, atau berbagai gerakan sosial yang dilakukan mahasiswa benar-benar lahir dari kepedulian terhadap masyarakat atau justru dipengaruhi oleh kepentingan tertentu.
Pertanyaan ini mungkin terdengar agak berlebihan tapi dalam kehidupan sosial, persepsi sering kali memiliki dampak yang sama besar dengan fakta.
Ketika masyarakat mulai meragukan integritas sebuah kelompok, maka keraguan itu dapat berkembang menjadi ketidakpercayaan yang lebih luas.
Bahkan jika dugaan yang beredar belum terbukti, dampak sosialnya sudah lebih dahulu dirasakan.
Fenomena ini semakin kuat karena terjadi di era media sosial. Saat ini informasi bergerak sangat cepat.
Sebuah video singkat, tangkapan layar percakapan, atau potongan pernyataan dapat menyebar ke jutaan orang hanya dalam hitungan jam.
Sayangnya, kecepatan penyebaran informasi sering tidak diikuti oleh kecepatan verifikasi.
Akibatnya, masyarakat sering mengambil kesimpulan sebelum seluruh fakta diketahui.
Seseorang dapat dianggap bersalah sebelum proses klarifikasi selesai.
Sebuah organisasi dapat kehilangan kepercayaan publik hanya karena satu narasi yang viral.
Dalam situasi seperti ini, ruang digital sering kali menjadi arena pengadilan opini yang bekerja jauh lebih cepat daripada mekanisme pembuktian yang sebenarnya.
Meski demikian, kondisi ini tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kritik publik.
Justru sebaliknya, organisasi mahasiswa perlu melihat peristiwa ini sebagai pengingat bahwa transparansi menjadi kebutuhan yang semakin penting.
Di tengah tingginya sorotan masyarakat, setiap aktivitas organisasi harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.
Keterbukaan bukan hanya soal laporan keuangan.
Keterbukaan juga menyangkut proses pengambilan keputusan, hubungan dengan berbagai pihak, serta tujuan dari setiap kegiatan yang dilakukan.
Semakin terbuka sebuah organisasi, semakin kecil ruang bagi munculnya kecurigaan dan spekulasi.
Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu bersikap lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar.
Tidak semua hal yang viral merupakan kebenaran. Tidak semua tuduhan otomatis menjadi fakta.
Sikap kritis harus diarahkan bukan hanya kepada pihak yang dituduh, tetapi juga kepada informasi yang kita konsumsi setiap hari.
Masyarakat perlu membiasakan diri untuk menunggu penjelasan yang utuh sebelum memberikan penilaian.
Lebih jauh lagi, peristiwa ini sebenarnya menunjukkan perubahan hubungan antara mahasiswa dan masyarakat di era digital.
Dulu mahasiswa sering memperoleh legitimasi hanya karena statusnya sebagai mahasiswa. Kini situasinya berbeda.
Kepercayaan tidak lagi diberikan begitu saja. Kepercayaan harus dibangun dan dipelihara melalui tindakan yang konsisten serta dapat dipertanggungjawabkan.
Mahasiswa tetap memiliki peran penting sebagai kelompok yang mampu menyuarakan aspirasi publik.
Namun peran itu hanya akan efektif jika didukung oleh kepercayaan masyarakat.
Tanpa kepercayaan, kritik akan dianggap sekadar kepentingan.
Tanpa kepercayaan, gerakan sosial akan kehilangan daya pengaruhnya.
Pelajaran terbesar dari polemik yang sedang ramai dibicarakan ini bukan semata-mata tentang uang atau dugaan transaksi politik.
Pelajaran yang lebih penting adalah tentang betapa berharganya kepercayaan dalam kehidupan sosial.
Kepercayaan membutuhkan waktu lama untuk dibangun, tetapi dapat runtuh hanya dalam sekejap.
Pada akhirnya, yang sedang diuji bukan hanya individu atau organisasi tertentu.
Yang sedang diuji adalah kemampuan gerakan mahasiswa untuk mempertahankan identitas moral yang selama ini menjadi sumber kekuatannya.
Sebab di mata masyarakat, mahasiswa bukan sekadar kelompok terdidik.
Mereka adalah simbol harapan bahwa kritik masih dapat disampaikan secara jujur dan perubahan masih dapat diperjuangkan tanpa harus diperjualbelikan.
Semoga kepercayaan masyarakat terhadap perjuangan dan idealisme Mahasiswa Indonesia tetap terjaga sebagaimana harapan anggota Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI) terwujud.(*)