Cetak Biru Sepakbola
Abdul Azis Alimuddin June 27, 2026 12:07 AM

Oleh: Muh. Zulkifli Mochtar
Diaspora Indonesia di Tokyo, Ketua ICMI Jepang

TRIBUN-TIMUR.COM - Saya merampungkan tulisan ini saat pertandingan sepakbola World Cup 2026 antara Jepang dan Swedia baru saja kelar.

Tim asuhan Hajime Moriyasu hanya mendapatkan satu poin seri. Tapi sudah cukup untuk menuju babak berikutnya.

Banyak media internasional sepakat bahwa Jepang bukan lagi tim kelas dua.

Ranking FIFA terus menapak sedikit demi sedikit hingga posisi 17 dunia saat ini.

Sudah melampaui negara negara tradisi panjang sepakbola semisal Uruguay, Paraguay atau Denmark.

Titik kebangkitan ketika Jepang melakukan reformasi besar - liga sepakbola Jepang J. Leaque tahun 1993 resmi didirikan menggantikan Liga Soccer Jepang yang semi professional.

Sejak itu liga bergerak profesional. Terdiri dari tiga divisi utama J1-J2-J3. Standar makin tinggi, juga makin menarik.

Banyak pemain hebat dunia berdatangan membuat stadiun mulai dipenuhi penonton Pemain hebat Jepang yang berkarir di Eropa berlahiran, semisal Hidetoshi Nakata dan Shunsuke Nakamura. Jepang pun juara piala Asia tahun 1992.

Beberapa tahun kemudian lolos pertama kali Piala Dunia tahun 1998 di Perancis.

Setelah itu hingga kini - tiada lagi perhelatan Piala dunia tanpa tim ‘samurai blue’Jepang.

Pemain pemain mereka pun jadi incaran klub klub luar negeri.

Banyak hal bisa kita pelajari dari reformasi sepakbola Jepang. Satu nilai penting yakni urgensi sebuah proses. Road of Map menuju tujuan - sangat jelas dan kongkrit.

Banyak analis menilai salah satu faktor pendukung kebangkitan sepakbola Jepang - juga adalah extra kurikuler di sekolah yang dikenal sebagai ‘bukatsu’.

Dilakukan sangat teratur dan terkoordinasi. Bukatsu sepakbola, bisbol dan lain lain tidak hanya melatih fisik sekedar, tapi juga bentuk penggemblengan sikap, kerja keras, kedisiplinan tinggi, fighting spirit, juga self-sacrifice. Semuanya dibina.

Para siswa distimulasi bergabung dalam kegiatan sesuai bakat, minat dan kemampuannya. Siswa juga dididik mengembangkan kepribadian dan leadership.

Lalu selalu ada event kompetisi antar sekolah. Selain itu, kompetisi antara sekolah terlaksana reguler, rapi dan teratur.

Sering disiarkan oleh media televisi. Menjadi ajang pencarian bintang bintang baru. Banyak lepasan lepasan klub bukatsu sekolah menjadi pemain handal Jepang kini.

Satu hal jelas, keberhasilan mereka adalah buah dari rancangan jangka panjang membangun kekuatan dari usia dini di sekolah, hingga target besar menjadi juara dunia di tahun 2050.

Cetak biru jangka panjang sepakbola mereka sangat jelas. Juga berhasil mengubah sepakbola Jepang dari sekedar hobby - menjadi industri dan bagian dari pembentukan nation branding.

Sepakbola Indonesia juga dianggap sedang menapak maju. Saatnya menata proses.

Sukses susah ditebak: full of up and down. Tapi bisa coba diwujudkan dengan proses perencanaan matang dan road map jelas.

Lalu melakukan dengan sungguh sungguh dan berlanjut. Mari belajar ke tim Samurai Blue untuk ini !

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.